atas1

Tidak Hanya Nguri-uri Tapi Nguripi Wayang

Senin, 17 Jun 2019 | 16:35:26 WIB, Dilihat 289 Kali - Oleh Yvesta Putu Sastrosoendjojo

SHARE


Tidak Hanya Nguri-uri Tapi Nguripi Wayang Salah seorang dalang cilik tampil dalam Festival Wayang Dalang Cilik untuk Siswa SD/SMP Tingkat Nasional di Pendopo FBS UNY, Senin (17/6/2019) pagi. (yvesta putu sastrosoendjojo/koranbernas.id)

Baca Juga : Wah Zonasi Membuat Siswa Gigit Jari


KORANBERNAS.ID -- Wajah Alif Rizki Ramadan terlihat tegang saat menuju ke panggung Festival Wayang Dalang Cilik untuk Siswa SD/SMP Tingkat Nasional di Pendopo Fakultas Bahasa dan Sastra (FBS) UNY, Senin (17/6/2019) pagi. Mengenakan beskap hitam lengkap dengan blangkon dan keris, wajah dalang cilik asal Surakarta, Jawa Tengah itu seketika berubah saat mulai mendalang.

Dengan piawai, siswa salah satu Sekolah Dasar (SD) di Surakarta itu memainkan tokoh-tokoh pewayangan. Meski kadang intonasi suaranya tidak terdengar jelas, dia tetap semangat mendalang selama kurang lebih 40 menit sampai lampu peringatan merah menyala tanda untuk berhenti dihadapan Rektor UNY, Prof Sutrisno Wibawa, para dosen dan tamu yang hadir.

Alif merupakan satu dari 35 siswa SD dan SMP dari berbagai daerah yang antusias mengikuti festival yang digelar tahunan ini. Dihadapan juri-juri yang mumpuni seperti Prof Suminto A Sayuti dari UNY, Blasius Subono dari ISI Surakarta dan lainnya, anak-anak dari Yogyakarta, Wononigiri, Surakarta, Tulungagung, Sukoharjo, Banjarnegara, Klaten, Wonosobo, hingga Surabaya tersebut dengan semangat tinggi belajar untuk Nguri-uri (melestarikan-red) dan Ngurip-uripi (menghidupi-red) tradisi dan budaya lokal Indonesia, yakni wayang kulit untuk tetap eksis di jaman modern ini.

"Antusias anak-anak untuk ikut festival dalang cilik ini luar biasa. Setiap tahun selalu ada peningkatan peserta meski kami harus membatasi 35 anak per tahunnya," papar Ketua Panitia Festival Dalang Cilik 2019, Sukisno MSn disela acara.

Dicontohkan Sukisno, meski baru dibuka seminggu, pendaftaran festival dalang cilik tahun ini sudah memenuhi kuota jumlah peserta. Mereka dengan persiapan yang matang ikut festival selama seminggu kedepan hingga 21 Juni 2019.

Sukisno opitmis wayang kulit akan terus lestari dan hidup dengan adanya regenerasi dan anak-anak muda yang peduli pada wayang kulit sebagai salah satu tradisi dan kesenian tradisional Indonesia. Dengan gaya, fisik wayang, gending hingga dialek yang berbeda, keberagaman kesenian itu akan terus bertumbuh kedepannya.

"Anak-anak ini menampilkan wayang kulit yang harusnya berjalan semalam suntuk diringkas hingga menjadi sekitar empat puluh menit melalui intisari ceritanya. Ini luar biasa dan perlu diapresiasi," tandasnya.

Regenerasi dalang, lanjut Sukisno sangat penting dilakukan oleh semua stakeholder, termasuk perguruan tinggi. Selain menggelar festival, kampus seperti UNY mencoba terus mengenalkan wayang kulit ke masyarakat melalui kegiatan kemahasiswaan seperti Kuliah Kerja Nyata (KKN) dan lainnya.

"Mahasiswa fbs diterjunkan untuk ikut mengenalkan wayang pada anak-anak saat mereka ikut kkn," imbuhnya.(yve)



Minggu, 16 Jun 2019, 16:35:26 WIB Oleh : Muhammad Zukhronnee Ms 827 View
Wah Zonasi Membuat Siswa Gigit Jari
Sabtu, 15 Jun 2019, 16:35:26 WIB Oleh : Muhammad Zukhronnee Ms 318 View
Rp 25 juta untuk Pemilik Bangunan Cagar Budaya
Sabtu, 15 Jun 2019, 16:35:26 WIB Oleh : Sari Wijaya 358 View
Dari Tukang Sapu hingga Rektor Berbaur di Kampus Ini

Tuliskan Komentar