atas1

Sebenarnya, APBN Bisa Capai Rp 5 Ribu Triliun

Sabtu, 13 Okt 2018 | 15:26:39 WIB, Dilihat 806 Kali
Penulis : Sholihul Hadi
Redaktur

SHARE


Sebenarnya, APBN Bisa Capai Rp 5 Ribu Triliun Idham Samawi (tengah) dan Eko Suwanto pada acara Sosialisasi Pancasila, UUD NRI 1945, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika, Sabtu (13/10/2018) di Edu Hostel Yogyakarta. (sholihul hadi/koranbernas.id)

Baca Juga : Sleman Paling Rajin Belajar


KORANBERNAS.ID – Anggota DPR/MPR RI Fraksi PDI Perjuangan Daerah Pemilihan DIY Drs H Idham Samawi menyatakan, sebenarnya Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) bisa mencapai jumlah Rp 5.000 triliun.

Ini bica terealisasi asalkan kontrak karya perusahaan-perusahaan pertambangan asing yang beroperasi di Indonesia segera diakhiri kemudian diambil alih (dinasionalisasi) oleh negara selanjutnya diserahkan pengelolaannya ke PT Pertamina. Hal ini sesuai dengan amanat UUD 1945 pasal 33.

“Jika seluruh kontak karya asing diakhiri maka APBN Indonesia bisa mencapai Rp 5.000 triliun, sekarang ini Rp 2.000 triliun,” ungkapnya saat Sosialisasi Pancasila, UUD NRI 1945, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika, Sabtu (12/10/2018), di Edu Hostel Jalan Letjend Suprapto Ngampilan Yogyakarta.

Peserta sosialisasi kali ini adalah pengurus anggota Fatayat Nahdlatul Ulama (NU) DIY. Tampak di barisan kursi depan Hj Ida Fatimah dari pondok pesantren (Ponpes) Al Munwwir Krapyak Yogyakarta.

Lebih jauh mantan bupati Bantul ini membeberkan kekayaan Indonesia sangat luar biasa. Dari luas wilayah saja sudah tergambar besarnya kandungan minyak bumi maupun emas.

Hanya saja, kekayaan Indonesia justru dikuasai oleh perusahaan-perusaahan asing. Mereka saat ini dihantui ketakutan apabila kontrak karya tersebut tidak bisa diperpanjang.

“Asing ketakutan habis-habisan begitu kontrak karyanya selesai kemudian dinasionalisasi. Jadi yang pro-asing niku sinten ta,” kata Idham.

Dia mengakui, saking besarnya kandungan tambang di perut bumi nusantara, perusahaan-perusaahan asing menjadikan Indonesia sebagai incaran.

Peserta sosialisasi dan narasumber menyanyikan lagu Yaa Lal Wathan. (sholihul hadi/koranbernas.id)

Dia kemudian menggambarkan perjalanan dengan pesawat terbang dari Jakarta ke Tokyo Jepang menempuh waktu tujuh jam melintasi wilayah empat negara.

Sedangkan perjalanan udara dari Sabang sampai Merauke bisa memakan waktu sepuluh jam lamanya.

“Di Eropa, numpak montor mabur dua jam sudah terbang melintasi beberapa negara. Kita sepuluh jam numpak montor mabur isih sak wilayah negara,” ungkapnya.

Idham Samawi prihatin Indonesia telanjur terpuruk karena kekayaan alamnya digadaikan ke pihak asing melalui sistem kontrak karya.

“Indonesia sugihe ora umum. Di dalam perut bumi ada gas, minyak, emas. Di atasnya ada uranium. Baru saja ditemukan tambang emas di Bayuwangi, Subang, Kalimantan Tengah, sugih tenan,” tambahnya.

Berbicara penuh semangat hingga berkeringat sampai-sampai AC (Air Conditioner) hotel seperti tidak dia rasakan dingin, Idham Samawi mengingatkan inilah saatnya menggugah kesadaran bangsa Indonesia supaya mereka mencintai negerinya. “Cinta tanah air bagian dari iman, hubbul wathan minal iman,” kata dia.

Sepakat dengan Idham Samawi, Ketua Komisi A DPRD DIY Fraksi PDI Perjuangan Daerah Pemilihan Kota Yogyakarta, Eko Suwanto ST MSi, menyatakan pentingnya ditumbuhkan kebanggaan menjadi orang Indonesia.

Indonesia sudah ditakdirkan oleh Allah SWT menjadi negara dengan beragam penduduk, suku bangsa, maupun bahasa. Mencari perbedaan di Indonesia itu sangat mudah tetapi itulah pemberian dari Allah SWT.

Perbedaan memang harus dinikmati, dirawat dan dijaga. “Lucu kalau semua orang di dunia ini lanang kabeh atau wedok kabeh,” ujarnya berkelakar.

Menurut Eko Suwanto, kehidupan masyarakat Yogyakarta merupakan contoh paling sederhana dari penerapan Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika dalam kehidupan sehari-hari.

Di provinsi ini setidaknya terdapat 380 ribu mahasiswa dari seluruh wilayah Indonesia. Mereka hidup berdampingan bersama 2,6 juta jiwa penduduk DIY serta 1,7 juta wisatawan. “Di Jogja kita beli gudeg tidak pernah ditanya agama?” ujarnya mencontohkan.

Untuk menyemangati para peserta sekaligus menumbuhkan kecintaan terhadap bangsa dan negara Indonesia, peserta sosialisasi menyanyikan lagu Yaa Lal Wathan.

Lagu karya KH Wahab Hasbullah ini populer di kalangan warga nadhliyyin. Liriknya berisi semangat cinta tanah air.

Siapa datang mengancammu kan binasa di bawah durimu,” ujar Eko Suwanto menyanyikan sepenggal syair lagu tersebut. (sol)



Sabtu, 13 Okt 2018, 15:26:39 WIB Oleh : Nila Jalasutra 774 View
Sleman Paling Rajin Belajar
Jumat, 12 Okt 2018, 15:26:39 WIB Oleh : W Asmani 792 View
Milenial Harus Punya Dua atau Tiga Pekerjaan
Rabu, 10 Okt 2018, 15:26:39 WIB Oleh : Sholihul Hadi 763 View
Para Santri Tak Perlu Diragukan Lagi

Tuliskan Komentar