atas1

Risiko Surveilan pada Era New Normal

Rabu, 17 Jun 2020 | 14:52:38 WIB, Dilihat 233 Kali
Penulis : John de Santo
Redaktur

SHARE


Risiko Surveilan pada Era New Normal John de Santo (Foto: Koleksi Pribadi/Koran Bernas).

Baca Juga : Pengunjung dan Pedagang Pasar Prambanan Wajib Pakai Masker


UMAT manusia tengah dilanda krisis besar. Menurut Prof. Yuval Noah Harari, sejarawan, filsuf, dan penulis buku babon Sapiens: A Brief Story of Human Kind (2014), Covid-19 mungkin merupakan krisis terbesar yang dialami  generasi ini. Oleh karena itu, berbagai keputusan yang dilakukan manusia baik pada tingkat individual, maupun pada tingkat negara pada saat ini, akan membentuk tatanan dunia pada era baru. Salah satu yang akan bertahan nanti adalah sistem pemantauan sosial (social survellience) dalam rangka memerangi Covid-19. Apa kiranya risiko etis yang akan terjadi?

Dua Pilihan

Menurut Harari, keputusan yang kita ambil saat ini, tidak hanya akan membentuk sistem perawatan kesehatan, tetapi juga ekonomi, politik dan budaya. Keputusan harus dilakukan dengan cepat dan tegas, bukan hanya untuk mengatasi berbagai ancaman yang langsung dalam waktu dekat ini, tetapi juga berbagai akibat jangka panjang dari keputusan-keputusan yang kita lakukan sekarang ini.

Badai ini pasti berlalu, umat manusia akan selamat dan sebagian besar dari kita akan mememasuki sebuah era yang berbeda. Banyak langkah darurat yang diambil sekarang akan digunakan sebagai peralatan (fixture). Begitulah proses sejarah. Ia selalu terdorong oleh keadaan darurat.

Keputusan-keputusan yang dalam keadaan normal membutuhkan usaha sengaja selama bertahun-tahun, terjadi dalam hitungan jam pada masa darurat. Berbagai teknologi yang belum matang, atau mungkin berbahaya, dipaksa melayani kepentingan manusia, karena risiko untuk tidak melakukan apa-apa jauh lebih besar.

Semua negara kini serentak terlibat dalam proses uji coba. Apa yang terjadi ketika semua orang bekerja dari rumah dan hanya mengandalkan komunikasi jarak jauh? Apa yang terjadi, ketika semua sekolah dan universitas beroperasi secara online? Pada waktu normal, pemerintah,  dunia usaha dan dunia pendidikan, tidak pernah sepakat  melakukan eksperimen semacam itu.

Menurut Harari, pada masa krisis ini, dunia secara khusus berhadapan dengan dua pilihan penting, yakni pengawasan totalitarian (totalitarian survellience) atau pemberdaaan masyarakat (citizen empowerment).

Saat ini, untuk pertama kali dalam sejarah, teknologi memungkinkan pemantauan terhadap semua orang, nyaris sepanjang watu. Lima puluh tahun yang lalu, menurut Harari, KGB tidak mampu membuntuti warga negara Sovyet sejauh 240 m selama 24 jam. KGB juga tak mampu memproses secara efektif semua informasi yang terkumpul. KGB mengandalkan agen-agen dan analisis manusia untuk memproses informasi, tetapi tak mungkin ia menggunakan agen manusia untuk membuntuti setiap warga  Sovyet.

Legitimasi Sistem

Dalam rangka melawan virus korona, beberapa negara terutama China sudah menggunakan peralatan pemantauan terbaru. Memantau smartphone warga dengan menggunakan kamera dan mewajibkan penduduk untuk mengecek, melaporkan suhu tubuh, dan kondisi kesehatan mereka. Otoritas China tak hanya mengidentifikasi suspek pembawa virus korona, tetapi sekaligus menelusuri mobilitasnya termasuk dengan siapa mereka pernah mengadakan kontak fisik.

Artinya, ketika jari kita menyentuh layar monitor dan mengeklik sebuah link, pemerintah juga mengetahui apa yang sedang kita cari. Dalam kasus virus korona, pemerintah ingin mengetahui suhu dan tekanan darah kita dari jari kita.  

Data yang terkumpul kemudian dianalisis oleh algoritma pemerintah. Algoritma bahkan sudah mengetahui kondisi kesehatan kita yang buruk, sebelum kita mengetahuinya. Informasi mengenai rantai infeksi dapat dipotong secara drastis. Dengan sistem ini epidemi dapat dihentikan penyebarannya dalam hitungan hari.

Kedengarannya menarik bukan? Tapi tunggu. Menurut Harari, penerapan sebuah teknologi bukan tanpa risiko. Jika diteruskan hingga keadan normal, maka diperlukan legitimasi terhadap sistem pemantauan baru, yang tidak hanya menolong tetapi juga bisa berdampak mengerikan.

Jika otoritas pemerintah atau korporasi dapat memantau suhu tubuh, tekanan darah, dan detak jantung, manakala kita sedang menonton video klip tertentu misalnya, maka otoritas yang sama juga mampu mengetahui alasan yang membuat kita tertawa, sedih, atau marah – yang nota bene juga bersifat biologis, seperti demam dan batuk.

Data biometrik tersebut kemudian dikumpulkan secara massal. Pihak otoritas akan mendapatkan gambaran yang lebih baik tentang diri kita, tanpa kita sendiri menyadarinya. Data tersebut tidak hanya digunakan untuk memprediksi perasaan kita, tetapi bisa juga untuk memanipulasi perasaan kita, dan menjual  barang, jasa, atau bahkan ideologi politik kepada kita.

Jadi ke depan, apabila sistem pemantauan masyarakat akan digunakan sebagai peralatan tetap, maka panduan etika dan moral sangatlah diperlukan untuk menghadang penyalahgunaan teknologi tersebut, termasuk dalam menentukan, siapa sebenarnya yang paling berhak sebagai pemegang data, pemerintah atau korporasi. ***  

John de Santo

Dosen Program Studi Public Relations ASMI Santa Maria Yogyakarta; Pengasuh Rumah Belajar Bhinneka.



Rabu, 17 Jun 2020, 14:52:38 WIB Oleh : Nila Jalasutra 123 View
Pengunjung dan Pedagang Pasar Prambanan Wajib Pakai Masker
Rabu, 17 Jun 2020, 14:52:38 WIB Oleh : Sholihul Hadi 135 View
GL Zoo Matangkan Protokol Kesehatan, Tidak Latah Tergesa-gesa Buka
Selasa, 16 Jun 2020, 14:52:38 WIB Oleh : Redaktur 242 View
Menjadikan Sekolah Aman bagi Anak

Tuliskan Komentar