atas1

Silaturahmi Sosial-Kebangsaan

Jumat, 29 Mei 2020 | 23:46:46 WIB, Dilihat 431 Kali
Penulis : Prof. Dr. Sudjito Atmoredjo, S.H., M.Si.
Redaktur

SHARE


Silaturahmi Sosial-Kebangsaan Sudjito Atmoredjo (Foto: Koleksi Pribadi/Koran Bernas).

Baca Juga : Polres Kebumen Merazia Motor Berknalpot Bising


PADA hari pertama idul fitri, ada kejadian unik. Seseorang berkirim pesan singkat lewat WhatsApp. “Pak. Izinkan, saya ke rumah. Untuk silaturahmi. Saya sehat. Saya menunda mudik. Taat pada prokotol kesehatan”. Saya tertegun membacanya. Tak kuasa menolaknya. Kata paling tepat sebagai jawaban: “Silakan”. 

Benar, orang itu ke rumah. Naik sepeda motor. Pakai jaket. Pakai masker. Salam, tegur-sapa, terucap dengan ramah. “Alhamdulillah. Rindu saya terobati. Bapak/Ibu dan keluarga sehat-sehat Pak?” Selamat idul fitri. Mohon maaf lahir-batin. Terima kasih atas segala bimbingan selama saya menjadi mahasiswa Bapak. Bapak tak bedanya dengan orangtuaku sendiri. Silaturahmi kita, tetap berlangsung terus ya Pak. Maaf pula. Saya tidak lama-lama. Yaaahhh. Karena kondisi Covid-19. Izinkan saya pamit. Wassalamu’alaikum”.

Dalam pandangan saya, mantan mahasiswa ini tergolong cerdas. Berakhlaq mulia. Mampu bersikap bijak dan tepat. Sikap demikian, layak diapresiasi. Bahkan direfleksikan secara luas, berskala sosial-kebangsaan. Silaturahmi sosial-kebangsaan. Adalah kata-kata kunci paling tepat untuk menampung totalitas realitas dan makna idul fitri.

Silahturahmi otentiknya merupakan ajaran agama Islam. Tetapi dalam perkembangannya telah diamalkan semua komponen bangsa. Lintas suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA). Semua wajah berseri. Makanan-minuman tersaji. Kualitas bergengsi. Bergizi.

Dalam skala sosial-kebangsaan, silaturahmi telah mendarah-daging sebagai bagian dari kehidupan bersama. Semuanya, lebar, lebur, berbaur. Bertemu dalam suka-cita. Indah dalam perbedaan. Akrab dalam persaudaraan. Saling memaafkan. Saling memberi. Saling menebar kasih-sayang. Silaturahmi telah tertransformasikan, dari fenomena religius menjadi fenomena sosial-budaya.

Melalui silaturahmi, terbuka kesempatan untuk kembali kefitrian (suci, otentik, asli). Diyakini, awalnya, tiada dosa pada bayi terlahir. Karena berbagai sebab, banyak dosa dan kesalahan diperbuat sepanjang jalan kehidupan. Intensitas perawatan kesehatan jiwa, akan berpengaruh signifikan terhadap kualitas kesuciannya, sekaligus martabatnya.

Sehat dalam kedewasaan, tidak terjadi sendiri. Tidak jatuh dari langit. Bukannya taken for granted. Sang Pencipta, berkenan mengubah kehidupan hamba-hamba-Nya, hingga mereka bersungguh-sungguh berniat dan berupaya lahir-batin untuk menggapai kamajuan yang diinginkannya. Silaturahmi merupakan bentuk usaha pensucian diri.

Pensucian diri lainnya dapat dilakukan dengan pembayaran zakat. Semua orang bernyawa, tak terkecuali - kaya, miskin, rakyat, pejabat - wajib membayar zakat fitrah. Demi kefitrian jiwa.

Kewajiban ini meningkat menjadi keutamaan, ketika ditambah dengan pembayaran zakat mal, infak, dan sedekah. Orang fakir dan miskin disantuni. Keseluruhan amal, bermanfaat untuk menolong, mengembangkan dan meningkatkan usaha-usaha kreatif. Gilirannya, kehidupan bersama semakin mandiri, makmur, berkeadilan.

Silahturahmi, beserta segala perilaku terpuji lainnya, merupakan wujud penjiwaan dan pengejawantahan sifat-sifat Allah SWT. Rahmat-Nya dijabarkan menjadi tebaran kasih-sayang. Pengendalian diri. Akselerasi aktivitas kehidupan. Komitmen di sirathalmustaqim.

Pengaktualisasiannya, dilakukan secara kontekstual. Empan papan. Angon waktu. Lambe ati. Duga prayoga. Penuh kejujuran. Sesuai situasi dan kondisi. Totalitas amalan-amalan saleh menjadi garansi terwujudnya keharmonisan. Kebersatuan dalam kebhinnekaan. Sekaligus terselesaikannya persoalan-persoalan sosial-kebangsaan.

