atas1

Sapi Mendadak Mati, Pedukuhan Awasi Keluar Masuk Ternak

Sabtu, 29 Jun 2019 | 17:48:09 WIB, Dilihat 410 Kali - Oleh Muhammad Zukhronnee Ms

SHARE


Sapi Mendadak Mati, Pedukuhan Awasi Keluar Masuk Ternak Penguburan sapi oleh petugas. Sapi milik Jumiyo warga RT 3 pedukuhan Grogol IV ini ditemukan mati pada Kamis (27/6/2019). (Dokumentasi Dukuh Grogol IV)

Baca Juga : Putri Babinsa Wakili Brebes di Ajang OSN Manado


KORANBERNAS.ID -- Berpacu dengan waktu, Menjelang Idul Adha Pemerintah Kabupaten Gunung Kidul, Yogyakarta melalui Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) bersama aparat desa terkait sangat serius menangani kasus antraks di wilayahnya.

Penanganan wabah antraks semakin dimantapkan paska matinya sapi kedua milik Jumiyo warga RT 3 Pedukuhan Grogol IV secara mendadak Kamis (27/6/2019). Anakan sapi berumur setahun ini sempat mendapat vaksin dan perawatan, bahkan sempat terlihat sehat selama berminggu-minggu selepas matinya sang induk yang positif terjangkit antraks 19 April 2019 silam.

Pemantapan yang dikoordinasikan antar aparat desa terkait dilaksanakan Jumat (28/6/2019) di balai desa Bejiharjo, Kecamatan Karangmojo, Gunungkidul. Tak hanya dengan melokalisir daerah endemik hingga radius satu kilometer untuk zona merah, bersama dengan Dinas Kesehatan dan DPP Gunungkidul juga menyiapkan posko antraks yang tersebar di lima titik.

Kelima titik tersebut antara lain di Kecamatan Panggang, Semin, Ponjong dan Pathuk. Aparat desa setempat bekerjasama dengan polsek dan danramil nantinya akan fokus melakukan pengawasan dan pengendalian hewan ternak yang keluar masuk di dusun tersebut.

"Posko ini dibangun untuk pengawasan keluar masuknya hewan ternak di Grogol, khususnya Grogol IV," ujar Camat Karangmojo, Marwatahadi di sela Sosialisasi dan Koordinasi Penanganan Kasus Antraks di Balai Desa Bejiharjo, Jumat (28/6/2019).

Menurut Marwatahadi, posko tersebut akan efektif berfungsi minggu depan. Selain hari-hari biasa, intensitas pengawasan akan ditingkatkan pada hari pasaran jual beli hewan ternak di Bejiharjo.

Diharapkan upaya tersebut bisa efektif untuk mensterilkan Grogol dari bakteri antraks. Sehingga, hewan ternak di dusun tersebut bisa kembali sehat untuk diperjualbelikan menjelang Idul Adha mendatang.

"Diagendakan posko nanti akan dibuka saat pasaran Kliwon dan Wage saat banyak hewan ternak keluar masuk ke gunungkidul," paparnya.

Sementara Dukuh Grogol IV Ribud Priyanto kepada koranbernas.id menceritakan, sejak indikasi awal yang menyatakan ternak warganya positif terkena antraks sebenarnya sudah dilakukan upaya-upaya sterilisasi dan vaksinasi.

Ikhwal indikasi spora antraks yang beredar ini justru diketahui setelah salah satu sapi warga sampai dipenjagal awal April lalu. Kecurigaan terhadap limpa sapi yang berbeda kemudian dilaporkan ke petugas kesehatan pasar. Lalu petugas melakukan penelusuran asal muasal sapi tersebut.

"Sesampai di Grogol IV pengecekan dilakukan hingga ke tanah sekitar kandang, akhirnya ditemukan spora antraks di salah satu kandang ternak milik warga kami, semenjak itu sosialisasi dan tindakan segera kami lakukan," paparnya.

"Penutupan kandang dengan cor semen hingga penyemprotan berkala pada kandang ternak hingga tanah sekitar kandang dilaksanakan diseluruh peternak di daerahnya, selain itu vaksinasi pada hewan ternak juga rutin dilakukan," imbuh Ribud.

"Spora antraks yang bisa bertahan hidup bertahun-tahun ini mengharuskan tahapan-tahapan sterilisasi harus terus dilakukan, jadi memang tidak bisa serta merta hilang, meskipun sejauh ini sudah terkendali, namun pemilik ternak tetap was-was hewannya terjangkit," lanjutnya.

Dalam Sosialisasi dan Koordinasi Penanganan Kasus Antraks di Balai Desa Bejiharjo, Jumat (28/6/2019). Ribud juga menyampaikan harapannya. Agar masyarakat yang ternaknya mati terkena wabah antraks juga mendapatkan kompensasi ganti rugi dari pemerintah.

"Ini kan wabah, tidak ada satupun dari kita yang berharap mendapatkannya, semoga saja mendapat kompensasi yang layak dari pemerintah, gak penuh gak apa-apa, tapi paling tidak meringankan beban kehilangan dari peternak," terang Ribud.

"Dengan kepastian kompensasi diharapkan peternak tidak akan menjual ternaknya ke belantik, karena kadang ada juga oknum belantik yang mau membeli murah hewan yang kurang sehat tersebut," pungkas Ribud.



Sabtu, 29 Jun 2019, 17:48:09 WIB Oleh : Redaktur 522 View
Putri Babinsa Wakili Brebes di Ajang OSN Manado
Sabtu, 29 Jun 2019, 17:48:09 WIB Oleh : Muhammad Zukhronnee Ms 508 View
Patut Ditiru, Rekonsiliasi ala Komedian Ini
Jumat, 28 Jun 2019, 17:48:09 WIB Oleh : Redaktur 526 View
Polbangtan YoMa Dampingi Petani Daerah

Tuliskan Komentar