atas1

Saat Mujahid Musik Sikapi Arus Hijrah yang Berlebihan

Jumat, 23 Agu 2019 | 14:58:01 WIB, Dilihat 355 Kali - Oleh Muhammad Zukhronnee Ms

SHARE


Saat Mujahid Musik Sikapi Arus Hijrah yang Berlebihan Gus Fuad pengasuh pondok pesantren Rhoudhatul Fatihah (ROFA). (muhammad zukhronnee ms/koranbernas.id)

Baca Juga : Festival Band Sholawat 2019 untuk Semua Umat Beragama


KORANBERNAS.ID -- Tak bisa dipungkiri, ada ekses yang terjadi  terjadi pada kebanyakan individu secara personal saat mereka menggeluti dunia musik.

Yang pertama adalah kelompok ekstrem kiri yakni mereka yang merasa membutuhkan sesuatu untuk melengkapi kehidupan profesinya dengan mengkonsumsi narkoba dengan sejumlah faktor sebagai alasan pembenarannya.

Ekstrim kiri yang kedua yaitu kelompok yang mulai dihinggapi paham yang menerjemahkan istilah hijrah secara berlebihan, dengan menggunakan tafsir-tafsir tertentu yang lepas dari konteks situasinya.

Kelompok yang mulai menyentuh dan menghinggapi para musisi di Yogyakarta ini mulai mengharamkan music. Inilah perilaku yang dikhawatirkan mendegradasi esensi keindahan musik dan paham Islam itu sendiri.

Berangkat dari keprihatinan tersebut atas inisiasi beberapa musisi Yogyakarta lahirlah komunitas Mujahid Musik Indonesia di penghujung 2018.

Komunitas ini berjuang dan berkontribusi dalam proses menjadi insan Indonesia yang berbudaya melalui jalan musik melalui jargon Musik itu Halal.

Komunitas ini secara berkala berkumpul dalam wadah forum Jagongan bareng Gus Fuad yaitu acara pengajian yang dibahas secara santai, cair dan akrab seputar kehidupan praktis dari perspektif para pelaku seni budaya dan musik pada khususnya.

Dengan menggunakan bahasa-bahasa dan idiom yang berlaku di kalangan muda, forum tersebut direspons positif sebagai ruang dialog yang memberi khasanah dan pencerahan dalam kehidupan sosial berlandaskan moral dan agama.

Gus Fuad atau KH Muhammad Fuad Riyadi mengakui, sebagai kota Budaya, Jogja sudah dalam taraf mengkhawatirkan.

Kasus pelarangan bermusik oleh salah seorang kepala sekolah di Bantul kepada para siswanya beberapa waktu silam adalah contoh yang nyata.

"Hal ini menjadi penting segera diluruskan, karena Jogja barometer bagi kota-kota lain di Indonesia, kita melakukan dengan atau tanpa alasan di Jogja akan berdampak secara nasional," papar Gus Fuad saat temu media di Cengkir Heritage Resto Sinduharjo Sleman, Kamis (22/8/2019).

Gus Fuad adalah pengasuh pondok pesantren Rhoudhatul Fatihah (ROFA), sekaligus pelaku seni bertalenta kuat di bidang sastra, seni rupa dan musik. Khusus di bidang musik Gus Fuad mendirikan grup band rock bernama Rofa Band.

Rofa Band saat ini sedang terus berproses menelurkan karya-karya lagu berlirik Shalawat yang mengandung makna kecintaan kepada Kanjeng Nabi Besar Muhammad SAW dengan segala kisah-kisah keteladanannya. (sol)



Jumat, 23 Agu 2019, 14:58:01 WIB Oleh : Muhammad Zukhronnee Ms 393 View
Festival Band Sholawat 2019 untuk Semua Umat Beragama
Jumat, 23 Agu 2019, 14:58:01 WIB Oleh : Prasetiyo 205 View
Pencuri Kambuhan Ditangkap Warga Usai Beraksi
Jumat, 23 Agu 2019, 14:58:01 WIB Oleh : Sholihul Hadi 408 View
Borobudur High Land Masa Depan Pariwisata DIY-Jateng

Tuliskan Komentar