atas1

Skema Baru Seleksi Masuk PTN

Kamis, 27 Des 2018 | 11:17:58 WIB, Dilihat 686 Kali - Oleh Bambang Ruwanto

SHARE


Skema Baru Seleksi Masuk PTN Bambang Ruwanto

Baca Juga : Hukum dan Totalitas Kehidupan


         KEMENTERIAN Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) telah menetapkan skema baru terkait Seleksi Masuk Perguruan Tinggi Negeri (PTN) Tahun 2019. Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir dalam konferensi pers terkait Seleksi Masuk PTN 2019 di Jakarta, Senin (22/10/2018) menyebutkan, kebijakan ini terkait dengan pengembangan model dan proses seleksi yang berstandar nasional dan mengacu pada prinsip keadilan, transparansi, fleksibel, efisien, akuntabel serta menyesuaikan dengan perkembangan teknologi informasi pada era digital.

         Seleksi masuk PTN 2019 tetap melalui tiga jalur, yaitu: Seleksi Nasional Masuk PTN (SNMPTN), Seleksi Bersama Masuk PTN (SBMPTN), dan Seleksi Mandiri (SM). Akan tetapi, pada tahun 2019 ada perubahan kuota di setiap jalur. Kuota SNMPTN, yaitu seleksi masuk tanpa tes berdasarkan prestasi akademik di SMA/SMK, dikurangi. Tahun 2018 kuota ini ditetapkan minimal 30 persen dari daya tampung program studi. Pada tahun 2019 kuota jalur ini dikurangi menjadi minimal 20 persen. Sebaliknya, seleksi melalui jalur SBMPTN malah ditingkatkan. Kuota jalur ini yang semula 30 persen dari daya tampung, pada 2019 ditingkatkan menjadi minimal 40 persen. Adapun jalur SM yang menjadi kewenangan setiap PTN tidak berubah, maksimum 30 persen.

         Pada seleksi masuk PTN 2019 ada beberapa ketentuan baru yang berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Salah satu di antaranya adalah tes yang harus dilakukan oleh calon mahasiswa baru sebelum mendaftar ke PTN. Mohamad Nasir menjelaskan, ujian berbasis kertas dan ujian berbasis komputer yang biasa dilakukan secara serentak di seluruh Indonesia dalam satu hari ditiadakan. Sebagai gantinya, ujian tulis dilakukan melalui Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) dengan dua materi tes: Tes Potensi Skolastik dan Tes Kompetensi Akademik. Tes Potensi Skolastik merupakan tes yang digunakan untuk memprediksi kemampuan seseorang (calon mahasiswa) apabila diberi kesempatan untuk melanjutkan belajar ke jenjang yang lebih tinggi. Adapun Tes Kompetensi Akademik digunakan untuk mengukur pengetahuan atau penguasaan materi pelajaran di sekolah. UTBK ini dapat diikuti oleh calon mahasiswa kapan saja selama periode tes masih berlangsung. Pada tahun 2019, UTBK diselenggarakan sebanyak 24 kali selama 12 hari dalam setahun, pada Sabtu dan Minggu. Calon mahasiswa dapat mengikuti UTBK maksimum dua kali dalam setahun. Artinya, calon mahasiswa dapat mengulang UTBK apabila dirasa skor yang diperoleh belum maksimum.

         UTBK dilakukan oleh Lembaga Tes Masuk Perguruan Tinggi (LTMPT). Calon mahasiswa yang mengikuti UTBK di lembaga ini akan memperoleh hasil Tes Potensi Akademik dan Tes Kompetensi Akademik. Nah, kedua hasil tes ini digunakan oleh calon mahasiswa untuk mendaftarkan diri di PTN saat SBMPTN dibuka. Oleh karena itu, jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya ada perbedaan skema seleksi masuk PTN. Pada tahun sebelumnya, calon mahasiswa mendaftarkan terlebih dahulu di PTN baru tes. Dari dua kali kesempatan mengikuti UTBK, calon mahasiswa dapat menggunakan nilai yang tertinggi untuk mengikuti seleksi masuk PTN. Pola seleksi ini tentu menguntungkan calon mahasiswa. Nilai UTBK yang dimiliki dapat menjadi bahan pertimbangan dalam memilih PTN beserta program studinya. 

Prioritas Ujian Tulis

         Dengan skema baru seleksi masuk PTN tampaknya Kemenristekdikti ingin mengoptimalkan hasil ujian tulis. Hal ini tampak dari kuota jalur SNMPTN (tanpa tes) dikurangi, sementara kuota jalur SBMPTN (jalur tes) ditambah. Sejumlah pakar pendidikan menyebutkan, ada perbedaan kemampuan akademik antara mahasiswa yang berasal dari jalur SNMPTN dan jalur SBMPTN. Ketika penulis mengajar mahasiswa pada tahun pertama perkuliahan, perbedaan itu sangat signifikan. Sejumlah konsep fisika sederhana tidak dimengerti dengan baik oleh para mahasiswa yang berasal dari jalur SNMPTN. Sebaliknya, para mahasiswa yang diterima melalui jalur SBMPTN dapat menjelaskan konsep fisika itu lebih baik. Sekretaris Panitia Pelaksana SBMPTN 2018 Joni Hermana juga mengatakan, banyak mahasiswa dari jalur tanpa tes dengan nilai rapor baik ternyata tidak berkorelasi dengan indeks prestasi kumulatif pada tahun pertama perkuliahan. Untuk meningkatkan kualitas mahasiswa baru, skema baru seleksi masuk PTN perlu disambut gembira. ***

 

Drs. Bambang Ruwanto, M.Si.,

Dosen Jurusan Pendidikan Fisika, Fakultas MIPA, UNY

(Artikel ini juga dimuat di Koran Bernas versi cetak edisi 7 Desember 2018)



Kamis, 27 Des 2018, 11:17:58 WIB Oleh : Prof. Sudjito Atmoredjo, S.H., M.Si. 756 View
Hukum dan Totalitas Kehidupan
Kamis, 27 Des 2018, 11:17:58 WIB Oleh : Putut Wiryawan 565 View
Musim Bencana
Kamis, 27 Des 2018, 11:17:58 WIB Oleh : Yvesta Putu Sastrosoendjojo 851 View
Ada Cinta Jodie yang Tertinggal di SCH

Tuliskan Komentar