atas1

Sering Menang Lomba Kopi Getas Makin Terkenal
STIE Semarang Lakukan Pendampingan melalui Program PKM

Minggu, 12 Mei 2019 | 22:59:35 WIB, Dilihat 662 Kali - Oleh B Maharani

SHARE


Sering Menang Lomba Kopi Getas Makin Terkenal Alat sangrai kopi yang diberikan kepada Kelompok Tani Bina Usaha Tani Desa Getas Kecamatan Singorojo Kabupaten Kendal. (istimewa)

Baca Juga : Orang-orang Kaya Berebut Beri Takjil Jamaah Umrah


KORANBERNAS.ID -- Sebagai salah satu wujud melaksanakan kewajiban Tri Dharma Perguruan Tinggi yaitu Pengabdian kepada Masyarakat (PKM), sejumlah dosen STIE Semarang, terjun langsung di Desa Getas Kecamatan Singorojo Kabupaten Kendal Jawa Tengah.

Ini merupakan bagian dari upaya melaksanakan kewajiban tersebut sebaik-baiknya, disertai niat mengabdikan diri agar dapat memberi manfaat bagi masyarakat.

Pelaksanaan PKM dosen STIE Semarang tahun anggaran 2018 kali ini diketuai Penta Widyartati SE M Si Ak CA, dengan anggota Frida Widyawati Triasningrum SS M Pd serta Rokhmad Budiyono S Pd MM.

Mereka terjun langsung mendampingi dan memberdayakan Kelompok Tani Kopi di Desa Getas Kecamatan Singorojo Kabupaten Kendal. Program yang didanai oleh Kementerian Ristekdikti itu selesai dilaksanakan dengan hasil memuaskan.

“Melalui pengabdian kepada masyarakat ini kami melaksanakan pengadaan alat sangrai kopi kepada Kelompok Tani yang ada di Desa Getas Kecamatan Singorojo kabupaten Kendal,” kata Penta Widyartati, pekan lalu.

Dia menjelaskan keputusan bermitra dengan Kelompok Tani Kopi Desa Getas karena sebagian besar masyarakat di desa tersebut merupakan petani kopi.

Apalagi kopi asal Desa Getas terkenal, bercita rasa khas dan digemari oleh masyarakat hingga luar kecamatan Singorojo.

"Hal ini terbukti dengan keberhasilan kopi Getas pada berbagai lomba kopi tingkat kabupaten maupun provinsi," sambung Frida Widyawati Triasningrum selaku anggota tim PKM.

Hampir semua penduduk di desa Getas memiliki tanaman kopi sebagai tanaman utama penopang ekonomi keluarga maupun tanaman selingan yang berfungsi untuk penambah penghasilan.

Dengan banyaknya petani kopi di Desa Getas maka dibentuk kelompok-kelompok tani kopi. Sebagian kelompok sudah maju, sebagian lainnya baru berkembang.

Warga mengamati mesin sangrai kopi yang masih baru. (istimewa)

Kelompok yang sudah maju antara lain Kelompok Tani Makarti Utomo, yang berhasil mengangkat nama kopi Desa Getas saat mengikuti berbagai lomba kopi di tingkat kabupaten maupun provinsi.

Kelompok Tani Makarti Utomo sudah memiliki peralatan memadai yang dapat digunakan oleh anggota kelompok khususnya maupun masyarakat Desa Getas pada umumnya.

Ini memotivasi kelompok-kelompok tani lain melakukan hal serupa, antara lain Kelompok Tani Bina Usaha Tani.

Sebagai kelompok Tani yang baru berkembang, Bina Usaha Tani belum memiliki peralatan memadai. Untuk memproses kopi mentah menjadi kopi siap konsumsi, anggota kelompok ini sering meminjam peralatan milik Makarti Utomo.

Rokhmad Budiono selaku anggota tim PKM STIE Semarang menjelaskan, berdasarkan pengamatan dan pendekatan tim, alat yang paling dibutuhkan oleh kelompok tani adalah mesin sangrai kopi.

"Dengan alat sangrai kopi maka tingkat kematangan kopi dapat diatur sehingga kualitas kopi sangrai dapat stabil dan sesuai kebutuhan," ujar Rokhmad.

Dia meyakini apabila mutu kopi produksi Desa Getas stabil maka memberikan energi positif masyarakat desa setempat khususnya anggota kelompok tani.

Dengan begitu mereka lebih percaya diri dan lebih giat  memasarkan produk-produknya, sehingga dapat lebih mengangkat nama kopi Getas yang pada akhirnya meningkatkan penghasilan para petani kopi di desa itu.

Lebih jauh Penta Widyartati menyampaikan, seorang dosen tidak hanya dituntut mengajar mahasiswanya tetapi juga wajib melaksanakan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, sebagai bagian dari kegiatan Tri Dharma Perguruan Tinggi.

Apabila pengajaran dilakukan di lingkup perguruan tinggi home base dosen tersebut mengabdi, maka penelitian dan pengabdian kepada masyarakat bisa dilakukan di luar lingkup perguruan tinggi tersebut.

Pelaksanaan pengabdian kepada masyarakat selain didukung oleh perguruan tinggi, juga memperoleh dukungan dana dari Kementerian Ristekdikti melalui mekanisme dana hibah yang didistribusikan untuk mendanai penelitian dan pengabdian kepada masyarakat yang dilakukan oleh dosen-dosen di wilayah Republik Indonesia. Dana itu diberikan tiap tahun. (sol)



Minggu, 12 Mei 2019, 22:59:35 WIB Oleh : Arie Giyarto 5095 View
Orang-orang Kaya Berebut Beri Takjil Jamaah Umrah
Minggu, 12 Mei 2019, 22:59:35 WIB Oleh : Sholihul Hadi 492 View
TKD DIY Bersyukur Target 70 Persen Tercapai 69 Persen
Sabtu, 11 Mei 2019, 22:59:35 WIB Oleh : Arie Giyarto 437 View
Terbukti Puasa Itu Menyehatkan Badan

Tuliskan Komentar