atas

Rentenir Itu Manis di Depan Pahit di Belakang

Kamis, 12 Jul 2018 | 16:50:55 WIB, Dilihat 490 Kali - Oleh Nila Jalasutra

SHARE


Rentenir Itu Manis di Depan Pahit di Belakang Sosialisasi pembiayaan Ultra Mikro (UMi) untuk pelaku usaha mikro serta masyarakat desa, Kamis (12/07/2018), di Aula lantai III Setda Kabupaten Sleman. (istimewa)

Baca Juga : Siswa Bawa Materai dari Rumah


KORANBERNAS.ID -- Wakil Bupati Sleman Dra Hj Sri Muslimatun MKes menghadiri sosialisasi pembiayaan Ultra Mikro (UMi) untuk pelaku usaha mikro serta masyarakat desa, Kamis (12/07/2018), di Aula lantai III Setda Kabupaten Sleman.

Di hadapan peserta yang terdiri dari aparat desa dan kecamatan se-Kabupaten Sleman serta Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait, Sri Muslimatun menyambut baik program tersebut, yang nantinya dapat membantu Pemerintah Kabupaten Sleman meningkatkan pembangunan dan menurunkan angka kemiskinan.

Dia menegaskan, program ini bagus karena bisa langsung menyentuh perekonomian masyarakat kecil, yang justru mampu bertahan terhadap gejolak ekonomi global.

“Usaha Ultra Mikro ini justru tahan dengan dinamika ekonomi dunia. Ketika perusahaan-perusahaan besar jatuh, usaha mikro dapat bertahan. Maka program ini harus dikembangkan untuk ketahanan ekonomi kita bersama,” ujarnya.

Usaha Ultra Mikro juga dapat menurunkan angka kemiskinan di Sleman yang  masih bertahan pada  angka lebih dari 9 persen. “Jadi,  targetnya menurunkan angka kemiskinan di bawah 8 persen pada tahun 2021,” kata dia.

Selain itu, juga mempermudah masyarakat  memperoleh pinjaman dana untuk usaha secara mudah sehingga tidak meminjam ke rentenir yang justru menjadi beban di kemudian hari.

“Rentenir kan kelihatannya manis di depan, tapi belakangnya pahit. Kalau program UMi ini di depan manis di belakangnya juga manis," tutur Sri Muslimatun.

Bertindak sebagai narasumber Kepala Bidang Pembinaan Pelaksanaan Anggaran (PPA) II Kanwil Ditjen Perbendaharaan Provinsi DIY, Ludiro.

Dia menjelaskan dana yang digunakan untuk program pembiayaan UMi tidak berasal dari perbankan seperti halnya Kredit Usaha Rakyat (KUR) tetapi berasal dari pemerintah.

Program ini memiliki keunggulan-keunggulan dibanding program lain seperti KUR. Kreditur akan mendapatkan bimbingan dan pembinaan dari pihak pelaksana.

Adapun teknis pelaksanaannya, menurut Ludiro, pemerintah menunjuk dua BUMN sebagai penyalur di antaranya PT Pegadaian dan PT PNM.

“Jadi bedanya dengan KUR, dalam program UMi ini nanti akan ada pembinaan dan pendampingan untuk masyarakat supaya pinjamannya dapat digunakan seefektif mungkin,” ucapnya.

Program UMi untuk masyarakat yang mempunyai aset minimal Rp 50 juta (selain tanah dan bangunan). Selain itu kreditur harus mempunyai omzet minimal Rp 300 juta per tahun.

Peminjaman lebih spesifik ditujukan untuk pelaku usaha dengan pembiayaan di bawah Rp 10 juta. Meski bunga pinjaman mencapai 2 digit, menurut Ludiro, hal tersebut akan sebanding dengan pendampingan yang akan didapat oleh penyalur.

“Pelaku usaha mikro itu kan omzetnya bisa sampai 100 persen dari modalnya. Ditambah lagi dengan adanya pendampingan. Jadi bunga itu ya relatif, dan besar bunga segitu itu masih bisa diterima oleh masyarakat. Karena masyarakat akan selalu kita bimbing dan dampingi,” jelasnya. (sol)



Kamis, 12 Jul 2018, 16:50:55 WIB Oleh : Masal Gurusinga 407 View
Siswa Bawa Materai dari Rumah
Kamis, 12 Jul 2018, 16:50:55 WIB Oleh : Sholihul Hadi 600 View
SAEXPO Dinantikan Para Pelaku Industri
Kamis, 11 Jun 2018, 16:50:55 WIB Oleh : Surya Mega 548 View
220 Bus Berangkatkan 13.000 Peserta Mudik Gratis Sido Muncul

Tuliskan Komentar