TNI-stipram

Stop Gunakan Sedotan Plastik

Sabtu, 03 Nov 2018 | 22:06:11 WIB, Dilihat 191 Kali - Oleh Muhammad Zukhronnee Ms

SHARE


Stop Gunakan Sedotan Plastik Amarullah Rosadi dan Hendra Yuniarto mengenalkan gelas minum KFC Indonesia yang tidak lagi menggunakan sedotan, sebagai wujud dari gerakan #NoStrawMovement, Sabtu (3/11/2018) di KFC BDNI Sudirman Yogyakarta. (Muhammad Zukhronnee Ms/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID -- Mungkin tak terpikirkan menggunakan sedotan plastik sekali pakai bisa berdampak buruk. Namun ternyata meski hanya berukuran panjang 10 cm, perlu 500 tahun lamanya agar sampah sedotan plastik dapat terurai secara alami.
Sebab sedotan sekali pakai umumnya berbahan plastik tipe polypropylene, tidak terdegradasi secara alami. Bahkan setiap tahunnya sekitar sepertiga biota laut termasuk terumbu karang, dan bahkan burung laut mati karena sampah plastik.
Sedotan plastik terbawa sungai dan bermuara dilaut seiring waktu akan berubah ukuran hingga kurang dari lima milimeter. Bentuk sampah ini disebut sebagai mikro plastik dan memiliki tingkat bahaya yang berlipat ganda, mikro plastik ini kemudian dimakan oleh biota laut termasuk ikan-ikan.

"Ikan-ikan tersebut sebagian kita konsumsi, nah waktu kita makan itu berarti kita juga ikut memakan mikro plastik yang ada di ikan tersebut akan terjadi akumulasi terus menerus, bahan pembuat plastik yang dari minyak bumi itu tentu membahayakan kesehatan kita", papar Amarullah Rosadi, Outreach Specialist Divers Clean Action (DCA), Komunitas pemuda Indonesia yang fokus pada masalah sampah laut dalam acara sosialisasi #NoStrawMovement di KFC BDNI Sudirman Yogyakarta, Sabtu (3/11/2018).

Sebenarnya sedotan plastik berdiameter lima milimeter dengan panjang kurang dari 20 sentimeter ini bisa disebut sebagai salah satu penemuan yang bermanfaat bagi manusia. Alat bantu minum berbahan plastik yang dikenal tahun 1961 ini sangat populer hingga sekarang, bahkan bentuk dan warna mengalami perubahan yang menarik.

Siapa sangka pipa imut warna-warni ini adalah peringkat lima terbanyak dari seluruh sampah plastik yang mengotori laut dunia? dan negara Indonesia adalah peringkat kedua dari daftar negara penyumbang sampah plastik terbesar di dunia setelah China.

Hendra Yuniarto, General Manager Marketing KFC Indonesia mengungkapkn, menurut data Kementrian Lingkungan Hidup sekitar 70% sampah plastik di Indonesia dapat dan telah didaur ulang oleh para pelaku daur ulang, namun tidak demikian dengan sedotan yang karena nilainya rendah dan sulit didaur ulang maka tidak ada pelaku daur ulang yang bersedia mengambilnya.

"Sedotan yang banyak beredar terbuat dari plastik yang kualitas rendah, jadi jika didaur ulang nilainya gak ada lagi. Pemulung juga gak mau ngumpulin sedotan, harganya cuma seribu rupiah per kilogram," terangnya.

Sebagai restoran cepat saji yang mempunyai perhatian khusus terhadap lingkungan, KFC Indonesia telah membuktikan kepeduliannya melalui program #NoStrawMovement atau Gerakan Tanpa Sedotan menjadi gerakan nasional KFC yang dimulai pada Mei 2017 silam.

Mulai dari gerai yang terletak di Jabodetabek untuk tidak lagi menyediakan dispenser sedotan, dengan tujuan untuk mengurangi sampah plastik di Indonesia. Kemudian bulan Mei 2018 lalu telah resmi menjadi program nasional KFC Indonesia dan diimplementasikan di seluruh gerai yang tersebar di Indonesia.

Sebanyak 12 juta sedotan dari gerai KFC seluruh Indonesia menjadi sampah setiap bulannya, belum lagi penjual es pinggir jalan. Rata-rata setiap orang menggunakan sedotan sekali pakai sebanyak 1-2 kali setiap hari, dan perkiraan pemakaian sedotan di Indonesia setiap harinya mencapai 93.244.847 batang yang berasal dari restoran.

Program #NoStrawMovement yang diinisiasi KFC indonesia sejak 2 tahun lalu sudah diterapkan di KFC singapura sejak Juni 2018 kemudian disusul KFC china dan hongkong yang juga mulai memberikan edukasi tentang Gerakan Tanpa Sedotan ini.

Hendra menjelaskan, Sampai akhir tahun ini, KFC menargetkan penggunaan sedotan akan turun hingga hingga 54% di 630 gerai di seluruh Indonesia. Dengan menjadikan gerakan ini menjadi gerakan nasional KFC Indonesia, kami ingin semakin mengurangi penggunaan sedotan plastik dan berkontribusi dalam penyelamatan laut Indonesia.

Bahkan awal 2018 ketika KFC Indonesia melakukan Gerakan Tanpa Sedotan untuk gerai se-jabodetabek, ternyata membuat salah satu korporasi minuman kopi yang berbasis di Amerika meniru dan serentak menerapkan Gerakan Tanpa Sedotan ini untuk seluruh cabangnya di dunia.

"Jadi isu #NoStrawMovement yang dilempar KFC Indonesia kepasar menjadi panutan untuk korporasi-korporasi lain untuk berani melakukan gerakan yang sama", imbuh Hendra.

Melalui gerakan #Nostrawmovement ini KFC Indonesia berharap dapat meningkatkan kesadaran konsumen termasuk konsumen di Yogyakarta untuk lebih peduli dan berani menolak sedotan plastik. Sehingga sampah plastik terutama sedotan sekali pakai akan semakin berkurang demi menyelamatkan laut, kehidupan di dalamnya dan juga manusia.(yve)



Tuliskan Komentar