atas1

Ratusan Pulau Tertancap di Laut, Begitu Molek

Senin, 03 Sep 2018 | 18:00:33 WIB, Dilihat 773 Kali - Oleh Arie Giyarto

SHARE


Ratusan Pulau Tertancap di Laut, Begitu Molek Wisatawan bergembira menikmati indahnya Labuan Bajo, alam ciptaan Allah SWT yang luar biasa indahnya. (arie giyarto/koranbernas.id)

Baca Juga : Kota Thaif yang Sejuk, Tidak Terasa Arab Saudi


KORANBERNAS.ID — Tanah di gugusan kepulauan Nusa Tenggara Timur (NTT) memang tidak subur. Tanaman-tanaman tertentu saja yang bisa hidup di sana dan memberikan banyak hasil. Di antaranya kopi, kemiri dan jagung.

Gubernur NTT pada saat menerima ribuan peserta peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) yang dipusatkan di Kupang beberapa tahun lalu mengatakan, tanah NTT sebagai batu bertanah, bukan hanya tanah berbatu.

Tetapi Allah Maha Adil. Wilayah ini memiliki kekayaan laut melimpah ruah dan potensi kekayaan alam yang indah, yang bisa dijual bagi pendatang dan menghasilkan banyak uang. Tak heran sebagian masyarakat NTT bisa hidup dari sektor pariwisata dengan segala pendukungnya.

Banyak sekali paket yang ditawarkan. Salah satunya adalah menikmati keindahan gugusan lebih dari seratus pulau yang seakan-akan tertancap di laut dan tersebar begitu moleknya.

Dengan kapal, wisatawan menyeberang dari dermaga Pelataran atau dermaga lain di kawasan Labuan Bajo menuju Pulau Komodo.

Sebelumnya, kapal lebih dulu singgah di beberapa pulau. Di antaranya Pulau Padar. Di pulau ini pelancong bisa tracking yang sangat menyehatkan. Mendaki bukit yang masih perawan, dengan belaian angin pagi pembawa harum wangi bumi pertiwi yang baru saja disiram gerimis.

Persinggahan berikutnya Pulau Kalong yang dihuni jutaan kelelawar untuk melihat sunset. Ketika langit berubah jingga, di angkasa kelelawar tak terhitung jumlahnya mengepakkan sayapnya dengan riuh. Perlahan-lahan mentari tenggelam di balik cakrawala.

Menumpang kapal Codema IV berawak sembilan orang dengan kapten kapal Tyan, menumbuhkan sensasi tersendiri. Kapal sandar di laut untuk makan malam. Bau ikan goreng sangat menggoda sejak beberapa saat lalu.

“Kalau masih jalan seperti ini, periuk pun harus dipegangi supaya tidak tumpah,” kata Tyan kepada koranbernas.id yang duduk dekat ruang kemudi. Jadilah kami menyantap makanan lezat di atas kapal yang aman dari guncangan.

“Ini ada ikan goreng, telur dadar, sambal, nenas, sayur capjay, cumi goreng, kentang goreng dan beras rebus,” kata Pieter, tour leader mempersilakan tamunya untuk makan malam. Agak aneh di telinga ketika nasi disebut sebagai beras rebus.

Makan malam pun ditutup dengan buah pisang dan jeruk. Suasananya memberikan sensasi tersendiri. Sayang, tidak ada rembulan menggantung di langit sana.

Baru setelah makan malam selesai, kapten kapal yang sudah 19 tahun berpengalaman hidup di laut mengumumkan kapal segera berangkat lagi. Di laut yang tenang, kapal melaju membelah air, meninggalkan buih-buih berwarna putih.

Hari beranjak malam. Sebagian penumpang masuk kamar bersprei putih bersih dan ber-AC. Seperti hotel mini, kamar mandi dengan kloset duduk, shower untuk mandi dan wastafel di kamar yang sangat terang. Sebagian lagi memilih tinggal di minibar, menyeruput kopi hangat dengan aneka camilan.

Selebihnya masih menikmati sensasi pesiar dengan kapal yang diawali dengan pusing dan muntah. Ini karena ombak agak besar saat naik kapal speed boat sehingga muncul guncangan besar.

Dan, semua itu berakhir menggembirakan setelah bisa beristirahat semalam. Tidur dalam ayunan ombak kecil, bagi orang Yogyakarta yang pernah merasakan gempa dahsyat berkali-kali, mirip dengan sensasi gempa kecil.

Mau tahu sewanya? Rp 30 juta sekali jalan untuk 10 orang. Berangkat sore, sampai Pulau Komodo dan balik lagi ke Labuan Bajo esok malam.

Kapal berbobot 150 ton itu memiliki empat kamar. Dua di antaranya berukuran besar dengan dua tempat tidur. Masih bisa ditambah ekstra bed kalau perlu. Mahal memang, tetapi pelayanannya prima.

Makanan lezat olahan juru masak Juna melimpah ruah saat jam makan tiba. Baik makanan ala Eropa maupun Nusantara. Yang pasti tidak ketinggalan adalah olahan hasil lautnya.

Aneka buah segar potong selalu tersedia. Mangga, apel, melon oranye, semangka dan nanas. Ada juga pisang dan jeruk. Juice aneka rasa buah, juga selalu siap.

