TNI-stipram

Pustakawan Mediator Informasi

Minggu, 07 Okt 2018 | 22:38:05 WIB, Dilihat 121 Kali - Oleh Muhammad Mufti AM

SHARE


Pustakawan Mediator Informasi Muhammad Mufti AM

Baca Juga : Purbalingga Kini Punya Unperba


PERPUSTAKAAN Nasional RI adalah lembaga paling mengapresiasi dan memperhitungkan pentingnya profesi pustakawan. Pustakawan masuk dalam barisan para profesional yang diatur oleh undang-undang. Sebagaimana profesi lain seperti dokter, guru, pengacara, atau jurnalis, pustakawan pun memiliki organisasi profesi yang terikat oleh kode etik. Selain itu undang-undang mengisyaratkan bahwa pustakawan harus memiliki kualifikasi, kompetensi profesional dan kompetensi personal. Berkaitan dengan kompetensi personal inilah pustakawan memainkan perannya sebagai mediator informasi.

Kode etik jadi landasan kuat membentuk karakter pustakawan. Di situ tercantum sikap dasar dan hubungan sosial pustakawan baik terhadap sesama profesi, lembaga, maupun masyarakat. Sebagai mediator informasi, pustakawan tak akan pernah lepas dari masyarakat pengguna perpustakaan (pemustaka). 

Kompetensi personal pustakawan dapat diukur saat ia berkomunikasi atau berinteraksi dengan orang lain. Salah satu cirinya adalah pemustaka merasa senang puas setelah memperoleh pelayanan informasi yang baik. Kesan mendalam pemustaka terkait interaksinya bersama pustakawan akan membekas selama hidupnya. Kemampuan pustakawan sebenarnya tak perlu dipertanyakan lagi. Walau demikian, pustakawan tetap terus mengembangkan dirinya, sehingga makin tercipta interaksi positif.

Mungkin masih banyak yang membayangkan para pustakawan itu terjebak pada rutinitas pekerjaan teknis. Jika memang benar, kondisi tersebut dapat memperburuk citra pustakawan. Pustakawan sendirilah yang mesti mengubah pola kerjanya. Mengelola waktu sebaik-baiknya agar kesan semacam itu tidak akan pernah ada. Padahal sebenarnya aktivitas pustakawan jauh lebih kompleks dari anggapan orang selama ini. 

Pustakawan cukup berkemampuan membawa dirinya sebagai mediator informasi secara nyata. Tak sekadar mencatat peminjaman pengembalian buku, pengolahan bahan pustaka, atau menjawab pertanyaan seputar letak suatu koleksi saja. Pustakawan aktif mendampingi, mengarahkan bahkan membimbing pemustaka.

Di perpustakaan daerah, pustakawan punya kewajiban pada perpustakaan dan masyarakat binaannya. Melakukan sosialisasi, promosi minat baca, memberikan pelatihan bagi para pengelola sampai pada pendampingan pengelolaan perpustakaannya, termasuk melaksanakan kegiatan-kegiatan yang sifatnya pemberdayaan melalui perpustakaan. Di samping itu, pustakawan juga terlibat aktivitas-aktivitas menantang yang sedang tren baru-baru ini, yaitu pendampingan dalam rangka akreditasi perpustakaan.

Semua hal di atas wujud interaksi pustakawan dengan dunia luar. Peran fungsi pustakawan mediator informasi makin tampak, ketika ia berinteraksi secara langsung dan diterima oleh masyarakat. Itu menunjukkan bahwa kompetensi personal pustakawan cukup baik.

Sebagai mediator informasi, para pustakawan jangan sampai lupa membekali diri  dengan berbagai hal. Bekal penting bagi pustakawan adalah kebiasaan membaca. Sesungguhnya, kebiasaan membaca dapat menempatkan pustakawan sebagai seorang inspirator sekaligus motivator. Menumbuhkan kegemaran membaca dimulai dari diri sendiri terlebih dahulu, keluarga, kemudian lingkungan sekitar. Salah satu tanda orang berkebiasaan membaca adalah mempunyai koleksi buku. Ironisnya ternyata masih ada pustakawan tidak suka membaca buku. Bagaimana mungkin memotivasi orang supaya membaca sementara ia sendiri tidak membaca. 

