atas1

Tak Peduli Dianggap Haram, Para Mujahid Musik Jogja Gelar Konser

Jumat, 01 Feb 2019 | 12:06:21 WIB, Dilihat 5065 Kali - Oleh Muhammad Zukhronnee Ms

SHARE


Tak Peduli Dianggap Haram, Para Mujahid Musik Jogja Gelar Konser Muhammad Fuad Riyadi atau Gus Fuad, Vokalis Rofa Band yang juga Pengasuh Pondok Pesantren Roudlotul Fatihah Yogyakarta memaparkan visi Mujahid Musik saat temu media di Cengkir Heritage Resto and Coffee Jalan Sumberan II No.4, Sinduharjo, Ngaglik, Sleman, Kamis (31/1/2019). (Muhammad Zukhronnee/koranbernas.id)

Baca Juga : Sambung Pucuk, Siap Jadi Wirausaha


KORANBERNAS.ID -- Silang pendapat tentang hukum dari nyanyian atau musik sudah berlangsung sangat lama, bahkan melibatkan para ulama besar dalam sejarah.

Mengharamkan musik seolah menafikan fitrah manusia yang cenderung menyukai keindahan, baik berupa pemandangan alam, kemolekan wajah, aroma yang harum, dan tentu juga suara yang merdu dan irama yang harmonis.

Musik adalah nada atau suara yang disusun sedemikian rupa sehingga mengandung keharmonisan irama dan lagu. Musik telah lama dikenal manusia dan digunakan untuk berbagai keperluan selain hiburan, seperti pengobatan, mengobarkan semangat, bahkan menidurkan bayi.

Muhammad Fuad Riyadi, Pengasuh Pondok Pesantren Roudlotul Fatihah Yogyakarta ini menerangkan, dalam tradisi islam sejak zaman Rasulullah, sahabat hingga saat ini, musik merupakan alat utama untuk mendekatkan diri kepada tuhan. Makanya ulama klasik, para ahli tasawuf (Tasawwuf atau Sufisme adalah ilmu untuk mengetahui bagaimana cara menyucikan jiwa, menjernihan akhlaq, membangun lahir dan batin untuk memperoleh kebahagian yang abadi-red) menjadikan musik sebagai bagian dari ritual untuk mendekatkan diri kepada Tuhan.

Tak bisa lepas dari musik kala itu ada juga tarian, Tarian Sufi atau Whirling Dervish pertama kali dipertunjukkan di wilayah Anatolia Turki sejak abad ke 13. Tarian yang diciptakan oleh seorang Persia bernama Mawlana Jalaludin Rumi (Mevlana Celaleddin Rumi) merupakan seorang filsuf sekaligus penyair pada masa itu.

Konon, ketika Syamsuddin Tabriz guru spiritual Mawlana Jalaluddin Rumi meninggal dunia, ia mengalami kesedihan yang mendalam. Rumi pun menyadari bahwa manusia itu fana, kemudian mengekspresikan kesedihan tersebut dengan berputar-putar.

Muhammad Fuad Riyadi yang populer dengan panggilan Gus Fuad Plered menambahkan bahwa motivasinya bermusik salah satunya karena adanya sekte-sekte yang mengharamkan musik. Fatwa mengharam musik muncul karena pemahaman tentang agama yang hanya sepotong-sepotong. Dan hal itu tak hanya terjadi dalam Islam tetapi juga agama lain.

Berangkat dari hal itu, Gus Fuad tegas mengatakan bahwa musik itu halal, musik itu bentuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Musik bukan hanya untuk hal yang berhubungan dengan perzinaan dan mabuk-mabukan, bahkan untuk dunia politik. Bahayanya setelah mengharamkan musik, orang-orang ini akan mengharamkan orang lain selain dirinya sendiri.

"Kalau kita mau objektif, musik itu hanya lisan seperti halnya mulut, seandainya kita lepaskan dari ajaran-ajaran tasawuf dan kita kembalikan kepada syariat. maka untuk kebaikan jadi halal, tapi kalau digunakan untuk kejahatan ya haram," terang Gus Fuad saat temu media di Cengkir Heritage Resto and Coffee Jalan Sumberan II No.4, Sinduharjo, Ngaglik, Sleman, Kamis ( 31/1/2019).

Selain merupakan seorang Kiai sekaligus vokalis Rofa Band, Pria yang juga piawai melukis ini menambahkan bahwa islam sekte yang mengharamkan musik itu bukan sekte yang netral, itu merupakan produk import dari negara Timur Tengah yang sejatinya memang berkaitan dengan politik, perekonomian dan tidak netral.

