atas

Tiga Guru Besar Baca Puisi di Sastra Bulan Purnama

Sabtu, 13 Apr 2019 | 23:18:46 WIB, Dilihat 373 Kali - Oleh Arie Giyarto

SHARE


Tiga Guru Besar Baca Puisi di Sastra Bulan Purnama Novi Indrastuti. (istimewa)

Baca Juga : Gubuk Reyot Milik Janda Tua Terpaksa Dibongkar


KORANBERNAS.ID -- Sastra Bulan Purnama edisi 91 yang diselenggarakan Selasa (23/4/2019) malam di Tembi Rumah Budaya Jalan Parangtritis Km 8,5 Sewon Bantul, akan diisi peluncuran buku puisi fotografi karya Novi Indrastuti dan Harno Depe berjudul Tapak Jejak Peradaban.

Kolaborasi puisi dan fotografi sudah beberapa kali dilakukan Novi dan Harno. Keduanya seperti tidak mau memisahkan antara puisi dan fotografi.

Bagi mereka, fotografi mempunyai suasana puitis dan puisi mengandung visual fotografis. Novi Indrastuti sehari-harinya sebagai pengajar di Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya UGM sedangkan Harno Dwi Pranowo Guru Besar UGM dan mengajar di Fakultas MIPA universitas itu.

Pada peluncuran antologi puisi ini dijadwalkan tampil tiga guru besar. Selain Harno Dwi Pranowo, ada Guru Besar UGM Prof Dr Budi Wignyosoekarto dan Guru Besar Unesa, Semarang Prof Dr RM  Teguh Supriyanto.

Harno Dwi Pranowo. (istimewa)

Dr Novi Indrastuti sebagai penyair tampil di awal sebelum para guru besar membacakan puisi karyanya. Pembaca puisi lainnya adalah Armansyah Prasakti S Not MH seorang notaris. Dari ISI Yogyakarta tampil Prima Dona Hapsari SPd MHum, kemudian seorang pegiat museum RM Donny Surya Megananda membacakan puisi karya Novi Indrastuti.

Selain dibacakan oleh tiga guru besar, puisi karya Novi Indrastuti dibacakan oleh pembaca yang memiliki profesi berbeda.

Beberapa puisi Novi digarap menjadi lagu oleh Nyoto Yoyok dan Ana Ratri. Keduanya sudah sering pentas lagu puisi, tidak hanya di Sastra Bulan Purnama tetapi di tempat-tempat lain, termasuk di luar kota.

Nyoto Yoyok dan Ana Ratri. (istimewa)

Bagi Yoyok dan Ana Ratri, puisi tidak hanya dibacakan, tetapi bisa diolah menjadi lagu tetapi nuansa puisinya tidak hilang.

‘Setiap mengolah puisi menjadi lagu, saya berusaha menjaga agar puisinya tetap kental, lagunya tidak jatuh menjadi sejenis lagu pop,” ujar Nyoto Yoyok.

Koordinator Sastra Bulan Purnama, Ons Untoro, mengatakan Novi dan Harno memiliki kepekaan menangkap momentum puitis.

Hanya saja keduanya berbeda dalam merespons. Harno menangkap momentum melalui kamera dan Novi menuliskannya dalam bentuk puisi.

Sebelumnya, Harno dan Novi menerbitkan buku sejenis di tahun 2018 berjudul Kepundan Kasih. Dalam buku puisi-fotografi ini, Harno menyajikan foto-foto yang obyeknya diambil di berbagai kota.

“Setiap kali saya pergi memang tidak lupa membawa foto.Setiap momentum selalu akan saya bidik dari lensa kamera,” ujar Harno.

Ons Untoro menjelaskan, Sastra Bulan Purnama yang sudah berjalan lebih dari tujuh tahun selama ini memang mengutamakan peluncuran buku puisi. (sol)



Sabtu, 13 Apr 2019, 23:18:46 WIB Oleh : Redaktur 235 View
Gubuk Reyot Milik Janda Tua Terpaksa Dibongkar
Sabtu, 13 Apr 2019, 23:18:46 WIB Oleh : Sholihul Hadi 305 View
Direktur Rumah Sakit pun Donorkan Darahnya
Sabtu, 13 Apr 2019, 23:18:46 WIB Oleh : Nanang WH 458 View
Demi Hobi Karaoke Gadaikan Mobil Tetangga

Tuliskan Komentar