Sampai sejauh ini setiap kampanye gerakan membaca masih menekankan bahan bacaan buku. Upaya meningkatkan minat baca masyarakat paling mungkin dilakukan dengan buku. Perpustakaan keliling pun masih menyediakan layanan buku, bukan bahan bacaan lain. Pustakawan tidak menyarankan masyarakat membeli telepon pintar sebagai sarana membaca. Apalagi membeli ebook atau berlangganan internet. Perangkat teknologi digunakan sebagai daya tarik agar masyarakat mau datang ke perpustakaan. Mendekatkan buku pada masyarakat jadi bagian ketugasan seorang mediator informasi.

Di samping membaca, secara profesional pustakawan mengupayakan terbentuknya perpustakaan atau taman bacaan. Baik secara mandiri atau menjalin kemitraan dengan pihak lain seperti pemerintah melalui perpustakaan daerah, pihak swasta, atau perorangan. Setiap orang adalah patner kerja bagi pustakawan.

Sementara itu guna memenuhi kebutuhan informasi masyarakat, pustakawan seyogyanya tak merasa segan berkomunikasi dengan subyek penyedia  informasi. Pustakawan tak hanya menyebarluaskan informasi semata, tetapi juga menggali informasi. Informasi dapat diperoleh dari berbagai sumber, termasuk tokoh masyarakat dan para ahli di bidangnya. Informasi yang diperoleh kemudian disusun kembali menjadi koleksi perpustakaan. Hasilnya disebarluaskan untuk kepentingan umum. Pustakawan berfungsi sebagai jembatan komunikasi antara sumber-sumber informasi dengan para pemustaka, juga penghubung antara perpustakaan dengan semua mitra kerja.

Hal lain tidak kalah penting adalah menulis artikel di media surat kabar, majalah, buletin, jurnal dan sejenisnya. Menulis merupakan kekuatan pustakawan mediator informasi. Menulis adalah sarana efektif berpromosi dan publikasi, menyuarakan gagasan ataupun inovasi-inovasi pada khalayak. Prosentase pustakawan menuangkan pemikirannya secara utuh melalui tulisan di media masih tergolong rendah. Satu alasan tersendiri mengapa profesi pustakawan kurang begitu dikenal masyarakat. Artikel yang dimuat di media massa menjadi bukti nyata eksistensi profesionalisme pustakawan.

Satu hal sering terlewatkan saat berinteraksi adalah menjaga penampilan. Faktor penting bagi pustakawan supaya mendapat simpati dari masyarakat, di antaranya ialah penampilan menarik dan menyenangkan.

Pustakawan adalah profesi berorientasi pada jasa. Hal itu berarti menyuguhkan pelayanan serta melibatkan orang lain. Segala aktivitas pustakawan tentu berlandaskan pada kode etik profesi dan peraturan yang berlaku. Pustakawan mediator informasi selalu menebarkan aura positif serta memancarkan pengetahuan di mana pun ia berada. ***

Muhammad Mufti AM adalah Pegiat literasi, Penulis Lepas,  Pustakawan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Bantul DIY

 

Artikel ini juga dimuat di Koran Bernas versi cetak edisi 28 September 2018

 



Minggu, 07 Okt 2018, 22:38:05 WIB Oleh : Prasetiyo 285 View
Purbalingga Kini Punya Unperba
Minggu, 07 Okt 2018, 22:38:05 WIB Oleh : Despan Heryansyah 108 View
Sengkarut Pengelolaan Lapas
Minggu, 07 Okt 2018, 22:38:05 WIB Oleh : B Maharani 138 View
Tumbuhkan Kesadaran Politik dengan Balon

Tuliskan Komentar