atas

Tantang Capres Angkat Anak Muda Jadi Menteri
Syafii Efendi Dorong Mahasiswa Bernyali Jadi Pemimpin

Minggu, 16 Des 2018 | 14:35:48 WIB, Dilihat 388 Kali - Oleh Sholihul Hadi

SHARE


Tantang Capres Angkat Anak Muda Jadi Menteri Syafii Efendi foto bersama tamu undangan dan panitia Seminar Nasional Healty Preneur Series Pola Hidup Sehat di Era Millenial, Minggu (16/12/2018), di Sportorium UMY. (istimewa)

Baca Juga : Aktivis Milenial Kritisi Puisi Karya Fadli Zon


KORANBERNAS.IDTrainer dan motivator muda nomor 1 Indonesia, Syafii Efendi, menantang calon presiden (capres) yang maju Pemilu Presiden (Pilpres) 2019 punya keberanian mengangkat anak-anak muda menjadi menteri.

Hal ini disampaikannya di sela-sela menjadi pembicara Seminar Nasional Healty Preneur Series Pola Hidup Sehat di Era Millenial, Minggu (16/12/2018), di Sportorium UMY.

“Saya kalau bisa ngomong ke capres masing-masing, siapa yang berani membuat kabinet muda di negeri ini?” ucap dia.

Pengusaha, penulis 8 buku best seller yang juga Ketua OIC untuk Indonesia ini mencontohkan, Menpora Malaysia berusia 27 tahun. “Punya nyali nggak presiden kita memasukkan menteri berusia 20 tahun sampai 30 tahun. Karena dunia hari ini sudah mengarah ke orang-orang di level Industri 4.0,” tandasnya.

Contoh lagi, di Amerika Serikat (AS) usia 18 tahun sudah menjadi calon gubernur. “Sedangkan anak-anak muda kita masih ngurusin pacar melulu,” tambahnya.

Dia menilai, kondisi seperti ini merupakan bentuk ketertinggalan yang sangat jauh dari peradaban dunia. Mestinya, anak-anak muda Indonesia hari ini harus berpikir besar.

Korealasi antara Revolusi Industri 4.0 dengan politik di Indonesia, menurut Syafii Efendi, anak-anak muda Indonesia perlu diedukasi agar mereka punya keberanian mengambil sikap. “Negeri ini butuh orang-orang yang punya nyali,” kata dia.

Diakui atau tidak, perkembangan teknologi 4.0 yang terhubung dengan otomatisasi akan menghantam orang-orang yang tidak mau belajar, terutama mereka yang berpegang pada mindset atau cara pandang lama.

“Orang-orang tua dulu, ukuran sukses itu PNS karena pakai seragam. Tapi adik-adik kita sekarang tidak. Harus realistis saja, nggak ada duitnya PNS itu. Anak muda perlu kita edukasi sehingga punya keberanian memimpin,” ujarnya.

Baginya, terdapat tiga jenis anak muda. Pertama, anak muda yang membicarakan keburukan orang lain. Mereka berada di level paling rendah.

Kedua, anak muda yang bicara tentang dirinya sendiri, menguatkan ego dan keakuannya. “Ini level menengah,” sebutnya.

Ketiga, anak muda yang punya narasi besar. “Dia bicara tentang kontribusi, bicara sumbangsih tentang peradaban, bicara tentang bagaimana memimpin negeri ini,” jelasnya.

Ribuan mahasiswa mengikuti Seminar Nasional Healty Preneur Series Pola Hidup Sehat di Era Millenial, di Sportorium UMY. (sholihul hadi/koranbernas.id)

Hal-hal seperti itu yang kurang ditanamkan di kalangan anak muda, sehingga level ketertarikannya ke dunia leadership dan kepemimpinan serta kewirausahaan sangat kecil.

Jika saja kemampuan anak muda level tiga ditularkan maka akan banyak lahir pemimpin baru di negeri ini. “Untuk jadi pemimpin bisnis saja tidak berani. Tamat kuliah jadi PNS, ngapain kuliah tinggi-tinggi untuk jadi PNS. Ini kan pembodohan massal dilakukan Belanda selama 3,5 abad yang ditanamkan di otak kita,” kata dia.

Mestinya, mereka yang tamat kuliah harus jadi pengusaha atau memimpin perusahaan. Demikian pula mahasiswa kesehatan bukan hanya menjadi bidan tapi kalau bisa menjadi pemilik klinik bersalin atau rumah sakit. “Kalau mindset ini yang kita punya, saya rasa negeri ini akan maju,” tambahnya.

Memang, faktor edukasi yang memadukan teori dengan praktik dirasakan sangat kurang. Inilah yang membuat anak-anak muda tidak tahu dan tidak mau menjadi pemimpin. “Yang perlu dilakukan adalah action plan, besok mau ngapain, langkah kongretnya apa,” kata dia.

Selain kurangnya edukasi, terdapat faktor yang menghambat anak muda Indonesia berkembang yakni orang tua tidak memberikan jalan dan kesempatan.

Contoh paling gampang sampai detik ini organisasi pemuda isinya ternyata tidak lagi anak-anak muda. “Tak usah sebut merek, Bapak tahu sendiri, banyak organisasi pemuda isinya bukan anak muda, karena anak muda nggak dikasih jalan, nggak boleh ngomong, nggak dapat kesempatan,” paparnya kepada wartawan.

Bagaimana pun zaman sudah berubah. Dulu orang hanya kenal satu channel televisi, TVRI, tetapi sekarang sudah bergeser ke Youtube berisi jutaan channel.

Hanya saja masalahnya, generasi milenial merupakan generasi instan yang lemah maka yang diperlukan adalah kontrol yang kuat.

Seminar kali ini diselenggarakan oleh Organisasi Kepemudaan Wimnus (Wirausaha Wuda Nusantara) se-Yogyakarta, bekerja sama dengan BEM Universitas Alma Ata serta BEM Universitas Jenderal Achmad Yani.

Disaksikan lebih dari 2.000 mahasiswa, dalam kesempatan itu dilakukan Pelantikan DPW Wirausaha Muda Nusantara (Wimnus) DIY.

Turut diundang, Pembina Wimnus Jateng, Perwakilan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) se-Yogyakarta, perwakilan Pimpinan Universitas se-Yogyakarta. (sol)



Sabtu, 15 Des 2018, 14:35:48 WIB Oleh : W Asmani 347 View
Aktivis Milenial Kritisi Puisi Karya Fadli Zon
Sabtu, 15 Des 2018, 14:35:48 WIB Oleh : Masal Gurusinga 278 View
Pedagang Pasar Gentongan Terganggu Bau Sampah
Sabtu, 15 Des 2018, 14:35:48 WIB Oleh : Dwi Suyono 347 View
Tapak Sejarah Yogyakarta Perlu Perhatian Serius

Tuliskan Komentar