atas

Tak Sejengkal Tanah pun Dibiarkan Nganggur

Selasa, 23 Okt 2018 | 21:24:11 WIB, Dilihat 1445 Kali - Oleh Arie Giyarto

SHARE


Tak Sejengkal Tanah pun Dibiarkan Nganggur Slamet Mulyono memanfaatkan lahan sempit perkotaan dengan aneka sayuran menggunakan botol bekas air mineral. (arie giyarto/koranbernas.id)

Baca Juga : Penyakit Ini Jarang Terekspos


KORANBERNAS.ID – Banyak orang merasa seakan-akan semua sudah berakhir ketika memasuki masa pensiun. Ya kariernya, ya power-nya yang dulu dimiliki. Apakah benar seperti itu?

"Menurut saya tidak harus seperti itu. Asalkan semua dipersiapkan sehingga pada masa pensiun tetap punya kegiatan dan kesibukan," kata Slamet Mulyono, pensiunan karyawan BKKBN Kota Yogyakarta.

Ditemui di rumahnya Patalan RT 46 RW 10 Kelurahan Prenggan Kotagede, awal pekan ini, dia mengatakan saat pensiun tahun 2012 dirinya sudah punya cadangan kegiatan sebagai instruktur senam.

Dia juga punya hobi berkebun. Meskipun diakui hari-hari awal pensiun ada rasa mak gleg juga. Terputusnya rutinitas bangun pagi, bersiap ke kantor pagi dan pulang sore hari ternyata perlu penyesuaian. Tapi itu tidak lama dan dia tidak pernah merasa menjadi orang tidak berguna.

Begitu pensiun, praktis tidak sejengkal tanah pun dibiarkan menganggur. Rumahnya jadi adhem oleh aneka tanaman. Gang kecil di permukiman padat penduduk Kotagede, di depan dan samping rumahnya, tak dibiarkan nganggur.

Dia pasang anjang-anjang untuk rambatan tanaman anggur. Saat ini ada sekitar 100 dompol anggur hijau segar bergelantungan di anjang-anjang sehingga menggemaskan bagi yang melihatnya. "Ini anggur hijau lokal. Kalau sudah matang warnanya bening dan manis rasanya," katanya menjelaskan.

Sudah lebih 10 tahun Slamet membudidayakan anggur. Secara otodidak dia belajar. Awalnya dari gethok tular. Belakangan ini dia banyak nemanfaatkan informasi dari internet.

Puluhan dompol anggur hijau bergelantungan di anjang-anjang  atas gang depan rumah Slamet Mulyono. (arie giyarto/koranbernas.id)

Menurut Slamet, kunci menanam anggur terletak pada pemangkasan. Pada usia setahun, semua daun dan ranting dipotong habis sehingga tinggal dahan utama saja.

"Memang banyak yang merasa sayang, juga mengira pohonnya mati. Padahal kalau tidak dipangkas habis anggur tak akan berbuah," jelasnya.

Pemangkasan itu harus diulang lagi sampai habis. Menurut pengamatannya, anggur akan mulai berbuah pada pemangkasan ketiga. Melihat anggur pating grandhul rasanya senang.

Tak hanya anggur. Di samping rumah ada lombok rawit dan  lombok pelangi. Ada bayam merah yang ditanam dalam botol bekas air mineral.

Di teritisan ada buncis yang kini akan diremajakan. Ada sawi serta seledri. Di belakang rumah ada tomat dengan buahnya yang merah ranum. Ada ketela pohon, kates, klengkeng, lombok,  kemangi dan lainnya.

 Sedang di dak atas rumah ada banyak pohon jeruk nipis. Lima di antaranya sudah berbuah.

Hobi berkebun ini dilakukan Slamet sejak remaja. Meski diakui apa yang dilakukan ini belum berorientasi bisnis, tetapi menjadi kesibukan yang sangat menyenangkan.

