atas

Semua Berharga Mahal di Labuan Bajo

Senin, 03 Sep 2018 | 18:10:00 WIB, Dilihat 733 Kali - Oleh Arie Giyarto

SHARE


Semua Berharga Mahal di Labuan Bajo Dermaga Labuhan Bajo NTT di antara gugusan pulau yang begitu indah tertancap di tengah laut. (arie giyarto/koranbernas.id)

Baca Juga : Pulau Panjang, Spot Menarik untuk Mancing, Berburu Foto, ataupun Sekadar Menikmati Kesunyian


KORANBERNAS.ID – Hampir pukul 15:00 Waktu Indonesia Tengah (WITA) tatkala kapten pilot yang menerbangkan pesawat Boeing A320 Batik Air mendaratkan pesawat dengan mulus di Bandara Komodo Labuan Bajo Nusa Tenggara Timur (NTT), Rabu (27/12/2017).

Sejak ditingkatkan kapasitas dan daya dukungnya, penerbangan menuju atau dari Bandara Komodo meningkat tajam. Saat ini ada empat maskapai penerbangan menjalani rute penerbangan ke kota wilayah Indonesia Bagian Timur itu.

“Masing-masing Batik Air, Garuda, Wing Air serta Nam Air,” kata Syarif, petugas pemeriksa calon penumpang di Bandara Komodo menjawab pertanyaan koranbernas.id di antara kesibukan tugasnya.

Menurut dia, Wing Air empat kali sehari menerbangi rute tersebut sedangkan maskapai lain ada yang hanya sekali atau dua kali saja.

Dengan semakin banyaknya frekuensi penerbangan, makin meningkat jumlah wisatawan ke Labuan Bajo. Salah satu daya tarik datang ke sana adalah untuk melihat komodo.

Binatang yang hanya ada di Pulau Komodo ini meski secara fisik tidak begitu menarik tapi daya magnetnya jadi begitu hebat. Sejak pulau itu “disentuh” oleh Presiden Jokowi, pembangunan di pulau Flores khususnya Kabupaten Manggarai Barat terlihat maju pesat.

Dengan semakin banyaknya wisatawan, maka “semut” berdatangan. Investor dari luar pulau utamanya dari Jakarta, Surabaya dan Bali berlomba-lomba menanamkan investasinya.

“Di jalan Simpang Pede ini hotel-hotel bermunculan. Yang semula ada kemudian diperluas dan dipercantik,” kata Irvan Muthalib, Direktur TX Travel Benhil di Jakarta yang sejak dua tahun lebih intens menggarap pasar wilayah Labuan Bajo dan wisata pantai Indonesia Bagian Timur itu.

Dia kemudian menunjuk kawasan yang saat ini bermunculan homestay di jalur jalan ibukota Manggarai Barat itu. Perekonomian menjadi lebih hidup.

Mahal

Jalan Soekarno Hatta yang sempit, berubah menjadi pusat usaha ekonomi kerakyatan sebagai upaya peningkatan usaha konvensional. Akibat bombardir dari modal besar pengusaha luar Jalan pun mulai beraspal hotmix.

Semua menjadi berharga mahal. Kafe-kafe bermunculan. Hitungan harga menjadi kelipatan puluhan ribu rupiah. Satu gelas minuman teh, kopi, jeruk atau jus bisa menjanjikan keuntungan banyak sekali.

Sepiring pisang goreng ada yang membanderol Rp 65.000. Para pemain bisnis kuliner seperti Ikan Bakar Cianjur juga sudah meramaikan pariwisata setempat. Ditambah lagi hadirnya pengusaha kuliner asal Bali.

Seperti halnya bule-bule berseliweran di Kota Yogyakarta setiap harinya, berjalan kaki kesana kemari terutama dari kawasan Prawirotaman atau Sosrowijayan, begitu pula yang kini terlihat di Manggarai Barat.

Semua perangkat pendukung pariwisata pun menggeliat serentak. Kamar hotel berbintang dengan fasilitas dan pelayanan sederhana dibanding hotel-hotel berbintang di Yogyakarta pun, bisa dijual lebih dari Rp 1 juta satu kamar semalam.

Itulah sebabnya banyak orang kaya berlomba menanamkan modal di sektor perhotelan di sana. Ternyata, salah satu di antaranya Setya Novanto.

Mantan Ketua DPR RI yang sedang kesandung kasus korupsi itu disebut-sebut juga membangun hotel persis di sebelah Hotel Laprima.

“Bentuknya lebih cenderung ke cottage. Sudah berjalan pembangunannya, tapi kemudian mangkrak,” kata Irvan sambil menunjukkan lokasi properti yang dibangun Setnov tersebut. Ketika koranbernas.id ke lokasi, memang sudah tidak ada aktivitas pembangunan.

Di ibukota Kabupaten Manggarai Barat yang luasnya tidak lebih dari sebuah kecamatan di Pulau Jawa ini, juga marak pembangunan villa-villa.

Satu villa, menurut Irvan, disewakan sekitar Rp 20 juta semalam Rata-rata berlantai tiga ke bawah dengan pemandangan indah di tepian laut.

Sebagai pelaku bisnis pariwisata, Irvan sangat merasakan jalan yang semula tanah becek, berkat campur tangan Jokowi menjadi jalan beraspal hotmix. Dampaknya sangat positif.

Dulu, katanya, apabila mengantar tamu ke berbagai bagian kota rasanya sedih karena jalanan berlumpur saat hujan, kini menjadi nyaman.

Ke depan, bisnis pariwisata di kawasan Labuan Bajo dan sekitar Pulau Komodo, di antara lebih dari seratus pulau yang bertebar bak taman surga di tengah hamparan air laut Flores dan Selat Makassar, akan menjadi harapan baru wilayah tersebut.

Apalagi mengingat di sepanjang Simpang Pede, yang berujung di laut dekat Hotel Jayakarta bintang lima itu, kiri kanan konon sudah dikapling-kapling untuk didirikan bangunan cottage dan sejenisnya.

Pasti, Manggarai Barat dan Labuan Bajo akan semakin maju. Semoga tidak meninggalkan kearifan lokal dan ciri khas daerahnya.

Yang terpenting, penduduk asli tetap memperoleh bagian rezeki, jangan sampai mereka hanya menjadi penonton gemuruh pembangunan di tanah kelahirannya. (sol)

 



Senin, 03 Sep 2018, 18:10:00 WIB Oleh : Arie Giyarto 266 View
Ratusan Pulau Tertancap di Laut, Begitu Molek
Senin, 03 Sep 2018, 18:10:00 WIB Oleh : Redaktur 459 View
Kota Thaif yang Sejuk, Tidak Terasa Arab Saudi

Tuliskan Komentar