TNI-stipram

Sebaran Bunga, Penuntun Lakon Sakral

Senin, 05 Nov 2018 | 21:57:18 WIB, Dilihat 169 Kali - Oleh Putut Wiryawan

SHARE


Sebaran Bunga, Penuntun Lakon Sakral GENDER KESAYANGAN — Ki Surono Purbacarita atau Ki Surono Gondocarita, bersama gender kesayangannya. Sebagai dalang, ia memiliki sendiri berbagai perlengkapan seperti wayang dan gamelan. (Foto: Putut Wiryawan/Koran Bernas).

Baca Juga : Berkat Kodok, Mariah Carey Mau Menyanyi di Borobudur


SETELAH beberapa saat memainkan tiga gunungan di atas layar putih, dalang itu membungkuk sejenak. Rupanya, sembari tangan kiri memegang satu gunungan yang sepertiga puncaknya muncul di layar, tangan kanannya meraih segenggam bunga mawar merah dan putih yang bercampur dengan bunga kanthil dan kenanga. Bunga itu disiapkan di bawah batang (gedebog) pisang yang membentang di bawah kelir. Seiring cempala yang dijepit di kaki memukul keprak untuk penanda peningkatan tempo bunyi irama gamelan, bunga dalam genggaman tadi disebar ke atas, jatuh di pangkuan sang dalang.

Itulah gaya seorang Surono Gondocarito, ketika tampil sebagai dalang memenuhi permintaan warga masyarakat empat pedukuhan di Desa Krakitan, Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten. Pada Jumat Wage, 21 September 2018 lalu, dalam rangka kegiatan tradisi masyarakat “Bersih Dusun”, warga empat pedukuhan menggelar wayang kulit semalam suntuk di Pedukuhan Pojokan. Empat pedukuhan itu adalah Sutojayan, Pojokan, Bendungan dan Batilan. Lakon yang dimintakan kepada dalang Ki Surono Gondocarito adalah “Pendhawa Syukur”.

Tidak setiap kali tampil mendalang, Ki Surono menggunakan ritual menyebar bunga setaman. “Itu lakon sakral. Maka saya harus menggunakan cara yang berbeda untuk mengawali wayangan,” tutur Surono kepada Koran Bernas pekan lalu di rumahnya, lereng pegunungan Seribu, Kabupaten Gunungkidul. Tempat tinggal Surono memang terletak di perbatasan antara Gunungkidul dan Klaten; atau antara DIY dan Jawa Tengah. Persisnya, Pedukuhan Trembono, Desa Tegalrejo, Kecamatan Gedangsari, Kab. Gunungkidul.

Kisah Pandhawa Syukur bertutur tentang perjuangan Pandawa Lima seusai lolos dari kebakaran hebat tempat mereka tinggal, Bale Sigala-gala. Pandawa kemudian diberi hutan Wanamarta yang terkenal angker karena ditinggali kerajaan jin. Hutan Wanamarta harus dibuka oleh Pandawa untuk tempat tinggal dan membangun kerajaan baru.

Usaha pembangunan itu menghadapi banyak rintangan, terutama oleh lima jin raksasa, yakni Yudhistira, Dandonwacana, Dananjaya (Suparto), Detya Sapujagad (Nakula) dan Detya Sapulebu (Sadewa). Para jin itu marah karena kerajaan mereka dirusak oleh Pandawa.

 Akhirnya, lima raksasa tadi dapat dikalahkan oleh Pandawa dan masing-masing jin menyatu ke dalam setiap sosok dari Pandawa. Yudhistira menyatu ke tubuh Puntadewa, Dandonwacana menyatu dengan Brotosena, Dananjaya menyatu dengan Janoko, Detya Sapujagad (Nakula) menyatu dengan Pingsen dan Detya Sapulebu (Sadewa) menyatu dengan Tangsen. Pandawa pun bersyukur karena berhasil membangun negara baru bernama Amarta.

Lalu mengapa menjadi lakon sakral? Surono menjelaskan, “Karena ada tokoh utama yang gugur. Raja jin dan adik-adiknya yang kemudian menyatu dengan Pandawa Lima!”

Gagal sekolah

Sebagai dalang, Surono yang juga memiliki nama Ki Surono Purbacarita, selain Surono Gondocarito, memang lahir dari keluarga seniman. Ayahnya, Suyitno (69) juga seorang dalang wayang kulit yang belajar otodidak. Kakek Surono, juga seorang seniman ketoprak yang cukup kondang pada zamannya.

MEMBUAT GAMELAN — Ki Suyitno (69), ayah Ki Surono, selain sebagai dalang, kesibukan sehari-harinya membuat gamelan dari bahan besi. (Foto: Putut Wiryawan/Koran Bernas).MEMBUAT GAMELAN — Ki Suyitno (69), ayah Ki Surono, selain sebagai dalang, kesibukan sehari-harinya membuat gamelan dari bahan besi. (Foto: Putut Wiryawan/Koran Bernas).

