atas

Sampai Jumpa di Ngayogjazz 2019...

Minggu, 18 Nov 2018 | 22:21:50 WIB, Dilihat 1413 Kali - Oleh Muhammad Zukhronnee Ms

SHARE


Sampai Jumpa di Ngayogjazz 2019... Ozma Quintet grup musik asal Prancis tampil di Panggung Jagatirta Ngayogjazz 2018 Desa Gilangharjo Pandak Bantul, Yogyakarta (17/11/2018). (muhammad zukhronnee ms/koranbernas.id)

Baca Juga : Desa Kalipucang Rawan Bencana, Ada Bukit Berpotensi Longsor


KORANBERNAS -- Burung Garuda berukuran satu setengah meter dan bendera merah putih diarak keliling Desa Gilangharjo Pandak Bantul. Perempuan-perempuan desa berbusana mekhak kreasi mengawalnya.

Diiringi terompet, tabuhan perkusi perkakas rumah tangga mulai dari ember, blek wadah kerupuk dan jerigen air, mereka berarak penuh sukacita.

Superman KW, manusia egrang, Si Buta dari goa hantu lengkap dengan Kliwon monyetnya mengawali iring-iringan. Suasana yang riuh itu menggelitik penonton. Sambil berjejal mereka mengabadikan momen tersebut dengan gawai masing-masing.

Panggung Jagabaya seolah-olah menjadi panggung utama Ngayogjazz 2018 ini, paling besar dibanding lima panggung lainnya. Para MC bergabung naik panggung itu. Ada  Bambang Gundul, Lusi Laksita, Hendro Pleret, Alit Jabang Bayi, Gundhissos, Gepeng KK, Firasasmita, Diwa Hutomo dan Anggrian Simbah.

Susilo Nugroho atau akrab dikenal sebagai Den Baguse Ngarso, aktor teater dan pelawak ini berperan sebagai perwakilan warga Gilangharjo dan didhapuk membuka Ngayogjazz 2018.

Sejenak usai prosesi pembukaan, Syaharani dan grupnya Queenfireworks, sosok ikonik dunia Jazz tanah air ini langsung menggebrak Panggung Jagabaya dengan lagu Sayang, sayang, sayang. Penonton sontak bersenandung dan bergerak mengikuti.

Setidaknya lebih dari 40 kelompok musik dan ratusan seniman dari Indonesia maupun luar negeri tampil di Ngayogjazz 2018. Enam panggung disiapkan terpisah di seluruh Desa Gilangharjo.

Salah satunya OZMA Quintet yang memadukan Rock Elektronik dan Jazz di Panggung Jagatirta. Quintet asal Prancis ini mendefinisikan diri mereka sebagai grup yang cukup nyentrik.

Bayangkan, apa jadinya jika musik jazz bertemu dengan musik elektronik dan rock? OZMA adalah jawabannya.

Grup yang digawangi oleh lima orang dari Prancis ini seakan-akan mendobrak tatanan yang ada sehingga memberikan warna yang unik.

Quintet yang enerjik ini digawangi oleh Stéphané Scharlé (dram/komposisi) dan Edouard Séro-Guillaume (bass/ komposisi) sebagai penggagas ide-ide di balik komposisi garapan OZMA.

Ada juga Julien Soro (saksofon), Guillaume Nuss (trombon), dan Tam De Villiers (gitar) menjadi bagian yang mengisi kerangka sehingga menjadikan komposisi yang digarap OZMA menjadi satu kesatuan yang utuh.

OZMA  memang sedang mengadakan World Tour ke beberapa negara tahun ini, termasuk Indonesia. Kali ini adalah penampilan perdana mereka di panggung Ngayogjazz.

Idang Rasjidi, Djaduk Ferianto dan Tompi menutup Ngayogjazz 2018 di Panggung Jagabaya Desa Gilangharjo, Pandak Bantul, Sabtu (17/11/2018) malam. (Dokumen Ngayogjazz 2018)

Penonton hanya mengerti musik mereka, tiga komposisi dibawakan dan selalu diakhiri aplaus yang riuh. Kemudian saat Edouard memperkenalkan diri dan teman-temannya penonton bahkan MC kurang mengerti karena Prancis satu-satunya bahasa yang mereka pahami.

Hadirnya Ngayogjazz sesuai dengan visi misi Desa Gilangharjo, salah satunya mengembangkan dan melahirkan kembali peradaban bumi Mataram dari sisi seni dan budaya seluas-luasnya.

Ngayogjazz berhasil menempatkan desa bukan hanya sebagai obyek tetapi lebih dari itu. Masyarakat desa selalu menjadi mitra yang mutual. Peran aktif warga desa menjadi energi positif yang berimbas pada konsistensi pelaksanaan Ngayogjazz hingga kini.

Sampai pukul 23:00 pertunjukan masih berlangsung, setelah Tohpati dan grupnya tampil memukau di Panggung Jagatirta, penonton mulai merapat ke Panggung Jagabaya. Bukan tanpa alasan Idang Rasjidi dan Tompi tampil sekaligus menutup acara Ngayogjazz 2018.

"Mana Djaduk, mana Djaduk Ferianto?" tanya Idang Rasjidi lewat pengeras suara di akhir penampilannya malam itu.

"Terima kasih Jogja, mari kita tutup malam ini dengan yahud dan cantik, mari kita sama-sama mengangkat tangan, ayo kita bikin Jogja ini menjadi contoh untuk kota lain, bahwa ini Jogja. Anda tenang di sini, gak ada ribut-ribut, hidup Jogja," seru Idang Rasjidi diikuti pekik penonton dengan teriakan yang sama, "Hidup Jogja... Hidup Jogja".

Djaduk Ferianto, seniman, musisi, budayawan yang juga penggagas Ngayogjazz ini pun naik panggung. Bersama Idang Rasjidi, Tompi dan Margie Segers mereka menutup Ngayogjazz 2018.

Melalui akun twitter-nya Tompi mengungkapkan kekagumannya akan penyelenggaraan Ngayogjazz 2018. Sekaligus menyentil Bekraf dan Dinas Pariwisata.

"Bermusik itu layaknya berkenduri... Melihat acara semalam, saya tertegun musik menjadi energi menghidupkan kampung. Hormat untuk panitia @djaduk @idangrasjidi untuk kolaborasinya semoga berikutnya @BekrafID, dinas pariwisata/budaya bisa terlibat tidak hanya sebatas doa-doa," cuit Tompi. Sampai jumpa di Ngayogjazz 2019. (sol)



Minggu, 18 Nov 2018, 22:21:50 WIB Oleh : Sari Wijaya 568 View
Desa Kalipucang Rawan Bencana, Ada Bukit Berpotensi Longsor
Minggu, 18 Nov 2018, 22:21:50 WIB Oleh : Prasetiyo 3871 View
Penilaian Pakar, Pendidikan Kita Salah Arah
Minggu, 18 Nov 2018, 22:21:50 WIB Oleh : Sholihul Hadi 591 View
Kedatangan Caesar Hito Bikin Peserta Audisi Bertengkar

Tuliskan Komentar