atas

Sejarah dan Identitas Keistimewaan Yogyakarta dalam Pameran Sonobudoyo

Sabtu, 01 Des 2018 | 13:53:14 WIB, Dilihat 306 Kali - Oleh Muhammad Zukhronnee Ms

SHARE


Sejarah dan Identitas Keistimewaan Yogyakarta dalam Pameran Sonobudoyo GKR Hayu didampingi Kepala Museum Diah Tutuko Suryandaru mengamati koleksi museum Sonobudoyo saat pembukaan Pameran Temporer di Museum Sonobudoyo Jumat (30/11/2018) malam. (Muhammad Zukhronnee Ms/Koranbernas.id)

Baca Juga : Bantul dan Kulonprogo Siapkan Lahan untuk Pendirian Embarkasi Haji DIY


KORANBERNAS.ID -- Museum Sonobudoyo menggelar pameran kontemporer  bertajuk "Sonobudoyo: Sejarah dan Identitas Keistimewaan". Pemilihan tema pameran tahun ini tak lepas dari usia museum yang telah mencapai 83 tahun sejak didirikan pada tahun 1935.

Perjalanan panjang sebuah lembaga kebudayaan, Museum Sonobudoyo telah melampaui tiga zaman sejak masa pendudukan pemerintah Hindia Belanda, hingga bergabungnya Negara Yogyakarta pada embrio negara baru, Indonesia.

Kurator pameran, Ery Sustiadi saat pembukaan Pameran Temporer Museum Sonobudoyo (30/11/2018) menyampaikan, koleksi yang dipamerkan tidak hanya dari jawa saja, tapi juga karya masterpiece dari area Sunda, Cirebon, Jawa, Bali dan Lombok.

Sebagai interaksi dengan pengunjung, museum memperlihatkan secara langsung bagaimana konservator melakukan perawatan terhadap koleksi sebagai wujud pelestarian. 

"Upaya ini diharapkan membuat usia koleksi menjadi lebih panjang sehingga dapat dinikmati oleh generasi mendatang," imbuh Ery.

Meski pameran temporer kali ini tidak lagi menggandeng kurator dan tim ahli dari luar negeri, Ery menegaskan bukan berarti museum tidak membutuhkan, tapi setelah 4 tahun belajar dari tenaga ahli dari luar negeri, dengan segala kerendahan harti kami memberanikan diri memberdayakan tim ahli dari museum Sonobudoyo.

Sejarah dan identitas Yogyakarta sebagai cikal bakal keistimewaan juga ditampilkan dalam pameran kali ini. Sebagai kota yang syarat dengan filosofi melalui keteraturan, serta keharmonisan tata ruang yang memiliki keserasian kosmis dan religius. 

"Semua terbingkai dalam susunan sumbu imajiner dari parangkusumo laut selatan ke gunung merapi, mengisyaratkan kelahiran anak manusia yang akhirnya kembali kepada Sang Pencipta," terang Ery.

GKR Hayu selaku perwakilan dari keraton Yogyakarta mengakui semangat melestarikan kebudayaan akhir-akhir ini menggeliat. Tentunya hal ini harus selalu didukung, terutama oleh museum sonobudoyo sebagai penggiat pelestarian budaya.

GKR Hayu menambahkan dunia permuseuman Indonesia agaknya perlu berbenah, sistem pengelolaan koleksi hingga sistem pameran yang konvensional harus diubah. Museum harus bisa merespon perkembangan generasi milenial, bukan lagi sekedar ruang pamer yang hanya dikunjungi sekali lalu ditinggalkan. Tapi harus merupakan ruang inklusi bersama yang dapat dipergunakan segala informasinya oleh masyarakat.

Narasi keistimewaan yang telah melekat pada Yogyakarta sejak Pangeran Mangkubumi dapat pula ditemukan artefaknya pada pameran ini.

Sebut saja Babad Giyanti, Babad Mentawis dan Babad Ngayogyakarta. Merupakan artefak yang menjadi dokumen sejarah sekaligus penguat identitas keistimewaan Yogyakarta.

"Bagaimana museum itu harus berlomba dengan segala kegiatan intertainment dan segala kegiatan jempol gak penting di medsos. supaya tetap relevan dibenak masyarakat. maka mau gak mau kita harus hadir ditempat mereka pada ngumpul," terang GKR Hayu.

GKR Hayu mengamati Gender Kyai Retna Dumilah, Salah satu instrumen dalam gamelan Slendro Kyai Retna Dumilah milik Sultan Cakra Adiningrat II, dibuat tahun 1828 asal Bangkalan, Madura. (Muhammad Zukhronnee Ms/Koranbernas.id)

Menurut GKR Hayu masih banyak museum sangat bergantung pada pemerintah, sementara negara kita ini keperluannya banyak, mungkin museum belum tentu prioritas. Oleh sebab itu museum harus berlomba mendapat perhatian masyarakat, kalau ketertarikan masyarakat tinggi, otomatis funding-nya mengikuti.

"Semoga dari keraton dan sonobudoyo mampu membangun rumah yang layak. sehingga pada generasi berikutnya semua benda-benda sejarah kita yang berada diluar negeri bisa kembali kerumahnya. jadi kita harus membangun rumah yang layak supaya mereka mau pulang," pungkas GKR Hayu.

Pameran ini menghadirkan berbagai macam koleksi museum yang berasal dari masa Java Instituut. Tak hanya itu, koleksi hibah masyarakat dan pinjaman dari lembaga institusi lain turut dipamerkan. Koleksi dengan identitas keistimewaan Yogyakarta pun turut hadir memperkuat narasi wilayah ini sebagai daerah istimewa.

Pameran telah dibuka tanggal 30 November 2018 oleh GKR Hayu sebagai wakil dari Keraton Yogyakarta Sama halnya pada 83 tahun lalu ketika museum in diresmikan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono VIII.

Kepala Museum Sonobudoyo, Diah Tutuko Suryandaru menjelaskan bahwa pada pameran temporer kali ini, masyarakat diharapkan dapat melihat perjalanan panjang dari sebuah institusi museum yang telah berdiri sejak tahun 1935 hingga sekarang.

Ke depannya, museum akan membangun sebuah gedung ruang pamer baru yang diharapkan memberi narasi sejarah, terutama mengekspresikan budaya Jawa, serta memiliki visi menjadi museum berstandar internasional.

Oleh karenanya, pameran temporer ini menjadi salah satu momentum yang baik bagi museum untuk memperbaiki diri lagi sekaligus sebagai sebuah refleksi perjalanan panjangnya selama 83 tahun.(yve)



Jumat, 30 Nov 2018, 13:53:14 WIB Oleh : Sholihul Hadi 243 View
Bantul dan Kulonprogo Siapkan Lahan untuk Pendirian Embarkasi Haji DIY
Jumat, 30 Nov 2018, 13:53:14 WIB Oleh : Nanang WH 153 View
Perangkat Desa Tuntut Siltap Sama dengan UMK
Jumat, 30 Nov 2018, 13:53:14 WIB Oleh : Sari Wijaya 75 View
Bantul Siapkan Strategi Memudahkan Akses Keuangan

Tuliskan Komentar