atas1

Susahnya Atasi Persoalan Sampah di Pasar Klaten

Jumat, 09 Agu 2019 | 22:07:40 WIB, Dilihat 523 Kali - Oleh Masal Gurusinga

SHARE


Susahnya Atasi Persoalan Sampah di Pasar Klaten TPS sementara Pasar Totogan Kecamatan Ngawen di pinggir jalan alternatif Klaten-Jatinom yang dibangun secara tertutup pada 2017. (masal gurusinga/koranbernas.id)

Baca Juga : Tanpa Inovasi Koperasi Habis Ditelan Zaman


KORANBERNAS.ID -- Wilayah Kabupaten Klaten yang terdiri dari 401 desa dan kelurahan memiliki pasar tradisional cukup banyak.

Setidaknya terdapat lebih dari 80 pasar tradisional milik desa dan pemerintah daerah yang tersebar di sejumlah lokasi.

Karena jumlah pasarnya banyak dan pedagang juga banyak, persoalan yang rutin muncul adalah sampah dan kebersihan.

Persoalan inilah yang hingga kini belum mampu diatasi dengan baik. Sampah yang ada di tempat pembuangan sementara (TPS) pasar tidak seluruhnya dari para pedagang.

"Di sini (TPS Pasar Klaten) sekitar 60 persen saja sampah pedagang. Sisanya yang 40 persen dari warga di sekitar pasar. Ada juga orang naik motor membuang sampah di sini," kata Badarudin, Kepala Unit Pasar Klaten Dinas Perdagangan Koperasi dan UKM Klaten, Rabu (7/8).

Menurut dia, penanganan masalah kebersihan di Pasar Klaten selama ini dilakukan oleh petugas pasar itu sendiri. Sedangkan sampah di TPS diambil petugas Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPU PR).

Sejumlah pedagang Pasar Klaten yang sehari-hari berjualan di sekitar TPS sampah mengakui, petugas Bidang Kebersihan dan Pertamanan DPU PR rutin mengambil sampah di TPS pasar, selanjutnya dibuang ke TPA Troketon Pedan.

"Rutin diambil kok, Mas. Pakai dump truck. Hari minggu biasanya tidak diambil karena libur," ujar pedagang.

Permasalahan serupa terjadi di Pasar Srago Kelurahan Mojayan Kecamatan Klaten Tengah dan pasar lain yang TPS sampahnya berada di tempat terbuka.

Kasur bekas

Warga di sekitar pasar ternyata ikut membuang sampah di TPS pasar.

"Ada kasur bekas, bantal bekas dan lain sebagainya dibuang di situ. Barang-barang itu jelas bukan dari pedagang. Kalau sampahnya sayur-sayuran, buah yang busuk itu dari pedagang," jelas beberapa pedagang ayam di sekitar TPS Pasar Srago.

Jangankan di pasar yang TPS sampahnya berada di tempat terbuka, di TPS sampah pasar yang tertutup pun banyak sekali dijadikan warga sebagai tempat membuang sampahnya.

Pemandangan seperti ini terlihat di Pasar Totogan Kecamatan Ngawen dan Pasar Pulowatu Desa Demakijo Kecamatan Karangnongko.

Sikap warga yang membuang sampah di TPS pasar itu sering menuai protes dari para pedagang karena warga yang membuang sampah di sana tidak dibebani retribusi kebersihan.

Berbeda dengan para pedagang yang setiap kali berjualan harus membayar retribusi kebersihan dan retribusi lainnya.

Saat ini para pedagang Pasar Klaten dan Pasar Srago merasa senang dan nyaman atas kondisi TPS pasar yang bersih.

Kondisi ini jauh berbeda dengan beberapa tahun lalu saat Pemerintah Kabupaten Klaten tidak memiliki TPA (Tempat Pembuangan Akhir) sampah menyusul ditutupnya TPA Jomboran Klaten Tengah dan TPA Joho Prambanan.

Kini, sampah dari TPS-TPS baik pasar, premukiman warga, perkantoran, pabrik, pertokoan dan lain sebagainya diambil dan dibuang oleh petugas Bidang Kebersihan dan Pertamanan DPU PR ke TPA Troketon Kecamatan Pedan milik Pemkab Klaten. (sol)



Jumat, 09 Agu 2019, 22:07:40 WIB Oleh : Sari Wijaya 295 View
Tanpa Inovasi Koperasi Habis Ditelan Zaman
Jumat, 09 Agu 2019, 22:07:40 WIB Oleh : Nila Jalasutra 239 View
Jalan Sehat Kurangi Risiko Stres
Jumat, 09 Agu 2019, 22:07:40 WIB Oleh : Sholihul Hadi 266 View
ACT DIY - Pemkab Gunungkidul Kerahkan 12 Truk Tangki

Tuliskan Komentar