atas1

Saat Prof Djamaludin Berjoget Ikuti Penari Badui

Sabtu, 22 Jun 2019 | 22:44:19 WIB, Dilihat 364 Kali - Oleh Sholihul Hadi

SHARE


Saat Prof Djamaludin Berjoget Ikuti Penari Badui Prof Djamaludin Ancok berjoget saat pembukaan pameran Serat Holistik Kehidupan, Sabtu (22/6/2019) petang, di Jogja Gallery. (sholihul hadi/koranbernas.id)

Baca Juga : Ini Gambaran Suhu Dingin Berdasarkan Pranata Mangsa Jawa


KORANBERNAS.ID – Mengenakan stelan jas berpadu dasi merah, Guru Besar Pensiun Universitas Gadjah Mada (UGM) yang juga Ketua Program Studi Doktor Psikologi Universitas Gunadarma, Prof Djamaludin Ancok Ph D, tak canggung berjoget.

Ini terjadi saat pembukaan Pameran Tunggal Susilawati Susmono bertajuk Serat Holistik Kehidupan, Sabtu (22/6/2019) petang, di Jogja Gallery Alun-alun Utara Keraton Yogyakarta.

Prof Djamaludin berada tepat di belakang iring-iringan penari Badui dari Tim Budaya Pathok Negara Ploso Kuning. Dia yang pertama kali berjoget begitu iring-iringan tamu keluar dari Sasono Ondrowino menuju ruang pamer Jogja Gallery.

Joget spontan Prof Djamaludin itu ternyata diikuti tamu undangan lainnya maupun panitia. Bahkan Saskia Tasmin Utami sebelum menyanyi dilanjutkan prosesi pemotongan pita di depan pintu ruang pamer, dengan bersemangat ikut berjoget.

Pentas tari religi yang kental nuansa salawat ini memang selalu menarik perhatian publik. Gerakannya lucu dan terkesan monoton namun iringan musiknya hampir pasti membuat hati riang dan gembira.

Kehadiran Prof Djamaludin selain untuk membuka pameran, juga ingin memberikan dorongan supaya pemerintah memberikan perhatian kepada sosok-sosok yang memiliki prestasi luar biasa seperti Susilawati Susmono.

“Luar biasa dedikasi Ibu Susmono kepada bangsa. Karyanya sangat banyak,” ujarnya.

Apalagi dia sudah menghasilkan 3.682 karya seni mulai dari musik, tari termasuk Tari Dandang Gula yang dipentaskan sore itu, juga ada karya sastra, karya ilmiah bahkan kajian Al Quran.

Sebagian karya Susilawati Susmono yang dipamerkan. (sholihul hadi/koranbernas.id)

Prof Djamaludin berharap melalui pameran ini pemerintah tersentuh untuk membangkitkan kembali peradaban besar warisan bangsa ini.

“Ada Situs Gunung Padang di Cianjur yang mengubah pemikiran dunia. Luar biasa hebat, cuma kita kurang bagus untuk menyadarkan kehebatan nenek moyang kepada generasi kita,” ungkap Prof Djamaludin.

Yang terjadi saat ini kebanggaan terhadap kekayaan budaya sendiri sepertinya berkurang. “Nama-nama orang Jawa seperti Tukino, Slamet, Paijan, berubah menjadi nama Landa seperti Jefri atau Robin. Padahal nama Beja atau Thukul itu maknanya sangat bagus,” kata dia.

Dr Mikke Susanto MA selaku kurator menegaskan, karya Susilawati Susmono terbilang luar biasa. “Baru berkarya (seni rupa) tahun 2018. Berbeda dengan mahasiswa saya yang sejak kecil bercita-cita jadi perupa,” ucap dia.

Dari total 3.682 karya termasuk yang belum bernama, yang mengisi ruang pamer sekitar 300 frame saja. “Displainya rumit dan detail. Ruangan ini tidak akan pernah cukup memberi ruang bagi karya Susilawati. Pikiran manusia lebih luas dari ruang. Kita perlu belajar darinya,” tambahnya.

Ketua Panitia Ir Sandra Rina Sahelangi MBA menyampaikan pameran tunggal ini berlangsung hingga 3 Juli 2019. Adapun temanya Mengenal Bongkahan Emas dan Permata Diri, Bangsa dan Dunia.

Hadir pula dalam kesempatan itu Wakil Ketua DPRD DIY Arif Noor Hartanto. (sol)



Sabtu, 22 Jun 2019, 22:44:19 WIB Oleh : Sholihul Hadi 1627 View
Ini Gambaran Suhu Dingin Berdasarkan Pranata Mangsa Jawa
Jumat, 21 Jun 2019, 22:44:19 WIB Oleh : Redaktur 243 View
Cari Nafkah untuk Keluarga Itu Jihad
Jumat, 21 Jun 2019, 22:44:19 WIB Oleh : Sari Wijaya 2055 View
Bursa Calon Bupati Bantul Makin Meriah

Tuliskan Komentar