tanpa-sampah-leila-rouf-usung-ecoprint-lurik Leila Rouf dan para model dalam fashion show bertajuk "Local Trunk Show Terlahir Kembali" di Lippo Mall Jogja, Sabtu (20/7/2019) lalu. (yvesta putu sastrosoendjojo/koranbernas.id)


yvesta

Tanpa Sampah, Leila Rouf Usung Ecoprint Lurik


SHARE

KORANBERNAS.ID -- Membuat beragam desain baju biasanya menyisakan sampah potongan kain. Bila disadari, sampah kain percaya hanya menumpuk dan jadi limbah.

Namun hal ini tidak berlaku bagi Leila Rouf. Alih-alih sampah, perempuan yang memiliki brand Kaylika Lurik ini mampu menghasilkan beragam desain baju tanpa menyisahkan limbah perca.


Baca Lainnya :

No trash design dari Leila ini ditampilkannya dalam fashion show bertajuk "Local Trunk Show Terlahir Kembali" di Lippo Mall Jogja, Sabtu (20/7/2019) lalu. Berkolaborasi dengan perajin ecoprint Rama Shibori dan HS Silver Kotagede Jogja, Leila menampilkan enam koleksinya.

Ecoprint yang ramah lingkungan ini dipadupadan oleh Leila dengan memanfaatkan kain perca yang terkumpul banyak di gudang. Untuk rok lurik misalnya, dia memanfaatkan limbah tenun untuk aksen biar koleksi terlihat lebih cantik, kasual, dan girly.


Baca Lainnya :

Memilih tajuk "Flamboyan", karya Leila kali ini ditampilan untuk memberi kesan glamor pada koleksinya. Kain ecoprint dibuat outer, setelan drap skirt dan atasan freesize. Untuk melengkapinya, syal ecoprint dipadupadankan dengan koleksi luriknya dengan tambahan aksesori dari HS Silver berupa anting, kalung dan gelang.

"Kali ini saya tampil dalam beberapa kategori busana, yakni kasual, pesta, dan formil," ujarnya disela acara.

Kesan kasual lebih menonjol karena di catwalk para model mengenakan sneaker. Apalagi koleksi yang berbahan baku ecoprint, memiliki cutting freesize dan miskin potongan ditonjolkan agar sepadan dengan ecoprint yang ramah lingkungan.

“Beberapa baju dibuat tanpa menyisakan sampah. Seterusnya saya ingin sekali membuat koleksi yang tidak banyak menimbulkan sampah karena lingkungan kita sudah penuh sampah. Tetapi ini proses,” jelasnya.

Leila menambahkan, ecoprint memanfaatkan dedaunan atau bunga yang tumbuh di pekarangan sebagai bahan dasar pengganti cairan kimia. Ecoprint koleksi Leila memanfaatkan daun lanang yang terbilang mulai langka.

Daun langka membuat kain akan terlihat lebih ramai daripada memakai daun jati. Teknik pewarnaan ecoprint jauh lebih ramah lingkungan.

"Meski sebenarnya, teknik ini membutuhkan waktu yang lama, tapi di sinilah letak keindahannya. Ecoprint disebut unik karena tidak bisa diulang,” ungkapnya.(yve)


TAGS:

SHARE

BERITA TERKAIT

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Tulis Komentar disini