atas1

Tanaman Parijoto Tidak Tahan Cuaca Panas

Minggu, 21 Jul 2019 | 20:55:00 WIB, Dilihat 272 Kali - Oleh Nila Jalasutra

SHARE


Tanaman Parijoto Tidak Tahan Cuaca Panas Wakil Bupati Sleman Sri Muslimatun memetik buah tanaman Parijoto di Dusun Ngijon. (istimewa)

Baca Juga : Peserta Tour de Merapi Disuguh Kuliner Lokal


KORANBERNAS.ID – Ditandai penandatanganan prasasti dan pemotongan pita, Wakil Bupati Sleman Sri Muslimatun meresmikan kelompok pelestari tanaman Parijoto di Dusun Ngijon Kecamatan Minggir Kabupaten Sleman, Minggu (21/7/2019).

Sri Muslimatun mengatakan tanaman Parijoto merupakan ikon Kabupaten Sleman dan telah diwujudkan dalam motif Batik Parijoto.

“Tanaman Parijoto yang merupakan ikon Kabupaten Sleman ini yang tidak tahan cuaca panas. Namun, di Kecamatan Minggir ini yang cenderung panas, dapat dilestarikan,” katanya.

Pemerintah Kabupaten Sleman sangat mendukung pelestarian tanaman itu dan diharapkan tidak hanya menjadi tanaman hias saja akan tetapi diolah untuk dikonsumsi dengan syarat dilakukan riset atau penelitian terlebih dahulu.

“Mudah-mudahan ini direplikasi oleh daerah-daerah lain sehingga tanaman Parijoto yang menjadi ikon Sleman bisa berkembang dan dilestarikan,” ujarnya.

Wilayah Kecamatan Minggir merupakan dataran rendah. Pelestarian tanaman Parijoto baru dikembangkan di Dusun Ngijon Desa Sendangarum.

Ketua Kelompok Pelestarian Tanaman Parijoto Sendangarum, Pariyadi, menjelaskan pelestarian tanaman Parijoto di desanya dimulai satu tahun silam.

“Kami awalnya tertarik karena menjadi ikon Sleman. Juga batik Parijoto sudah menjadi seragam yang sering dipakai anak sekolah ataupun pegawai pemerintah. Tapi kami tidak banyak mengetahui seperti apa tanamannya,” paparnya.

Pariyadi bersama kelompoknya yang memiliki latar belakang pengembang dan pembudidaya tanaman mencari bibitnya kemudian ditanam di wilayah Desa Sendangarum Kecamatan Minggir.

“Pada dasarnya Parijoto ini memang tidak tahan cuaca panas yang terlalu ekstrem. Permasalahannya hanya perlu dijaga kelembabannya. Dan untuk media tanamnya harus menyesuaikan takarannya yang seimbang," jelasnya.

Pariyadi dan kelompoknya menunggu tujuh bulan tanaman Parijoto berkembang dan mulai berbuah. Pertumbuhan buah hingga matang memakan waktu tiga bulan dan bisa dipanen berkali-kali.

Dalam kelompok tersebut terdapat sepuluh orang yang secara bersama-sama mengembangkan dan melestarikan tanaman Parijoto sekaligus berinovasi mengolah buahnya menjadi produk sirup.

“Ke depan, kami juga melakukan sosialisasi kepada kelompok kelompok lainnya agar ikut mengembangkan dan melestarikan tanaman Parijoto yang ternyata bisa ditanam di wilayah dataran rendah,” katanya.

Dalam kesempatan itu Sri Muslimatun didampingi Kepala Dinas Lingkungan Hidup Sleman, Dwianta Sudibya, menyerahkan bantuan untuk sepuluh dusun di wilayah Kecamatan Minggir dan Moyudan.

Bantuan itu berupa gerobak sampah, ember dan tong sampah. Bantuan diserahkan secara simbolis di halaman Masjid Ngijon. (sol)



Minggu, 21 Jul 2019, 20:55:00 WIB Oleh : Nila Jalasutra 157 View
Peserta Tour de Merapi Disuguh Kuliner Lokal
Minggu, 21 Jul 2019, 20:55:00 WIB Oleh : Muhammad Zukhronnee Ms 226 View
Juki Kill The DJ Sebut Ari WVLV Unik
Sabtu, 20 Jul 2019, 20:55:00 WIB Oleh : Nila Jalasutra 318 View
Rute Tour de Ambarrukmo Cukup Menantang

Tuliskan Komentar