TNI-stipram

Sumarjiyah, Satu-satunya Penjual Tetel Pisang yang Tersisa

Selasa, 09 Okt 2018 | 17:31:16 WIB, Dilihat 2464 Kali - Oleh Arie Giyarto

SHARE


Sumarjiyah, Satu-satunya Penjual Tetel Pisang yang Tersisa Pasar Sentul Yogyakarta tak lagi menampung pedagang hingga tumpah ke jalan bahkan sampai dekat pompa bensin. (arie giyarto/koranbernas.id)

Baca Juga : Aksi Panggung Gitaris Rock Berkerudung


KORANBERNAS.ID – Pasar Sentul Kota Yogyakarta terkenal dengan kuliner khasnya. Salah satunya adalah tetel pisang. Makanan tradisional yang sudah berusia ratusan tahun itu tidak ada duanya di Yogyakarta kecuali di pasar tersebut.

"Saya generasi ketiga. Awalnya nenek saya, kemudian ibu dan sekarang saya lanjutkan," kata Sumarjiyah ketika ditemui koranbernas.id di Pasar Sentul, Senin (08/10/2018) pagi.

Jenis makanan tersebut nyaris hilang dari peredaran dan diperkirakan hanya Mbak Mar Jadah, begitu biasa dipanggil di  kalangan pedagang, tinggal satu-satunya sosok pembuat tetel pisang dan menjualnya.

Menurut wanita penduduk Potorono Banguntapan Bantul tersebut, tetel pisang dibuat dari pisang kapok kuning diutamakan yang matang pohon. "Kalau pisangnya tua dan matang, warna tetel-nya bisa kuning cantik," katanya.

Sayangnya pada musim kemarau panjang seperti sekarang sulit mencari pisang kapok kuning kualitas bagus sehingga tetel yang dijual hari itu tidak begitu menarik warnanya. Tetapi cita rasanya hampir sama.

Hari itu dia membuat tetel dari 11 sisir pisang. "Tinggal ini," kata Mbak Mar sembari menunjukkan tetel yang tinggal sedikit.

Proses pembuatannya juga menggunakan cara-cara tradisional. Setelah pisang dikukus sampai masak kemudian ditumbuk sampai halus, tanpa ada tambahan gula apalagi pengawet.

Selain tetel, dia juga menjual jadah, wajik dan ketan hitam. Kadang kala dia membuat tape ketan. Apabila bulan baik ketika musim hajatan mantu, Mbak Mar sering kebanjiran pesanan jadah wajik sebagai salah satu jenis makanan wajib untuk srah srana.

Nilai filosofinya adalah lambang kekekalan karena jadah wajik makanan lengket sebagai lambang kerukunan keluarga.

Sumarjiyah, penjual tetel pisang di Pasar Sentul. Diperkirakan dialah satu-satunya penjual tetel pisang yang tersisa di DIY. (arie giyarto/koranbernas.id)

Pasar Sentul mulai hidup sejak sekitar pukul 02:00 dinihari. Berlanjut siang di dalam pasar dan di kios. Malam harinya di halaman pasar terdapat kuliner khas yakni gudheg dan brongkos mercon sehingga tempat itu nyaris ramai sepanjang 24 jam.

Banyak orang menganggap keberadaan pasar modern menjadi ancaman keberlangsungan pasar tradisional. Namun banyak pula yang menganggap pasar tradisional mampu eksis berdampingan dengan pasar modern.

Dengan catatan pasar tradisional harus berbenah diri menjadi pasar yang bersih, aman, sehingga masyarakat merasa nyaman belanja di sana. Masing-masing pasar punya ciri khas sendiri dan upaya menjadikan pasar bersih terus dilakukan.

Di pasar modern nyaris tidak ada interaksi antara penjual dan pembeli. Barang yang tersedia lengkap dengan informasi plus harga, membuat pembeli tinggal memilih langsung barang masuk keranjang belanja.

Berbeda di pasar tradisional, ada dialog ada tawar menawar. Bahkan bagi yang sudah langganan, kadang-kadang uang kurang pun tak masalah. Ada rasa saling percaya antara penjual dan pembeli.

Selain menjual barang kebutuhan sehari-hari di antara 13 pasar tradisional di Kota Yogyakarta ada pasar-pasar dengan dagangan spesifik.

Sebut saja Pasar Satwa dan Tanaman Yogyakarta (PASTY) di Jalan Bantul. Atau Pasar Klithikan Jalan Pakuncen maupun pasar khusus ketela dan umbi-umbian di Karangkajen.

Salah satu pasar tradisional di Kota Yogyakarta namanya Pasar Sentul di Jalan Sultan Agung semakin menunjukkan eksistensinya sebagai pusat jual beli yang terus berkembang.

Dulu seluruh pedagang mampu ditampung di dalam pasar seluas 2.723 m2 bangunan di atas tanah seluas 2.816 m2. Namun sejak beberapa tahun belakangan pedagangnya tumpah.

Makin lama makin bertambah sehingga tak hanya di halaman berpagar tetapi menempati jalanan bahkan meluber sampai dekat pompa bensin di sebelah timur pasar.

Ada kesepakatan, pedagang di jalan harus bersih pukul 07:00 supaya tidak mengganggu lalu lintas. Sedang yang di halaman pukul 09:00 juga harus bersih.

Dengan melubernya pasar, jumlah pedagang tak hanya 23 kios dan 338 pedagang los tetapi tambahannya lebih dari 100 pedagang luberan.

"Ini menjadi indikasi pasar tersebut berkembang dan dibutuhkan masyarakat," kata Ny Sabar yang setiap hari belanja ke Sentul.

Pasar tersebut juga punya ciri khas sebagai pasar jagung mentah. Siang sampai sore hari, halaman pasar sisi timur menjadi sentra perdagangan jagung.

Pembelinya tak hanya pedagang jagung bakar terutama di Alun-alun Utara tetapi juga pedagang yang kemudian menjualnya ke pedagang di berbagai kawasan. (sol)



Selasa, 09 Okt 2018, 17:31:16 WIB Oleh : Sholihul Hadi 272 View
Aksi Panggung Gitaris Rock Berkerudung
Selasa, 09 Okt 2018, 17:31:16 WIB Oleh : Sholihul Hadi 182 View
Donatur Berlomba Bantu Muslim United
Selasa, 09 Okt 2018, 17:31:16 WIB Oleh : Masal Gurusinga 1479 View
Miris, Banyak Usaha Penggilingan Padi Tutup

Tuliskan Komentar