atas1

Seniman Taiwan Bawa Pasar Tradisional ke Jogja

Minggu, 23 Jun 2019 | 18:59:39 WIB, Dilihat 604 Kali - Oleh Muhammad Zukhronnee Ms

SHARE


Seniman Taiwan Bawa Pasar Tradisional ke Jogja Tang Tang-Fa, salah seorang dari empat seniman kontemporer Taiwan memamerkan senampan sayur-mayur karyanya saat pembukaan pameran Art 4 Jogja di Bale Banjar, Sangkring Art Space, Nitiprayan, Bantul, Yogyakarta, Sabtu (22/6/2019). (Muhammad Zukhronnee ms/koranbernas.id)

Baca Juga : Ingin Tahu Gejala Stroke, Kenali Hal Ini


KORANBERNAS.ID -- Empat seniman kontemporer Taiwan yang ternama dalam sejarah seni Taiwan pada era 90an pamerkan karyanya di Indonesia. Pameran bertajuk Art 4 Jogja ini digelar selama dua pekan di Bale Banjar, Sangkring Art Space, Nitiprayan, Bantul, Yogyakarta sejak 22 Juni 2019.

Dengan memilih tema Art 4 Jogja juga memiliki makna internasional yang eksplisit dan digunakan untuk menamai kelompok keempat seniman Taiwan yang baru pertama kali berpameran di Indonesia khususnya Yogyakarta.

Cheng, Lu, Tang, dan Wang yang bertemu pada masa kuliah pada tahun 1987. Meskipun dalam kurun waktu 30 tahun karir mereka berkembang secara berbeda, mereka tetap antusias dalam berkarya seni dan tetap aktif berkoordinasi dalam jalur artistik mereka dalam rangka pencarian makna hidup dan keberadaan (eksistensi-red).

Bagi keempat seniman ini, pencarian makna hidup dan eksistensi melalui seni telah menjadi keyakinan estetis mereka dan telah menjadi penuntun untuk membentuk sistem dalam menginterpretasi makna kehidupan melalui berbagai bentuk dan metode yang telah mereka adopsi.

Cheng Cheng-Huang misalnya, lebih memilih jalan spiritual dalam melihat kehidupan dan mendefinisikan identitas dirinya menggunakan cara-cara yang menantang ketahanan/ketekunan dirinya sebagai manusia di dunia. Untuk alasan ini, Cheng menganggap seni sebagai proses terapi yang penting dalam perjalanan kehidupan.

Berbeda dengan Lu Chien-Chang yang lebih menggunakan pendekatan ekspresis yang terkontrol untuk mencari nilai murni dalam seni. Hal ini membuat komposisinya terlihat sederhana tetapi tetap rumit secara konsep dan teks.

Melalui traveling, Wang Shei-Chau menggunakan pemandangan sebagai medium atau kiasan untuk mendokumentasikan penjelajahannya yang tertuang dalam karya eksplorasi akan waktu dan tempat dalam seni.

Pengunjung menikmati barisan karya Wang Shei-Chau saat pameran Art 4 Jogja di Bale Banjar, Sangkring Art Space, Nitiprayan, Bantul, Yogyakarta, Sabtu (22/6/2019). (Muhammad Zukhronnee ms/koranbernas.id)

Sementara Tang Tang-Fa lebih memilih menjelmakan subjek kehidupan sehari-hari kedalam presentasi karya yang artistik, Tang menciptakan suasana yang memungkinkan dialog inklusif tentang kehidupan nyata dan seni diantara seniman dan penonton (penikmat seni-red).

Menurut Tang, Seni adalah bagian dari kehidupan kita dan selayaknya menjadi alat yang membantu kita mendefinisikan diri dan berbagi pemikiran tentang kehidupan, khususnya terhadap haI-hal yang seringkali diabaikan dalam kehidupan manusia.

"Saya menggunakan aneka materi dan metode yang secara bebas mengekspresikan pengamatan saya akan kehidupan sehari-hari. Dan menggunakan seni untuk memanifestasikan (mewujudkan) keberadaan diri," paparnya.

Melalui seni, lanjut Tang berbagi pengalaman ini dapat mengundang khalayak untuk melihat dan menemukan kehidupan sehari-hari mereka. Sehingga masing-masing dapat mengapresiasi lebih jauh apa yang mereka miliki dengan cara yang serupa.