Kapal dilengkapi ruang atas yang terbuka kiri dan kanan, penumpang pun bisa tiduran di kursi-kursi malas beralas kasur dan selimut untuk menahan dingin udara laut.

Ada ruang makan terbuka, sehingga penumpang bisa menikmati makan dengan santai, sembari memandang permukaan air laut yang berpendar-pendar ditimpa lampu di malam hari. Atau sinar matahari di siang hari. Kala laut sedang tenang, benar-benar eksotis.

Tanpa mencarter kapal, berwisata ke Pulau Komodo bisa lebih murah lagi. Meski untuk menuju ke pulau berpenghuni hewan sangat langka di dunia itu juga harus naik kapal menuju tempat Komodo hidup dan berkembang biak.

Butuh waktu sekitar empat jam berlayar “Ada beberapa travel biro menanganinya. Atau jalan sendiri menggunakan jasa pemandu wisata pasti tidak senyaman carter kapal seperti ini. Padahal biayanya bisa Rp 2 juta atau bahkan lebih,” kata Irvan Muthalib, owner TX Travel Benhil menjelaskan kepada koranbernas.id.

Dengan kapal carter, pelancong bisa snorkeling (selam permukaan) atau diving, menyelam di perairan dangkal. Semuanya sudah diatur, jadi tidak perlu memikirkan peralatan yang diperlukan maupun pemandu yang berpengalaman.

Gunung dikepras

Di Manggarai Barat, pendatang juga bisa tracking di tempat lain. Gratis dan masih berada di pulau Flores. Di antaranya di Bukit Marina. Jalan menanjak sudah dibuat semacam “jalan tikus” sehingga memudahkan pengunjung mendaki.

Hanya saja matahari yang kering menyengat memang tidak bersahabat Kamis (28/12/2017) siang itu. Meski musim penghujan, tetapi hujan turun rata-rata hanya seminggu sekali.

 

“Sekarang jalan menuju ke sini sudah bagus, beraspal. Dulu jalan tanah, kalau habis hujan susah harus mengantar tamu. Jalannya setengah mati,” kata Anis, pengemudi minibus dari travel menjelaskan.

Kini setelah jalan diaspal, kawasan itu lebih banyak dikunjungi. Siang itu, sejumlah remaja datang berboncengan sepeda motor. Pengunjung bermobil datang dan pergi. Anehnya lagi, ada sekitar 15 orang naik truk terbuka pembawa crane.

“Dari Labuan Bajo saja kami, mumpung bisa numpang truk,” kata seorang ibu penumpang truk pengangkut alat berat itu. Maklum transportasi umum masih mahal di sana. Juga sulit. Gojek, Grab maupun Uber belum masuk wilayah itu.

Untuk melancarkan pesawat naik turun ke Bandara Komodo, menurut Anis, ada gunung yang dikepras karena mengganggu jalur penerbangan. “Itu di sebelah sana yang dikepras,” kata Anis menunjuk ke arah pesawat yang turun dari angkasa.

Meski jalan-jalan di Manggarai Barat sudah beraspal hotmix, namun lalu lintas relatif masih sepi. Jalan juga relatif sempit. Di Jalan Soekarno Hatta, kata Leo sang tour leader setengah bercanda, dua truk melintas saja sudah macet.

Di kota itu, hanya ada dua lampu lalu lintas. Itu pun saat menunggu bisa saja pengendara “melanggar dengan aman”. Selain sepi, juga tidak tampak polisi lalu lintas berjaga. Tetapi ternyata semua tertib, sabar menunggu giliran jalan.

Penduduk setempat mengaku banyak kemajuan di wilayah itu. Infrastruktur pendukung dibangun sesuai kebijakan Presiden Jokowi.

Usaha mengubah dari masyarakat tradisional dengan segala keterbatasannya menuju masyarakat modern sesuai perkembangan zaman memang sebuah keniscayaan yang tidak bisa dihindari.

Tetapi perlu diingat, kemajuan itu jangan sampai harus dibayar terlalu mahal. Sebagai wilayah yang dikelilingi pantai yang menakjubkan, banyak bule berpakaian bikini atau berbusana seenaknya dengan tenangnya melintas di depan umum.

Masyarakat setempat masih erat terbalut tata nilai kesopanan. Baik dalam berbusana maupun tata krama. Jauh-jauh hari harus dijaga jangan sampai menjadi Bali kedua.

Meski masyarakat Bali sangat tradisional menggenggam tata budaya dan nilai tradisi tohjebol juga oleh gemerlap kertas Dollar, Euero dan mata uang mancanegara lain yang membuat mata menjadi hijau. (sol)

 

 



Senin, 03 Sep 2018, 18:00:33 WIB Oleh : Redaktur 1386 View
Kota Thaif yang Sejuk, Tidak Terasa Arab Saudi
Senin, 03 Sep 2018, 18:00:33 WIB Oleh : Arie Giyarto 19405 View
Pemilik Hotel Termahal Itu Orang Indonesia
Senin, 03 Sep 2018, 18:00:33 WIB Oleh : Arie Giyarto 817 View
Cerita tentang Gajah Seharga Mobil Baru

Tuliskan Komentar