atas1

Pustakawan Penggerak Literasi

Senin, 07 Okt 2019 | 20:38:22 WIB, Dilihat 228 Kali - Oleh Muhammad Mufti AM

SHARE


Pustakawan Penggerak Literasi Muhammad Mufti AM

Baca Juga : Tanpa Surat Undangan, Warga Tidak Bisa Nyoblos


LITERASI untuk meningkatkan kesejahteraan dan daya saing saat ini cukup hangat diperbincangkan. Karena itulah, penguatan literasi menjadi Program Prioritas Nasional yang diluncurkan pemerintah melalui Perpustakaan Nasional (Perpusnas) RI bertajuk Transformasi Layanan Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial pada tahun 2019. Perpustakaan diarahkan lebih memiliki kebermanfaatan, sekaligus ruang terbuka bagi masyarakat memperoleh solusi atas permasalahannya.

 

Mewujudkan masyarakat berliterasi tinggi dan mampu berkarya dalam pembangunan lintas bidang membutuhkan peran penggerak literasi https://www.kompasiana.com/tag/perpustakaan. Di dunia perpustakaan, mereka ini dikenal sebagai pustakawan. Perpusnas RI melansir data pustakawan yang ada saat ini mencapai 3.430 orang. Terdiri dari 130 pustakawan sekolah, 1406 pustakawan perguruan tinggi, 410 pustakawan perpustakaan khusus, 742 pustakawan provinsi, 403 pustakawan Perpustakaan Nasional, dan 337 pustakawan kabupaten/kota tersebar di seluruh Indonesia.

 

Jumlah tersebut adalah fungsional pustakawan berstatus ASN, berdasarkan Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PermenPAN RB). Apabila merujuk pada Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan, maka jumlah pustakawan semakin bertambah. Sebuah potensi besar dalam rangka penguatan literasi di Indonesia. Pustakawan hakikatnya tak sekadar mengelola perpustakaan dari sisi teknis. Ia motor penggerak literasi yang cukup berperan bagi proses pembangunan berkelanjutan jika disadari.

 

“Pustakawan berkarya untuk berperan serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial” merupakan rekomendasi Rapat Koordinasi Nasional Bidang Perpustakaan tahun 2019. Pustakawan mendapat amanah agar terus bergerak dan berkarya, adaptif terhadap perkembangan zaman. Selalu upgrade pengetahuan keterampilan, sehingga tidak canggung memberikan layanan berbasis teknologi informasi. Pustakawan ujung tombak keberhasilan penyebarluasan informasi dan literasi masyarakat.

 

Kewajiban utama sepantasnya dilaksanakan secara profesional. Namun pustakawan perlu membangun branding sehingga citranya bernilai positif. Sejauh ini banyak pustakawan terkesan pasif, belum antusias menunjukkan potensinya pada masyarakat. Padahal pustakawan menjadi salah satu dari tiga pilar utama membangun citra. Pudjiono (2010) mengungkapkan strategi yang ditawarkan untuk mengembangkan citra melalui tiga pilar utama, yaitu membangun citra perpustakaan (building image), meningkatkan citra pustakawan (librarian image), dan mengembangkan perpustakaan berbasis teknologi (information and communication technology). Jelaslah bahwa pustakawan adalah aktor utama peningkatan citra perpustakaan maupun citra dirinya sendiri.

 

Sebagai penggerak literasi, pustakawan mesti membekali diri dengan keterampilan di luar kemampuan teknis pengelolaan perpustakaan pada umumnya. Jangan mau menjadi pustakawan yang biasa-biasa saja. Beberapa hal sebenarnya berpotensi memperkuat branding pustakawan.

 

Pertama, penguasaan teknologi informasi. Perkembangan teknologi juga merambah bidang perpustakaan. Penerapan aplikasi sistem informasi layanan perpustakaan telah membuktikannya. Koleksi berbasis teknologi informasi pun berkembang, seperti koleksi ebook membutuhkan perangkat komputer dalam pembuatan sampai aksesnya. Belum lagi pengembangan jaringan perpustakaan secara internal ataupun eksternal.