Seniman yang pernah dijuluki gila karena memadukan seni instalasinya di sebuah pasar tradisional selama sebulan di negaranya ini ingin mengembalikan kenangan akan sebuah pasar tradisional. Rupa-rupa bentuk ikan segar dan sayur yang menggelantung tentu akrab dengan masyarakat Indonesia.

Kepada koranbernas.id Tang bercerita, di Taiwan pasar tradisional seperti ini mulai berkurang. Dia ingin mengembalikan setidaknya kenangan buat masyarakat moderen kini. Banyak hal menarik dari suasana pasar ini, Bagaimana pasar ikan bercampur dengan penjaja cinderamata adalah seni instalasi nyata yang Ia tangkap dan ingin disampaikan Tang lewat karya-karyanya.

Goresan kuas Tang pada vinyl dan canvas yang sudah dibentuk 3D menyerupai sayur, buah, ikan, daging dan aneka souvenir cukup spontan namun realis. Begitupun dengan kawanan ikan koi yang menempel di tembok Sangkring Art Space. Bahkan beberapa pengunjung mengira itu adalah hasil cetak digital.

Berbagai gaya dan cara yang ditawarkan oleh keempat seniman dalam pameran ini memamerkan cakupan seni kontemporer Taiwan. Karena makna Yogyakarta sebagai pusat budaya di Jawa dan lndonesia, gelaran karya oleh kelompok artis kontemporer Taiwan ini akan memungkinkan dialog dan inisiatif yang luas akan pemikiran artistik, pertalian, dan pemahaman yang sama bagi seniman Yogyakarta mengenai kebudayaan dan nilai dibalik seni kontemporer Indonesia dan komunitas seni Taiwan.


Rektor Institut Seni Indonesia, M. Agus Burhan (Tengah) dan pemilik Sangkring Art Space seniman Putu Sutawijaya berfoto bersama empat seniman kontemporer asal Taiwan sesaat sebelum pembukaan pameran Art 4 Jogja di Bale Banjar, Sangkring Art Space, Nitiprayan, Bantul, Yogyakarta, Sabtu (22/6/2019). (Muhammad Zukhronnee ms/koranbernas.id)

Rektor Institut Seni Indonesia M. Agus Burhan menegaskan pameran Art 4 Jogja ini merupakan satu kekayaan yang akan menambah khasanah pemahaman tentang seni kontemporer.

Burhan menambahkan bahwa semua seniman, baik dari seluruh Indonesia maupun seniman-seniman dari luar yang datang ke Indonesia pasti tidak akan melewatkan untuk datang ke Yogyakarta. "Jogja sebagai artwork yang sudah mempunyai kekuatan dari berbagai aspek, karena seniman tidak bisa bekerja sendiri, maka artwork system adalah suatu sistem yang bekerja dalam aktivitas kolektif," paparnya.

"Kita bisa melihat tidak hanya seniman yang berkembang di jogja, namun banyak kurator yang juga ikut berkembang, lalu akademisi dan lembaga sosiokultural serta lembaga-lembaga kesenian dan pemerintah yang mempunyai dukungan yang kuat kepada artwork sistem yang ada di Jogjakarta," imbuh Burhan.

"Oleh karena itu relationship yang telah terbangun dari kunjungan-kunjungan seniman-seniman dari luar ke Jogjakarta diharapkan bisa memberikan keuntungan bagi Jogjakarta agar bisa menumbuhkan keseniannya dengan kekuatan tradisi atau kekuatan moderen. kemudian itu menjadi semakin kaya dengan relasi-relasi yang timbul oleh dukungan dari seniman-seniman Indonesia maupun seniman luar negeri," pungkasnya.(yve)



Minggu, 23 Jun 2019, 18:59:39 WIB Oleh : Yvesta Putu Sastrosoendjojo 9213 View
Ingin Tahu Gejala Stroke, Kenali Hal Ini
Minggu, 23 Jun 2019, 18:59:39 WIB Oleh : Redaktur 487 View
Ratusan Pelajar SMK Peroleh Pelatihan Bela Negara
Minggu, 23 Jun 2019, 18:59:39 WIB Oleh : Arie Giyarto 580 View
Kiai Jazir Ingatkan Pentingnya Lestarikan Pertemuan Trah

Tuliskan Komentar