"Islam nenek moyang kita ini sudah bener, gak usah diubah-ubah. Baik itu dalam ekspresi budaya jawa kejawen dan lain sebagainya itu sudah bener. kalau diubah-ubah malah bisa keliru, karena semua ulama besar dan habaib yang diakui otoritasnya tetep memainkan musik." imbuhnya.

"Miris rasanya saat ada teman musisi yang kemudian berhenti bermusik dengan alasan hijrah dalam tanda kutip, lalu membakar gitar, drum, atau apapun alat musik yang mereka pernah mainkan. mereka lupa bahwa gitar adalah ciptaan seorang ulama," papar pria yang juga vokalis grup Band yang selalu menyanyikan kecintaannya kepada Nabi Muhammad SAW.

Sementara itu, Donni Saputra eks Vokalis Seventeen dan Es Nanas menambahkan bahwa musik haram tergantung dari niatnya. "Sama seperti pisau dapur. bisa untuk memotong sayur membuat masakan yang enak, tapi jika digunakan untuk membunuh orang ya yang salah orangnya bukan pisaunya," paparnya.

"Kami ingin mengekspresikan tafsiran kami terhadap musik kepada khalayak. kami tidak pula akan menyalahkan tafsir mereka karena posisi kita sama-sama manusia, kami ingin menyampaikam bahwa musik itu gak selalu negatif. musik bisa menjadi cara untuk mendekatkan diri kita kepada Tuhan," imbuh Donni yang kini bergabung dengan Cak Nun di Kiai Kanjeng ini.

Berangkat dari keprihatinan ini, Gus Fuad bersama Rofa Band dan beberapa musisi Yogyakarta berkumpul dan menamakan diri Mujahid Musik menggelar konser. Sebut saja Doni Saputra (Kiai Kanjeng), Tomo Widayat (Additional Player Sheila on 7), Elang Nugraha, Cakka Nugraha (The Finest Tree), Dinno (Shakey), Sandi (Newdays), Fai (Fayrush), dan beberapa musisi terkenal lainnya secara spontanitas akan manggung diiringi Hostband Dexter.

Konser gratis bertajuk Menjemput Berkah di Jalan Musik digelar Senin (4/1/2019) pukul 19:30 wib di Cengkir Heritage Resto and Coffee Jalan Sumberan II No.4, Sinduharjo, Ngaglik, Sleman. Konser ini merupakan upaya kecil untuk melawan fenomena kelompok yang mengharamkan musik.

Dalam konser yang bertepatan dengan Ulang Tahun ke-2 Cengkir Heritage Resto and Coffee ini dibagi dua sesi. Pertama adalah penampilan Host Band Dexter yang akan mengiringi musisi-musisi ternama Yogyakarta seperti Erros dan Duta S07. Kemudian diteruskan dengan penampilan Rofa Band yang khas dengan Rock Sholawat siap menghibur para Legiun (sebutan untuk penggemar Rofa Band-red) hingga pukul 23:00 wib.

Heru Achwan merupakan salah satu dari pemilik Cengkir Heritage Resto and Coffee mengakui persiapan untuk menggelar konser ini hanya 10 hari, namun pihaknya sudah sangat siap menggelar konser di lokasi Resto diatas lahan desa seluas 8000 meter persegi ini.

"Harapan kami bersama dapat terus melanjutkan konser Menjemput Berkah ini ke tempat yang lebih ramai dikunjungi pada masa mendatang. sehingga pesan baik dalam tausiyah teman-teman mujahid musik bisa sampai ke lingkup yang lebih luas," papar Heru.

Resto nyaman yang baru genap berusia 2 tahun ini awalnya bermula dari obrolan takmir masjid setiap selepas sholat. Adalah Heru, Ramsey dan Didik adalah para takmir masjid yang mewujudkan Cengkir Heritage Resto and Coffee ini. Konsisten dengan menu-menu ndeso seperti Oseng Lompong, Sayur Jantung Pisang menjadi keunikan tersendiri disamping tempat parkir yang luas selalu menjadi tujuan komunitas-komunitas untuk bisa datang beramai-ramai. (yve)
 


Video Terkait:



Jumat, 01 Feb 2019, 12:06:21 WIB Oleh : Redaktur 1407 View
Sambung Pucuk, Siap Jadi Wirausaha
Jumat, 01 Feb 2019, 12:06:21 WIB Oleh : Redaktur 590 View
Mahasiswa Bisa Belajar dari Petani
Kamis, 31 Jan 2019, 12:06:21 WIB Oleh : Sari Wijaya 933 View
Siswa-siswi SMAN 2 Bantul Berikan Penampilan Terbaik

Tuliskan Komentar