atas1

Teater Alam Garap Karya Pemenang Pulitzer

Minggu, 14 Jul 2019 | 13:13:52 WIB, Dilihat 132 Kali - Oleh Muhammad Zukhronnee Ms

SHARE


Teater Alam Garap Karya Pemenang Pulitzer Sebagian pemeran, penyelenggara dan pendukung pertunjukan Teater Musikal Pusaran saat temu media di Gedung Dekanat ISI Yogyakarta, Jumat (12/7/2019). (muhammad zukhronnee ms/koranbernas.id)

Baca Juga : GKR Hemas Ingin Kelembagaan DPD RI Kuat


KORANBERNAS.ID -- Selarik sejarah teater modern bakal ditorehkan di Yogyakarta. Sutradara Prof Dr Yudiaryani MA tengah mempersiapkan pementasan teater musikal pemenang penghargaan Pulitzer berjudul A Street Car Named Desire karya Tennessee Williams.

Kemudian, oleh Totok Sudarto Bachtiar lakon itu diterjemahkan sebagai Pusaran, dijadwalkan dipentaskan Senin-Selasa, (22-23/7/2010) di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta (TBY).

"Dibilang bersejarah, karena pementasan ini memang banyak keistimewaannya, salah satunya berkesempatan menyutradarai mereka merupakan keistimewaan tersendiri bagi saya," kata Prof Dr Yudiaryani MA, yang juga anggota Teater Alam angkatan akhir 80-an.

Saat temu media di Gedung Dekanat ISI Yogyakarta, Jumat (12/7/2019) dia menyatakan terdapat sejarah lain karena ini merupakan pertama kalinya Jurusan Teater Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta bersinergi dan berkolaborasi langsung dengan komunitas ataupun sanggar.

Dosen Jurusan Teater dan satu-satunya profesor teater lndonesia menambahkan, naskah Pusaran yang ditulis tahun 1947, dimainkan oleh teaterawan kampus dan teaterawan sanggar adalah sebuah keistimewaan yang lain.

Sejatinya kolaborasi seperti ini rutin dilakukan. Selama ini di kampus belajar tentang prinsip-prinsip berteater, hukum-hukum berteater serta teori-teori yang bisa mendukung satu pemahaman tentang panggung. Kemudian dari komunitas atau sanggar banyak belajar bagaimana menjiwai peran dan bagaimana berkesenian.

“Hal itu seperti kalau kita hanya berpikir tentang otak saja tetapi tidak dengan hati itu rasanya belum lengkap kita berkesenian, nah kita belajar hati dan belajar batin itu ada di komunitas atau di sanggar," tambahnya.

Dekan FSP ISI Yogyakarta Drs Siswadi M Hum, menyampaikan Pertunjukan Teater Musikal Pusaran digelar dalam rangka memperingati Lustrum ke-7 ISI Yogyakarta. Kali ini FSP ISI Yogyakarta akan berkolaborasi dengan Teater Alam.

“Suatu model pembelajaran yang baik karena terjadi sinergisme gaya produksi pertunjukan komunitas atau sanggar dengan kampus. Mahasiswa akan mengenali dunia kesenian selepas mereka kuliah, dan seniman sanggar pun akan mengenali pola pembelajaran seni di kampus," ujarnya.

Salah satu adegan saat latihan pementasan "Pusaran" oleh Teater Alam dan Mahasiswa FSP Institut Seni Indonesia. (Richa Amalia untuk koranbernas.id)

Aktor kawakan

Pimpinan produksi Pusaran, Naning Kartaatmaja dari Teater Alam menyebutkan Pusaran adalah cerminan penambahan jumlah pementasan teater modern yang berkualitas dengan naskah-naskah standar dan berskala internasional. "Pusaran" diharapkan mampu meningkatkan apresiasi penonton,” ucap dia.

Meritz Hindra, aktor kawakan yang juga anggota Teater Alam ini terlibat langsung dengan pementasan. Meritz yang memerankan tokoh utama Stanley Kowalsky pada awalnya sempat bertanya-tanya kepada sutradara.

Kira-kira tokoh sentrik Kowalsky ini terlalu muda atau terlalu tua buatnya, karena kebetulan lawan main dari teman-teman isi ini benar-benar anak muda.

"Mungkin kalau di make up supaya terlihat tua itu tidak terlalu susah tetapi jika tua di make up muda itu harus dicarikan akal gimana caranya," papar Meritz.

Tidak butuh lama untuk membangun chemistry antarpemain. Walaupun terpaut umur cukup jauh, dalam waktu kurang dari lima bulan sudah muncul chemistry-nya.

"Begitu pertunjukan dimulai kita tidak bicara lagi senior junior, tidak lagi bicara tua muda, tapi sudah berbicara seni perannya. Begitulah yang selalu saya sampaikan kepada kawan-kawan ISI yang muda-muda ini. jadi kalau ada adegan memeluk, membanting atau adegan menampar itu adalah perannya bukan personnya," terang Meritz.

Dia selalu mengingatkan untuk bicara seni peran sampai akhirnya akan menjadi pertarungan seni peran antara yang tua dan yang non-tua. Menjadi ensemble awal sebuah proses.

Di Pusaran akan terlihat adu akting antara Meritz Hindra pemeran tokoh Stanley Kowalsky dengan Fiola Alex yang memerankan tokoh sentral, Blanche DuBois.

Ada pula akting para aktor Teater Alam lain seperti Gege Hang Andika (dokter dan pembaca puisi, Daning Hudoyo (Steve), Gola Bustaman (Mitch), dan Dinar Saka (Pablo).

Para mahasiswa FSP ISI Yogyakarta juga memegang peran penting. Saat latihan terbukti mereka mampu mengimbangi akting para aktor Teater Alam.

Mereka adalah Nur Alfiyah (Stella Kowalsky), Dama Wahyu (Eunice), Ilham (penjual kue tamal), Cyndika (perawat dan pembaca puis) serta Merynda (penjual bunga).

Pada maskah ini ditampilkan konflik antara nilai-nilai lama dan baru di Amerika bagian selatan. Dunia lama dengan keanggunan dan keindahan berhadapan dengan nilai-nilai agresivitas dan materialisme serta pertumbuhan industri yang menciptakan konflik sosial.

Pusaran menjadi representasi kehidupan masyarakat Indonesia masa kini. Ada relasi yang cukup kuat dari keduanya, baik dari perkembangan ekonomi maupun dari sudut perkembangan sosial yang terbukti melalui perkembangan dan perubahan cara pikir, sikap, serta nilai-nilai kehidupan. (sol)



Minggu, 14 Jul 2019, 13:13:52 WIB Oleh : Sholihul Hadi 204 View
GKR Hemas Ingin Kelembagaan DPD RI Kuat
Minggu, 14 Jul 2019, 13:13:52 WIB Oleh : Sari Wijaya 229 View
Pesan Gus Miftah untuk Para Pemimpin, Hati-hati
Minggu, 14 Jul 2019, 13:13:52 WIB Oleh : Sholihul Hadi 6215 View
Tiga Kali Terpilih, Anggota DPD RI Ini Menolak Dicalonkan Lagi

Tuliskan Komentar