Kamis, 06 Mei 2021,


tak-sampai-satu-jam-dagangannya-ludesAntrean beli makanan buka puasa di Sukmajaya Kota Depok Jawa Barat. (arie giyarto/koranbernas.id)


Arie Giyarto
Tak Sampai Satu Jam Dagangannya Ludes

SHARE

KORANBERNAD.ID, DEPOK --  Ramadan selalu dimanfaatkan banyak orang untuk menangguk rezeki. Apalagi kalau bukan menyediakan aneka makanan untuk buka puasa. Beragam menu tidak hanya dijajakan di pinggir-pinggir jalan tetapi melalui layanan online.


Tapi satu orang ini sepertinya agak istimewa. Dagangannya langsung ludes kurang dari satu jam. Namanya Diyono. Dia menggelar dagangan di lapangan olahraga RW 31 Kelurahan Sukmajaya Kota Depok Jawa Barat.


Sebelum dia datang, calon-calon pembeli sudah banyak menunggu. Begitu mobil tiba, mereka membentuk antrean agar tertib.

Saat  pintu bagasi mobil Toyota Innova dibuka sekaligus almari pajangnya, wow, aroma gurih manis aneka makanan menyergap penciuman. Juga membaurkan udara hangat.


“Ini baru digoreng jam 16:00 langsung ditata di almari pajang,” kata Diyono, Kamis (22/4/2021) sore kepada koranbernas.id. Jadi masih panas. Rata-rata dia datang ke lapangan sekitar pukul 16:30.


Terdapat berbagai makanan taste Jawa. Di antaranya lemper, pastel, resoles, tahu isi, kue lapis cokelat, kue sus vla. Biasanya ditambah onde-onde kumbu putih. Tapi sore itu Diyono tidak membuat.


Makanan sebagian besar khas Jawa itulah yang mungkin menarik penghuni perumahan Pesona Khayangan Juanda Depok, dibanding roti atau makanan modern.

Dengan cekatan Diyono melayani pembeli, membawa makanan dengan  bungkus kantong kertas minyak putih bersih, satu-persatu pembeli meninggalkan lapangan. Disusul calon pembeli lain datang.

Harganya berkisar antara Rp 4.000 sampai Rp 6.000. Tergantung jenis makanannya. Harga yang relatif murah dibanding makanan yang lezat.

Dari lapangan olahraga, Diyono tak pernah membawa sisa makanan. Pasti ludes. Bahkan sering kurang. Banyak calon pembeli datang terlambat  tidak kebagian.

Wah pernah saya cuma dapat sus vla tiga biji. Ya sudahlah, karena memang tinggal itu,” cerita Ny Titi suatu sore. Hari itu dia datang awal, masih bisa dapat aneka makanan yang dikehendaki.

Di.lapangan olahraga warga Pesona Juanda itu tak hanya Diyono yang jualan makanan. Ada pula sate ayam Madura plus lontong. Bakso segar juga tersedia. Di antara penjual ini, Diyono yang lebih dulu ludes dagangannya.

Menurut  Titi, awalnya tidak pakai antre. Tetapi begitu Diyono datang, calon pembeli langsung berebut makanan sehingga kadang-kadang ada yang tidak kebagian. “Ya baguslah dengan antre jadi tertib,” kata Titi lagi.

Terima pesanan

Pria beraksen Jawa ini sudah lama bisnis makanan. Dirinya menerima pesanan untuk aneka acara. “Ini tadi juga mengirim takjilan ke masjid. Pesanan Bu Ida,” kata Diyono lagi.

Selain dibantu istrinya, Diyono juga punya tenaga lain. Maklum, bisnis makanan lumayan ribet untuk menyiapkan segala sesuatu.

Sekitar tiga empat tahun silam Diyono masih menjual produk makanan sekitar Rp 1.500 sampai Rp 2.000. Dijual setiap pagi di atas sepeda motor, di sebelah tukang sayur Darso di lapangan olahraga.

Lantaran tertib mengelola usahanya, Diyono mampu menabung. Kini tidak hanya dengan sepeda motor. Tapi lebih aman dengan mobil Kijang untuk melayani pembeli.

Sebuah usaha meski sederhana tetap menjanjikan asal dikelola secara benar dengan manajemen yang baik. (*)



SHARE

'

BERITA TERKAIT


Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Tulis Komentar disini