TNI-stipram

Siklus Empat Tahunan DBD Diperkirakan Terjadi 2019

Jumat, 26 Okt 2018 | 22:44:21 WIB, Dilihat 112 Kali - Oleh Nila Jalasutra

SHARE


Siklus Empat Tahunan DBD Diperkirakan Terjadi 2019 Tim Pokjanal Dinkes Sleman memantau jentik, Jumat (26/10/2018), di Dukuh Kadisoka Purwomartani Kecamatan Kalasan. (istimewa)

Baca Juga : DIY Miliki Enam Sekolah Siaga Kependudukan


KORANBERNAS.ID -- Jumlah kasus Demam Berdarah (DBD) di Kabupaten Sleman terus menurun dalam kurun waktu dua tahun terakhir sejak 2016.

Waktu itu, terdapat 880 kasus DBD dengan angka kematian 9 orang, kemudian pada 2017 berkurang hingga 50 persen yaitu 427 kasus dengan angka kematian 3 orang, dan tahun 2018 sampai saat ini terhitung 97 kasus tanpa ada kasus kematian.

Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM) Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman, Dulzaini, di sela-sela kegiatan Pantauan Jentik Berkala (PJB), Jumat (26/10/2018) di Dukuh Kadisoka Desa Purwomartani Kecamatan Kalasan mengimbau masyarakat harus tetap waspada terhadap ancaman DBD. “Terlebih menjelang musim penghujan ini,” ujarnya.

Selain itu, Kabupaten Sleman memiliki siklus empat tahunan kenaikan kasus DBD secara signifikan. Terakhir siklus tersebut terjadi pada 2016. Jadi, siklus tersebut berpotensi terjadi pada 2019.

“Siklus ini sudah berulang kali terjadi sampai sekitar tiga kali setiap empat tahun. Kita bisa katakan seperti ini karena kita punya data. Nah kita prediksikan siklus ini jatuh di tahun 2019. Namun hal ini bisa kita antisipasi dengan menjaga kebersihan lingkungan sekitar, serta kerja sama dari berbagai pihak terkait,” ucapnya.

Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman melalui Kelompok Kerja Operasional (Pokjanal) DBD dibantu oleh Juru Pemantau Jentik (Jumantik)  melakukan PJB secara berkala.

Tujuannya untuk memonitor keberadaan jentik nyamuk di rumah-rumah warga serta mendapatkan data terkait Angka Bebas Jentik (ABJ) di suatu wilayah.

“Jadi kegiatan seperti ini bukan untuk menjelek-jelekkan suatu wilayah. Tapi ini biar biasa menjadi motivasi dan juga cerminan, sehingga kita bisa mengambil langkah antisipasi selanjutnya,” jelasnya.

Pada kegiatan PJB tersebut ada 152 rumah yang dilakukan monitoring, 34 di antaranya positif terdapat jentik nyamuk. Dengan begitu ABJ di Dukuh Kadisoka sebesar 77,6 persen.

Sebelumya, pada Jumat silam Pokjanal DBD Sleman melakukan monitoring ke Kecamatan Gamping dan Ngaglik. Sedangkan Jumat yang akan datang, PJB akan diadakan di Kecamatan Depok dan Moyudan. (sol)



Kamis, 25 Okt 2018, 22:44:21 WIB Oleh : Arie Giyarto 197 View
DIY Miliki Enam Sekolah Siaga Kependudukan
Rabu, 24 Okt 2018, 22:44:21 WIB Oleh : Yvesta Putu Sastrosoendjojo 113 View
Hati-hati, Jangan Asal Permak Wajah
Selasa, 23 Okt 2018, 22:44:21 WIB Oleh : Nila Jalasutra 94 View
Ribuan Santri Kelilingi Kantor Pemkab Sleman

Tuliskan Komentar