atas

Tak Sabar Bentuk LAMP, Lebih Cepat Lebih Bagus
Hildiktipari Akhirnya Dilibatkan Kembangkan Destinasi Wisata

Senin, 19 Nov 2018 | 19:56:24 WIB, Dilihat 87 Kali - Oleh Sholihul Hadi

SHARE


Tak Sabar Bentuk LAMP, Lebih Cepat Lebih Bagus Workshop Hildiktipari Sinkronisasi Pengembangan Pariwisata di Hotel Indoluxe Yogyakarta. (yvesta putu sastrosoendjojo/koranbernas.id)

Baca Juga : Sate Klatak Resmi Jadi Ikon Kuliner Bantul


KORANBERNAS.ID – DPP Himpunan Lembaga Pendidikan Tinggi Pariwisata (Hildiktipari) tidak sabar lagi segera merealisasikan pembentukan Lembaga Akreditasi Mandiri Pariwisata (LAMP). Meski  muncul pro-kontra namun keberadaan lembaga itu sangat penting.

“Ikan sepat ikan gabus, lebih cepat lebih bagus,” ungkap Suhendroyono SH MM MPar, Ketua DPP Hildiktipari, Senin (19/11/2018) di Indoluxe Hotel Yogyakarta, ketika menutup Workshop Hildiktipari Sinkronisasi Pengembangan Pariwisata.

Kegiatan yang diikuti perwakilan perguruan tinggi pariwisata dari berbagai daerah di Indonesia ini difasilitasi oleh Deputi Bidang Pengembangan Industri dan Kelembagaan Asisten Deputi Pengembangan SDM Pariwisata dan Hubungan Antarlembaga Kementerian Pariwisata (Kemenpar) RI.

Kepada wartawan, Suhendroyono yang juga Ketua Sekolah Tinggi Pariwisata Ambarrukmo (Stipram) Yogyakarta ini memaparkan selama workshop berlangsung empat hari, 17-20 November 2018, terjadi dialog sangat menarik mengingat LAMP merupakan amanah undang-undang.

Diwarnai gangguan listrik byar pet lebih kurang sembilan kali sehubungan adanya perbaikan jaringan PT PLN hingga diskusi yang berlangsung di ruang Ayodya hotel itu terhenti, prinsipnya antara Kemenpar maupun Hildiktipari sepakat membentuk Lembaga Akreditasi Pariwisata.

Pertimbangannya, hingga saat ini dari sekitar 4.000 perguruan tinggi di Indonesia, baru sekitar 50 persennya terakreditasi, disebankan BAN PT (Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi) kekurangan biaya dan tenaga.

Karena faktor itulah, pemerintah memberikan kesempatan pembentukan lembaga akreditasi mandiri.

Selama ini, keberadaan Hildiktipari menjadi satu-satunya lembaga yang digandeng dan dipercaya oleh Kemenpar dan Kemenristekdikti.

Menurut Suhendroyono, ini menunjukkan perguruan tinggi pariwisata di Indonesia saat ini kondisinya jauh lebih baik dari sebelumnya.

Ketua Hildiktipari Suhendroyono diwawancarai wartawan usai acara penutupan Workshop Hildiktipari. (yvesta putu sastrosoendjojo/koranbernas.id)

“Jujur memang, kami menangkap ada suatu peluang namun ada keraguan dan kegamangan. Kita ini negara pariwisata tetapi perguruan tinggi pariwisata belum maju seperti di luar negeri. Kita akan MoU dengan BAN PT (Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi,” kata dia.

Suhendroyono mengatakan dirinya punya obsesi, Indonesia harus memiliki universitas pariwisata. Artinya, ilmu pariwisata bukan sekadar dicangkokkan pada fakultas atau program studi. “Di China yang baru  saja mengelola potensi pariwisatanya sudah muncul universitas pariwisata,” tambahnya.

Sekarang ini, lanjut dia, pemerintah sangat kurang melibatkan perguruan tinggi pariwisata utamanya yang berkaitan dengan pengembangan destinasi.

“Pemerintah mendengungkan sepuluh destinasi wisata unggulan, nyatanya sampai detik ini kurang jelas. Contoh Raja Ampat dan Pulau Komodo, malah yang terdengar keluhan dari pengelola destinasi, kekurangan pakan komodo,” paparnya.

Hildiktipari memiliki kewajiban memberikan kontribusi bagi pembangunan pariwisata di Indonesia. Contoh kajian itu, pengembangan Raja Ampat mestinya diselesaikan secara fokus dengan skala prioritas. “Selama ini kacau,” kata dia.

Suhendroyono mengakui sekarang ini pemerintah sangat kurang melibatkan perguruan tinggi pariwisata. Kalau pun ada hanya sebatas konsep sehingga bentuk sumbangsih Hildiktipari belum terwujud secara nyata.

Mestinya konsep yang diberikan Hildiktipari diterjemahkan secara deskriptif disertai riset, penelitian serta solusi. “Kita (Hildiktipari) sebetulnya bisa dilibatkan mengelola sepuluh destinasi termasuk cara mengelola industri pariwisata secara terukur dan terencana,” paparnya. (sol)



Minggu, 18 Nov 2018, 19:56:24 WIB Oleh : Sari Wijaya 143 View
Sate Klatak Resmi Jadi Ikon Kuliner Bantul
Minggu, 18 Nov 2018, 19:56:24 WIB Oleh : Muhammad Zukhronnee Ms 894 View
Sampai Jumpa di Ngayogjazz 2019...
Minggu, 18 Nov 2018, 19:56:24 WIB Oleh : Sari Wijaya 259 View
Desa Kalipucang Rawan Bencana, Ada Bukit Berpotensi Longsor

Tuliskan Komentar