TNI-stipram

Terinspirasi Pesantren, Seorang Kristen Dirikan Padepokan Ternama

Jumat, 19 Okt 2018 | 00:06:33 WIB, Dilihat 956 Kali - Oleh Muhammad Zukhronnee Ms

SHARE


Terinspirasi Pesantren, Seorang Kristen Dirikan Padepokan Ternama Tarian Gema Nusantara, karya seniman Bagong Kussudiardja yang pertama ditampilkan pada tahun 1985 ini ditampilkan juga saat pembukaan Gugus Bagong di Padepokan Seni Bagong Kussudiardja, Kamis (18/10/2018). (muhammad zukhronnee ms/koranbernas.id)

Baca Juga : Jamu Driver, Citarasa Internasional Rasa Lokal


KORANBERNAS.ID - Tempat ini didirikan 1978, diawali saat Bagong Kussudiardja mendapat peran sebagai seorang kyai dalam sebuah film Al Kautsar pada 1976. Dalam film yang ditulis oleh Asrul Sani dan disutradarai Chaerul Umam, ini Bagong Kussudiardja harus hidup beberapa minggu di sebuah pesantren di Pabelan, Jawa Tengah karena berperan sebagai kyai.

“Itu satu momentum penting yang hari ini ternyata menjadi sangat ganjil, seorang kristen memerankan seorang kyai di sebuah film fiksi. Padahal saat itu bagong sangat menghayati kehidupan di pesantren, kumpul bersama santri, kyai dan ustad-ustad menikmati solidaritas sesama manusia,” papar putra kedua Bagong Kussudiardja, Butet Kertaradjasa dalam pembukaan Gugus Bagong di Padepokan Seni Bagong Kusudiardja (PSBK), Kamis (18/10/2018).

Dari pengalaman itulah, menurut Butet, Bagong mendapat ide mendirikan semacam pondok pesantren, bukan untuk belajar agama, tapi belajar seni. Tempat yang dulunya bekas galian perajin batu bata, dengan kontur tanah yang tinggi rendah, tempat yang tidak pernah disentuh masyarakat, bahkan dihindari.

Padahal seperti diketahui, Bagong bukan seorang muslim. Namun berkat kebersamaannya dengan banyak kyai serta pengalam hidup ditengah pesantren, dia akhirnya membangun padepokan yang sekarang kita kenal sebagai PSBK.

Melalui seni yang diajarkan Bagong kepada para cantrik/mentrik di padepokan, seniman itu ingin menunjukkan indahnya nilai-nilai kemanusiaan di seluruh Indonesia dengan toleransi. Bagong berpendapat, seni sebagai alat, bukan tujuan untuk mengabdi pada kemanusiaan.

“Bagong meyakini jalan kebudayaan sebagai pembelaan kita kepada kemanusiaan itu bukanlah omong kosong dan menjadi bukti indonesia saat ini,” tandasnya.

Butet menambahkan, selain kemanusiaan, Bagong juga dikenal sebagai duta kesenian. Pada tahun 50-an, Bagong menjadi salah seorang dari banyak seniman berbagai daerah yang dipilih oleh Presiden Soekarno menyokong diplomasi politik. Apalagi pada tahun 50-an, Indonesia belum terlalu dikenal dunia.

Hal itu dinilai sebagai langkah yang cerdik dan cerdas karena menjadikan kekuatan seni dan kebudayaan sebagai bagian dari diplomasi politik dalam rangka meyakinkan pada banyak negara tentang keberadaan Indonesia.

Diplomasi itu membuat Bagong bertemu dan berinteraksi dengan banyak seniman berbagai daerah. Bagong yang dasarnya adalah seorang penari Jawa klasik akhirnya membuka diri terhadap kesenian luar Jawa tanpa terjebak pada fanatisme lokal sehingga membuat karya-karya Bagong sangat kaya kreasinya.

“Dua hal ini perlu saya ingatkan, apalagi kita melihat indonesia mutakhir ini yang akhir-akhir ini agak gimana gitu?,” lanjut Butet.

Kepala Badan Ekonomi Kreatif, Triawan Munaf didampingi Butet Kertaradjasa mengunjungi Pameran Arsip Bagong Kussudiardja sesaat setelah meresmikan Gugus Bagong di PSBK, Kamis (18/10/2018). (muhammad zukhronnee ms/koranbernas.id)

Terkait penyelenggaraan Gugus Bagong, kegiatan itu diselenggarakan dalam rangkaian peringatan 90 tahun Bagong Kussudiardja, 50 tahun Pusat Latihan Tari Bagong Kussudiardja (PLTBK) dan 40 tahun PSBK. Gugus Bagong adalah sebuah acara yang menandai padepokan seni Bagong Kussudiardja ini tidak pernah mandheg.

Terbukti sudah 40 tahun mengabdi kepada masyarakat sebagai lembaga pendidikan non formal dengan prinsip praktis dan kekeluargaan yang selalu menjadi rujukan kepada siapa saja yang ingin memacu kreativitas dirinya melalui seni.

Dalam acara itu dipentaskan tarian Gema Nusantara, karya Bagong yang pertama kali dipentaskan pada tahun 1985. Tarian ini secara nyata mengekspresikan ramuan kuat budaya Nusantara yang dengan keragamannya dapat merajut kebersamaan dan menyulam keindahan dalam kebersamaan.

Tarian ini merupakan ekspresi sekaligus refleksi dari arti gelora kreativitas seni dan berkesenian yang tetap berjatidiri semangat kebangsaan dan keragaman. Gugus Bagong yang berlangsung 18-20 Oktober 2018 menampilkan gelar seni tidak hanya karya cantrik/mentrik asal Indonesia, tetapi juga Singapura dan Filipina.

Kepala Badan Ekonomi Kreatif (bekraf), Triawan Munaf mengakui tarian Gema Nusantara ini semakin relevan dengan kondisi bangsa saat ini. Tarian tersebut memperlihatkan akulturasi kesenian dari berbagai daerah dalam satu komposisi yang indah.

Triawan juga menyinggung kejadian intoleran yang terjadi menimpa kegiatan budaya di Banyuwangi dan Pantai Bantul Yogyakarta beberapa waktu lalu.

“Memang berat melawan intoleran karena mereka justru semakin melawan dengan kekerasan dan nekad, tetapi dengan karya kebudayaan, keindahan, kecantikan dan estetika, pasti kita bisa,” ujar Triawan optimis.

Dia berharap dengan mengembalikan spirit almarhum Bagong bisa menguatkan pribadi masyarakat agar menjadi cantrik/mentrik yang membawa spirit almarhum Bagong. (yve)



Kamis, 18 Okt 2018, 00:06:33 WIB Oleh : Yvesta Putu Sastrosoendjojo 101 View
Jamu Driver, Citarasa Internasional Rasa Lokal
Sabtu, 13 Okt 2018, 00:06:33 WIB Oleh : Sholihul Hadi 263 View
Nella Kharisma Meriahkan Pengundian Tabungan Sutera Bank BPD DIY
Kamis, 11 Okt 2018, 00:06:33 WIB Oleh : Sholihul Hadi 185 View
Ada Lomba Dangdut di Ajang Peksiminas

Tuliskan Komentar