atas

Uniknya Dakon Pura Pakualaman

Selasa, 04 Des 2018 | 22:31:17 WIB, Dilihat 93 Kali - Oleh W Asmani

SHARE


Uniknya Dakon Pura Pakualaman Pertandingan dakon antara KGBRAy Paku Alam X dengan Ela. (w asmani/koranbernas.id)

Baca Juga : Ada yang Diam, Sibuk Ganggu Temannya


KORANBERNAS.ID – Suasana Jalan Kapas Yogyakarta Sabtu (24/11/2018) pagi tampak meriah. Begitu tikar terhampar di permukaan aspal, spontan ratusan bocah langsung berebut mendudukinya.

Masing-masing duduk berhadap-hadapan. Persis di depan mereka terdapat dakon siap dimainkan. Begitu permainan dimulai, anak-anak itu pun bergembira. Wajahnya terlihat ceria.

Ini bukan sembarang permainan dakon mengingat Gusti Kanjeng Bendara Raden Ayu (GKBRAy) Paku Alam X bersama Wakil Walikota Yogyakarta Heroe Poerwadi pun ikut beragabung bermain dakon bersama anak-anak.

Event Dakon ning Ratan dan Festival Dolanan Tradisional Nusantara tersebut diselenggarakan dalam rangka Hari Anak Sedunia dan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-33 TK Negeri 2 Yogyakarta. Tidak kurang 500 anak anak TK dan PAUD se-DIY ikut ambil bagian.

Ketua Panitia Festival Dolanan Anak Tradisional, Muhammad Miftahuddin, mengatakan di era digital sekarang ini permainan modern berkembang dan memasuki ke sendi-sendi kehidupan. Hal itu berdampak mulai pudarnya permainan tradisional.

"Untuk mengembalikan permainan tradisional, kami menyelenggarakan Festival Permainan Tradisional ini," kata Miftah, panggilan akrabnya, seraya berharap permainan tradisional bisa bernafas kembali.

Wakil Walikota Yogyakarta Heroe Poerwadi mengatakan permainan dakon mengandung pelajaran mengenai pentingnya mengatur strategi.

Seorang pemain dakon apabila salah mengambil kecik maka dijamin tidak akan memperoleh untung. “Jika kita salah ambil (kecik) maka kita tidak untung. Untuk itu, kita harus pandai menghitung langkah," ujarnya.

Menurut dia, filosofi di balik permainan dakon perlu diajarkan kepada anak-anak. “Yang paling penting adalah mengajarkan filosofi. Permainan adalah praktik dari filosofi tersebut,” ungkap Heroe.

Sedangkan GKBRAy Paku Alam X menuturkan permainan tradisional berguna untuk memupuk karakter anak menjadi seorang yang tangguh dan bertanggung jawab.

"Saya menyambut gembira upaya TK Negeri 2 Yogyakarta menyelenggarakan Festival Permainan Tradisional Nusantara ini," ujarnya.

Semua pihak harus ikut bertanggung jawab atas tergusurnya keberadaan dolanan anak. Sebab pada prinsipnya dolanan tradisional mampu menstimulasi enam aspek yaitu kognitif, emosi, sosial, motorik, bahasa dan karakter.

"Enam aspek tersebut mampu memicu kemampuan berpikir, berempati, kerja sama serta berbudi pekerti yang baik," ungkap dia.

Geovani suit dengan Wakil Walikota Yogyakarta, Heroe Poerwadi, sebelum tanding dakon. (w asmani/koranbernas.id)

Dakon Pakualaman

Dakon sebagai salah satu dolanan tradisional anak-anak tempo dulu dan legendaris itu kini mulai diperkenalkan lagi kepada anak-anak generasi gadget. Orang dewasa pun bisa memainkan dakon sebagai sarana rekreasi dan kreasi.

Sejarah dakon rupanya tidak lepas dari Pura Pakualaman Yogyakarta. Konon, putra putri keraton zaman dahulu menekuni permainan tersebut. Hal ini bisa dibuktikan dengan keberadaan koleksi dakon milik Pura Pakualaman.

Sepintas, dakon kuno itu terlihat unik dan khas. Dakon berwarna kelam berhias kepala naga itu diizinkan dibawa keluar Pura, guna memeriahkan acara Dakon ning Ratan dan Festival Permainan Tradisional Anak Nusantara.

Koleksi dakon milik Pura Pakualam Yogyakarta. (w asmani/koranbernas.id)

Pura Pakualam meminjami empat koleksi dakon kepada panitia Dakon ning Ratan, guna memeriahkan acara tersebut.

KGBRAy Paku Alam X pun bertanding dakon dengan Gabriela Ata Pramita (Ela) siswi TK Bopkri Gondolayu Yogyakarta.

Sebelum dimulai, kedua pemain tersebut suit terlebih dahulu untuk menentukan siapa yang mengawali permainan. Ela pun menang sehingga dialah yang memulai permainan.

Kepada wartawan KGBRAy Paku Alam X mengaku lupa dengan pola permainan dakon. "Saya terakhir main dakon saat masih kecil. Makanya sekarang saya agak lupa," terangnya.

Saat permainan dinyatakan selesai, pertandingan dakon antara Ela dengan KGBRAy Paku Alam X tidak ada yang menang dan tidak ada yang kalah alias draw.

Di sebelah KGBRAy Paku Alam X, duduk Wakil  Walikota Yogyakarta Heroe Poerwadi melawan Geovani Aditya Saputra, siswa TK Bopkri Gondolayu Yogyakarta.

Sebelum permainan dimulai keduanya juga melakukan suit yang dimenangkan Geovani. Maka Geovani memulai permainan dakon tersebut.

Santai tapi serius. Itu yang terlihat di kedua wajah pasangan tersebut. Kepada Koran Bernas, Heroe mengaku sering bermain dakon, sehingga masih ingat betul pola permainannya.

"Sejak SD saya biasa main dakon, bahkan ketika duduk di bangku SMP dan SMA saya masih sering main dakon," ujar dia.

Dalam kesempatan itu Heroe memenangkan pertandingan. Walaupun kalah dari Wakil Walikota Yogyakarta, Aditya tetap semangat. Dia jabat tangan Heroe kemudian foto bersama. (sol)

Artikel ini juga dimuat di Koran Bernas versi cetak edisi 30 November 2018.



Selasa, 04 Des 2018, 22:31:17 WIB Oleh : Muhammad Zukhronnee Ms 767 View
Ada yang Diam, Sibuk Ganggu Temannya
Selasa, 04 Des 2018, 22:31:17 WIB Oleh : Sholihul Hadi 88 View
Tanah Gunungkidul Sulit Ditembus Bor
Selasa, 04 Des 2018, 22:31:17 WIB Oleh : Masal Gurusinga 61 View
Kami Hanya Bisa Bantu dengan Lagu..

Tuliskan Komentar