Apalagi setelah pensiun. Paling tidak hasilnya bisa untuk memenuhi kebutuhan sendiri. Juga untuk sahabat dan tetangga.

Cinta lingkungan ini ditularkan Slamet pada anak-anak. Termasuk murid TK Masjid Perak Kotagede di dekat rumahnya.

Mereka diperkenalkan cara menanam. Berkotor-kotor memasukkan media tanam dalam polybag, lalu menanam sayuran dan hasilnya dibawa pulang.

"Menanamkan rasa cinta lingkungan harus diajarkan sejak dini. Sama halnya dengan membuang sampah. Kalau tidak diajarkan sejak dini akan sulit," katanya.

Instruktur senam

Kegiatan lain yang memberi kesibukan adalah menjadi instruktur senam. Dalam seminggu dia tampil 10 kali melatih di berbagai tempat. Utamanya senam baku yang gerakan dan aturannya tidak boleh diubah.

Slamet Mulyono menjadi instruktur senam. (arie giyarto/koranbernas.id)

Di antaranya Senam Kesehatan Jasmani, Senam Jantung Sehat, Senam Lansia, Senam Diabetes, Senam Osteoporosis. Selain bermanfaat menjaga kebugaran tubuh sendiri, honornya lumayan untuk menambah uang pensiun sebagai PNS.

Awalnya Slamet tidak mau menerima. Tetapi pengundang justru "mengancam" tidak akan minta lagi Slamet untuk mengajar senam. Akhirnya diterima dan hingga kini pun tak ada tarif ditentukan.

Meski mungkin tak besar jumlahnya tetapi 10 kali dalam seminggu pasti akan bermakna. "Lebih penting lagi adalah menjalin silaturahim. Tak hanya dengan kelompok senam di Kota Yogya dan Bantul. Tapi juga sampai Maguwoharjo Sleman. Di beberapa rumah sakit, Puskesmas dan beberapa kelompok senam di berbagai permukiman," katanya.

Tanpa menjadi pelatih senam tidak mungkin Slamet punya pergaulan seluas sekarang.

Menurutnya, senam seyogianya dilakukan teratur dan terukur. Minimal tiga kali seminggu, baru akan ada dampaknya. Jadi kalau cuma sekali seminggu masih belum memberi manfaat.

Keterampilan senam datang tidak terduga. Awalnya dia sama sekali tidak tertarik senam. Hanya mengantar istri, tapi tidak ikut. Lama-lama tertarik dan Slamet ikut di berbagai pelatihan.

Slamet bukan lulusan sanggar senam. Berkat ketekunannya dia banyak menguasai nomor-nomor senam sejak usia 40 tahun dia mulai nenjadi instruktur.

Tetapi untuk senam aerobik hanya selingan saja. Karena dalam kelompok senam yang dilatihnya, sebagian usianya sudah pralansia sehingga kurang cocok dengan gerakan aerobik.

Dengan kesibukan itu, Slamet menjalani hari-hari masa tua yang menyenangkan. Hidup bersama keluarga seperti sungai mengalir.

Dia yakin semua sudah ada yang mengatur. Tinggal mengisi dengan perbuatan yang bermanfaat bagi orang lain.

Urip semeleh membuat bahagia. Selalu berpikir positif, selalu bersyukur atas nikmat Allah yang diterimanya. Sambil berusaha untuk terus mencari "bekal pulang" kelak bila janji Allah itu tiba dan itu sebuah keniscayaan. (sol)



Selasa, 23 Okt 2018, 21:24:11 WIB Oleh : Nila Jalasutra 442 View
Penyakit Ini Jarang Terekspos
Selasa, 23 Okt 2018, 21:24:11 WIB Oleh : Nila Jalasutra 323 View
Cari Agenda Kompetisi Cukup Klik Aplikasi Ini
Senin, 22 Okt 2018, 21:24:11 WIB Oleh : Sholihul Hadi 877 View
SMAN 10 Yogyakarta Miliki Konselor Kesehatan Remaja

Tuliskan Komentar