Suyitno, semenjak Surono semakin laris menerima panggilan, mengurangi banyak sekali mendalang pada malam hari. “Bapak juga masih ndhalang, tapi hanya sebatas kalau ada tanggapan siang hari. Kalau malam dilimpahkan ke saya,” kata Surono sambil membersihkan tangannya yang terkena naptol coklat. Ketika ditemui, lelaki ini memang baru mengerjakan pewarnaan batik dengan naptol dipadu pewarna alam. Ia memang memiliki usaha batik dengan merk Kalimosodo.

Sejak kecil, Surono memang sudah menyukai wayang. Kegiatan mendalang dalam taraf main-main, ia lakukan sejak kelas IV SD. Ketika duduk di bangku kelas I Madrasah Tsanawiyah Muhammadiyah Bayat, Klaten, Surono remaja mulai serius mendalang.

Darah seni agaknya memang banyak mengalir dalam diri Surono. Ayah tiga anak ini senang menggambar. Sambil bersekolah, ia bekerja sebagai tukang gambar pola batik di Bayat, Klaten. Ia berpindah dari satu juragan ke juragan lain. Uang jajan yang ia peroleh, membuatnya agak lupa sekolah. Surono bahkan selepas MTs sempat tidak sekolah selama setahun. Selama itu, ia juga pernah ikut tukang instalasi listrik.

Akibatnya, keinginannya memperdalam ilmu seni  harus dipupus. Ia tidak dapat diterima masuk ke SMKI gara-gara umurnya kelewat setahun lebih tua. Waktu itu, masuk SMKI memang hanya dibatasi umur. Bukan NEM. Kegagalan ini membuatnya harus masuk ke SMA di Bayat, Klaten. Tentu SMA swasta, yang lebih longgar soal batasan usia.

Tekadnya kemudian membara lagi untuk menuntut ilmu lebih tinggi. Lulus SMA, pemuda Surono mencoba mendaftar ke ISI. Lagi-lagi usaha masuk ke pendidikan seni gagal. Penyebabnya, nilai pelajaran Bahasa Inggris Surono rendah. “Saya gagal karena ndak bisa nggarap soal Bahasa Inggris. Kalau soal praktik seninya, saya bisa,” ujar aktivis Pepadi (Persatuan Pedalangan Indonesia) Cabang Gunungkidul ini terkekeh.

Kini, nama Surono dalam dunia pedalangan gaya Surakarta berada di papan menengah ke atas dan cukup laris.  Setidaknya, ini dapat dilihat dari banyaknya permintaan mendalang, yang rerata belasan kali per bulan. Posisi itu ia dapatkan dengan banyak belajar ke dalang-dalang kondang lain. Selain belajar kepada ayahnya. Otodidak.

Sekalipun pembawaannya energik dan suka bicara blak-blakan, ketika ditanya soal biaya tanggapan, ia merendah. “Ah, saya ini cuma dhalang ndesa. Saya biasanya minta sekitar 17 sampai 20 juta. Itu sudah komplit lho! Wayang, gamelan, soundsystem dan genset. Penanggap tinggal menyediakan tempat dan konsumsi,” kata pemilik Sanggar Kalimosodo ini. Bila sedang di atas panggung, biasanya pas limbukan. Seperti dalang-dalang lain, ia biasanya membahasakan begini, “Aku ki gampang kok Nok. Ora ngarep-arep bayaran. Aku sak kanca ki ikhlas. Sing penting angger kebutuhan ngomah dicukupi..”.

Tentang seni pedalangan, Surono sekarang juga merasa lebih senang. Anak sulungnya, Wisnu Aji Hardani yang sekarang bersekolah di SMKI Surakarta Jurusan Kerawitan, tahun 2018 ini menjadi “Penyaji Sabet Terbaik” dalam festival dalang se Kabupaten Gunungkidul. Dua adik Wisnu, yang semua perempuan, juga menyukai gamelan, seni tari dan tarik suara. (putut wiryawan)

 

Artikel ini juga dimuat di Koran Bernas versi cetak edisi 26 Oktober 2018.

 



Senin, 05 Nov 2018, 21:57:18 WIB Oleh : Muhammad Zukhronnee Ms 183 View
Berkat Kodok, Mariah Carey Mau Menyanyi di Borobudur
Senin, 05 Nov 2018, 21:57:18 WIB Oleh : Yvesta Putu Sastrosoendjojo 292 View
Kecelakaan Motor, Paku Alam X Dirawat di Sardjito
Senin, 05 Nov 2018, 21:57:18 WIB Oleh : Nila Jalasutra 81 View
Bupati Ingatkan LPJ Bukan Sekadar Formalitas

Tuliskan Komentar