 

Kenyataan itu harus diimbangi peningkatan keterampilan dan penguasaaan teknologi. Perkembangan teknologi menuntut pustakawan menyesuaikan diri. Biarpun hanya sebagai pemakai (user), pustakawan dapat merancang pengembangan aplikasi sesuai kebutuhan perpustakaan. Kemampuan teknologi informasi juga bermanfaat bagi pustakawan membimbing kesulitan pemustaka, seperti mengoperasikan perangkat-perangkat di perpustakaan. Termasuk cara mengakses internet serta sumber informasi berbasis teknologi lainnya.

 

Kedua, keterampilan menulis didukung kegemaran membaca. Menulis merupakan pengembangan profesi pustakawan sesuai arahan PermenPAN RB Nomor 09 Tahun 2014. Walau demikian masih terbatas pustakawan melakukan kegiatan menulis terutama untuk konsumsi masyarakat umum. Fakta menunjukkan minimnya artikel pustakawan terbit di surat kabar lokal. Belum yang dalam bentuk buku. Masyarakat membutuhkan pencerahan seputar literasi dan bidang perpustakaan, karenanya, pustakawan punya kewajiban moral menyampaikan. Menulis di media cetak jadi salah satu kekuatan branding pustakawan sekaligus pembeda antara sesama pustakawan.

 

Secara internal lembaga perpustakaan banyak yang sudah memfasilitasi kegiatan penerbitan majalah/buletin. Tujuannya melatih keterampilan bidang penulisan. Namun tetap saja masih ada pustakawan enggan berpartisipasi melewatkan kesempatan itu. Padahal seleksi terbitan internal tidaklah seketat media umum.

 

Ketiga, keterampilan berkomunikasi. Hal ini penting karena selain pekerjaan teknis pengolahan dan pelayanan, pustakawan berhubungan pula dengan masyarakat secara umum. Pustakawan melakukan kegiatan pembinaan, pendampingan, serta bimbingan pada pengelola perpustakaan agar dapat menjalankan tugasnya secara baik dan benar.

 

Di samping itu pustakawan memotivasi dan menggerakkan masyarakat berliterasi melalui komunikasi efektif, dinamis, serta bersahabat. Pustakawan jangan sampai memposisikan dirinya sebagai atasan. Posisi pustakawan adalah mitra, sehingga kehadirannya mudah diterima siapa saja. Komunikasi bagian dari  kode etik dan kompetensi personal pustakawan.

 

Keempat, kemampuan bahasa asing. Meski tidak mutlak bagi pustakawan, secara umum penguasaan bahasa asing turut mengangkat branding. Terutama saat terlibat kegiatan berskala nasional, regional, bahkan internasional. Terlebih bila perpustakaan mampu berprestasi dan dikenal sampai luar negeri. Bisa dipastikan akan banyak tamu asing berkunjung. Di sinilah kemudian pustakawan memainkan peran penerjemahan. Selain itu, kemampuan bahasa asing digunakan untuk keperluan pembuatan abstrak, anotasi, maupun penerjemahan buku. Kegiatan tersebut memiliki angka kredit tersendiri.

 

Melengkapi empat hal di atas, berbagai kecakapan seperti seni budaya, psikologi, desain, pemasaran, sastra atau lainnya tetap mendukung pelayanan masyarakat. Sedangkan restorasi dan perawatan pustaka saja membutuhkan disiplin ilmu kimia. Tidak ada hal tak bermanfaat selama berpihak pada masyarakat. Walaupun bukan orang serba bisa, setidaknya ada nilai positif apabila pustakawan mampu melakukan sesuatu di luar pekerjaan teknisnya. Dengan demikian branding pustakawan penggerak literasi dapat lebih terbangun. ***

 

Muhammad Mufti AM

Penggiat Literasi, Pustakawan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Bantul DIY

 

(Artikel ini juga dimuat di Koran Bernas versi cetak edisi 23 September -7 Oktober 2019)

 



Senin, 07 Okt 2019, 20:38:22 WIB Oleh : Masal Gurusinga 510 View
Tanpa Surat Undangan, Warga Tidak Bisa Nyoblos
Senin, 07 Okt 2019, 20:38:22 WIB Oleh : Sari Wijaya 322 View
Doordprize Telur, Perabot hingga Ayam Ramaikan Pemilu RT
Senin, 07 Okt 2019, 20:38:22 WIB Oleh : warjono 342 View
Di Jogja, Benelli Andalkan Lini Retro

Tuliskan Komentar