Indikasi totalitas amalan-amalan saleh, terlihat pada: (1) kebersinergian dengan orang lain dalam urusan sosial-kebangsaan; (2) selalu ingin berjamaah dalam ibadah maupun muamalah; (3) upaya membangun persaudaraan atas dasar persamaan sebagai bangsa; (4) rela berkorban demi kecintaannya pada bangsa dan tanah air; (5) komitmen tinggi pada tatanan etika, moral, agama, dan hukum berlaku.

Begitu banyak hikmah di balik silaturahmi, antara lain: (1) mempererat tali persaudaraan; (2) memperbanyak rezeki ; (3) memperpanjang umur; (4) menambah empati; (5) memperkuat sosial kapital; (6) memperkokoh persatuan.

Dalam rangka perwujudan the new normal life, layak diyakini silaturahmi dapat dikembangkan sebagai exit strategy dari pandemi Covid-19, menuju rejuvenation of the nation creep (pemudaan kembali keyakinan berbangsa). Ajaran Bung Karno (1945) tentang  kebangsaan, pantas diaktualisasikan, antara lain: (1) rasa percaya pada diri sendiri dan keteguhan hati segenap komponen bangsa dalam perjuangan melawan musuh (penjajah); (2) kebangsaan sebagai paham sosiologis, berada dalam pergaulan hidup, senantiasa bergandengan tangan dengan paham-paham lain, peduli terhadap kemanusiaan; (3) pengikut paham kebangsaan mempunyai keinginan hidup menjadi satu dengan rakyat, merasa satu golongan, satu bangsa. Dari ajaran-ajaran itu, tersirat bahwa silaturahmi, persahabatan, rasa kebangsaan, bisa digalang, dikembangkan, dan akan menjadi kekuatan dahsyat melawan musuh-musuh bangsa, termasuk melawan Covid-19.

Adapun penjabarannya adalah sebagai berikut: (1) sebarkan pemahaman arti penting taat pada arahan-arahan World Health Organization (WHO) yakni: melakukan test, tracing, treat and isolate; (2) hindari kerumunan, jaga jarak (social and physical distancing), disiplin pakai masker, skrining suhu badan, bekerja dan beribadah di rumah; (3) lebih perhatian terhadap kesehatan dan kebersihan, mencakup: cuci tangan sebelum makan, tutup mulut ketika batuk atau bersin, konsumsi vitamin, jamu, buah-buahan, olah raga secara teratur dan terukur; (4) pengaturan jumlah dan jarak tempat duduk penumpang dalam transportasi publik, sekolah, perkuliahan dan jamaah shalat; (5) penyemprotan disinfektan secara periodik pada tempat atau wilayah strategis; (6) perubahan pola kerja, belanja, dan silaturahmi, dari aktivitas fisik (nyata) menjadi aktivitas virtual (maya), online, daring; (7) sediakan fasilitas cukup agar sarana teknologi informasi dapat digunakan secara maksimal pada semua wilayah tanah air; (8) maksimalkan kedermawanan, dan pastikan bantuan-bantuan sosial untuk fakir, miskin, buruh terkena PHK (pemutusan hubungan kerja) sampai pada yang berhak dengan cepat.

Kini, pembatasan sosial berskala besar (PSBB) mulai dilonggarkan. Mall, sekolah, kampus, pasar, mulai dibuka. Segalanya mesti disikapi dengan bijak. Metode-metode sebagaimana terurai di atas mesti dipatuhi. Jadilah bangsa cerdas dan bijak. Saya bangga, mahasiswa dan mantan-mantan mahasiswa mampu memberikan contoh sikap-sikap bijak, cerdas dan progresif, berjiwa kebangsaan. Di depan, kebahagiaan warna baru, pasti tersebar di segala penjuru kota dan desa. Dirasakan semua elemen masyarakat dan bangsa.

Silaturahmi sosial-kebangsaan bak kapal laut. Tak perlu oleng ataupun karam hanya karena pandemi Covid-19. Walau pelayaran masih dalam ketidakpastian, namun pertolongan Allah SWT pasti datang pada saat tepat. Wallahu’alam. ***

Prof. Dr. Sudjito Atmoredjo, S.H., M.Si.

Guru besar Ilmu Hukum UGM.

 

 

 



Jumat, 29 Mei 2020, 23:46:46 WIB Oleh : Nanang WH 252 View
Polres Kebumen Merazia Motor Berknalpot Bising
Jumat, 29 Mei 2020, 23:46:46 WIB Oleh : W Asmani 240 View
Bupati Purworejo Memperpanjang Masa Tanggap Darurat Covid-19
Jumat, 29 Mei 2020, 23:46:46 WIB Oleh : Nanang WH 326 View
Kepatuhan terhadap Protokol Kesehatan Juga Berlaku bagi Masyarakat di Zona Hijau

Tuliskan Komentar