atas1

Tahan Disemprot Obat Nyamuk, Warga Dibikin Merinding oleh Serbuan Ulat Bulu

Selasa, 18 Des 2018 | 16:21:23 WIB, Dilihat 3500 Kali - Oleh warjono

SHARE


Tahan Disemprot Obat Nyamuk, Warga Dibikin Merinding oleh Serbuan Ulat Bulu rumah warga yang diserbu ribuan ulat berbulu di Dusun Gowangsan, Sentolo, Kulonprogo. (istimewa)

Baca Juga : Tari Jaranan Dipilih pada Event Jogja Menari


KORANBERNAS.ID—Warga Desa Srikayangan, Kecamatan Sentolo, khususnya di Dusun Gowangsan, dibuat merinding oleh serbuan ulat bulu berwarna hitam. Secara tiba-tiba kampung mereka kedatangan ribuan ulat yang bergelantungan dan menempel di seluruh bagian rumah milik warga.

Warga mengaku tidak mengetahui darimana ulat-ulat ini berasal. Namun mereka menduga, ulat ini berasal dari kebun yang banyak ditumbuhi pohon jatii.

“Sepertinya memang ulat yang biasa ditemui di pohon jati. Tidak gatal, tapi kita jadi gelid an merinding saking banyaknya,” kata Rubiyem warga Gowangsan, Selasa (18/12/2018).

Dia mengatakan, serbuan ulat ini mulai terjadi Minggu (16/12/2018) lalu. Awalnya beberapa rumah penduduk yang kedatangan binatang ini. Namun lama kelamaan, hampir seluruh rumah warga didatangi ulat ini dalam jumlah yang sangat banyak.

Karena khawatir, warga setempat bergegas menutup semua pintu dan jendela rumah serta menambal setiap lobang angin yang ada agar tidak bisa digunakan ulat untuk merayap masuk ke dalam rumah.

“Setahu saya tidak gatal. Tapi tetap saja kami ngeri melihat ulatnya begitu banyak,” kata Rubiyem mengeluh.

Rasa ngeri Rubiyem dan warga memang beralasan. Selain jumlahnya yang sangat banyak, ulat-ulat ini anehnya tidak mati alias tahan dengan semprotan obat nyamuk.

Padahal, ulat yang terkena semprotan obat seharusnya segera mati.

“Sempat saya semprotkan dengan obat nyamuk tetapi tidak mati,” tambahnya.

Sejauh ini, warga hanya mengaku ngeri dan geli menghadapi serbuan ribuan ulat yang masuk ke kampung mereka. Warga maupun pengurus dusun, belum melaporkan kejadian ini ke tingkat desa.

Namun apabila nantinya serbuan ulat makin bertambah, bukan mustahil mereka akan melaporkan kejadian ini ke desa untuk ditindaklanjuti.

“Ya sebenarnya biasa karena memang sedang musim ulat. Tapi kali ini, jumlahnya begitu banyak sehingga memang menakutkan. Tapi saya memastikan ulat ini memang tidak berbahaya alias tidak gatal meskipun berbulu. Itu ulat yang biasa makan daun jati,” kata Kadus Gowangsan Sulardi.

Menurutnya, kemunculan ulat jenis ini biasanya tidak lama. Dalam beberapa hari ke depan, ulat-ulat tersebut akan segera menjadi kepompong dan kemudian berubah menjadi kupu.

“Wilayah sini memang banyak pohon jatinya,” ujarnya. (SM)



Selasa, 18 Des 2018, 16:21:23 WIB Oleh : warjono 1605 View
Tari Jaranan Dipilih pada Event Jogja Menari
Selasa, 18 Des 2018, 16:21:23 WIB Oleh : Sholihul Hadi 2008 View
Pelestarian Cagar Budaya Tidak Mudah
Selasa, 18 Des 2018, 16:21:23 WIB Oleh : warjono 492 View
Lebih dari 20 Tahun, Sarihusada-LOTA Salurkan Beasiswa

Tuliskan Komentar