atas1

Sountrack The Invisible Heroes, Persembahan Tashoora untuk Para Penyintas

Jumat, 13 Mar 2020 | 12:54:26 WIB, Dilihat 374 Kali
Penulis : Muhammad Zukhronnee Ms
Redaktur

SHARE


Sountrack The Invisible Heroes, Persembahan Tashoora untuk Para Penyintas Tashoora saat tampil di Ibadah Musikal, Taman Budaya Yogyakarta Februari 2020 lalu. (muhammad zukhronnee ms/koranbernas.id)

Baca Juga : DIY dan Jateng Berpotensi Saingi Singapura dalam Medical Tourism


KORANBERNAS.ID, JOGJA – Berakhirnya konflik, apapun bentuknya, jelas meninggalkan luka yang tidak bisa segera sembuh. Perjuangan hidup para penyintas melawan trauma yang ditimbulkan konflik masa lalu, dipastikan terus berjalan. Beberapa tenggelam dalam gelap, beberapa memutuskan jadi terang yang menyala untuk diri dan sekitarnya.

Belajar dari peristiwa ini, Tashoora (Danang Joedodarmo, Dita Permatas, Gusti Arirang, dan Ikhwan Hastanto) merilis single bertajuk Sintas, lagu yang menangkap kisah bangkitnya para penyintas konflik yang juga berkontribusi langsung pada kemanusiaan di sekitarnya.

Sintas adalah hasil kerjasama Tashoora dan Narasi. Lagu ini dicipta untuk dipergunakan sebagai soundtrack resmi The Invisible Heroes, sebuah serial dokumenter oleh Narasi dan Pusat Studi Agama dan Demokrasi (PUSAD) Universitas Paramadina.

Serial ini sudah bisa ditonton daring sejak 11 Maret 2020. The Invisible Heroes adalah rekam jejak perjuangan para penyintas konflik dalam menjalani hidup sehari-hari sembari berusaha melupakan bayangan kepahitan masa lalu.

Penyintas yang diangkat serial ini tidak terbatas hanya pada konflik perang saja, namun juga diskriminasi rasial, konflik berbasis gender dan kelas, bencana alam, body-shaming, hingga perundungan.

Najwa Shihab, founder narasi mengakui bahwa lagu ini merupakan karya yang sempurna untuk film The Invisible Heroes. "Mudah-mudahan bisa membantu kita, siapapun yang punya luka, mendengarkan lagu ini bisa jadi mantra kita saling menguatkan." ungkapnya.

“Kami senang sekali bisa bergerak bersama Narasi dan PUSAD untuk mengawal isu-isu yang memang perlu diperjuangkan,” ujar Gusti Arirang.

Gitaris Tashoora, Danang Joedodarmo, menambahkan selain harus menghadapi trauma dan berdamai dengan diri sendiri, para penyintas juga berhadapan dengan masyarakat yang terjebak pada stigma-stigma yang merendahkan. "Untuk menjadi lebih kuat, kita harus berjalan bersama-sama, harus saling menguatkan,” ujarnya.

Durasi pengerjaan karya ini memakan waktu satu bulan. Dengan syair yang ditulis secara kolektif oleh seluruh personil Tashoora, Sintas berupaya membawa perspektif penyintas konflik dalam perjuangannya keluar dari bayang-bayang masa lalu. Menolak “mati” dan menguatkan sesama menjadi pesan yang dibawa.

Setelah sebelumnya selalu mengolah karya secara mandiri, kali ini Tashoora menggandeng Heston Prasetyo sebagai produser single.

“Lagu ini bisa berbicara untuk banyak orang. Misalnya, keadaannya ditekan masyarakat, perasaan tidak diterima, atau perasaan ingin melawan. Jadi, pesannya itu bisa tersampaikan ke banyak hal.” imbuh Heston Prasetyo.

“Prosesnya cepat. Awalnya ketemu Heston untuk bicara soal isu dan ide-ide, kemudian ditindaklanjuti dengan workshop dua kali. Langsung jadi, sepakat direkam,” jelas Dita Permatas Keyboardis, Vocalis sekaligus Pemain Akordeon Tashoora saat dihubungi koranbernas.id Jumat, (13/3/2020).

Proses mixing Sintas dikerjakan oleh Stevano. Sedangkan mastering dipercayakan kepada Andy Miles di Stardelta Mastering, Britania Raya. Lagu direkam sepenuhnya di Bro’s Studio, Jakarta Selatan.

Antonius Dian kembali dipercaya untuk mengerjakan artwork single Tashoora. Dalam merespons cerita lagu, Antonius melakukan interpretasi Sintas lewat dua individu, satu berjubah kalender dan satu bertopeng lilin, yang sedang beradu panco di dalam sebuah kerangka kubus.

Lilin melambangkan harapan bagi penyintas, kalender melambangkan momen-momen traumatis yang telah dilalui, dan adu panco melambangkan perjuangan dan pertahanan. Kerangka kubus diartikan sebagai batas ruang gerak yang dimiliki para penyintas.

Sintas adalah lagu pertama yang dirilis Tashoora pada 2020 sekaligus jadi penanda atas bergabungnya Ikhwan Hastanto di grup musik ini. Awan, panggilan akrabnya, resmi melengkapi Tashoora yang sudah tujuh kali berganti formasi.

“Sintas secara harfiah berarti bisa dan terus bertahan. Kata ini selain memang didapuk sebagai judul untuk menjelaskan peristiwa yang dialami penyintas konflik, juga kurang lebih menjelaskan perjalanan Tashoora dalam empat tahun terakhir,” papar Awan.

Single Sintas bisa didengarkan di berbagai digital music platforms Spotify, iTunes, JOOX, Deezer sejak Jumat (13/3/2020) pukul 00:00 WIB. (eru)



Jumat, 13 Mar 2020, 12:54:26 WIB Oleh : Muhammad Zukhronnee Ms 3225 View
DIY dan Jateng Berpotensi Saingi Singapura dalam Medical Tourism
Jumat, 13 Mar 2020, 12:54:26 WIB Oleh : Rosihan Anwar 7249 View
Setelah Dijebak dan Diancam, Pria Ini Tega Mempekerjakan PSK Dibawah Umur
Jumat, 13 Mar 2020, 12:54:26 WIB Oleh : Rosihan Anwar 268 View
Semangat Gotong Royong Yang Tak Surut Ketika Bencana

Tuliskan Komentar