atas

PSK hingga Pejabat Hadiri Pengajian Gus Miftah
Milad ke-6 Pondok Pesantren Ora Aji Kalasan Sleman

Minggu, 14 Okt 2018 | 03:25:00 WIB, Dilihat 1080 Kali - Oleh Sholihul Hadi

SHARE


PSK hingga Pejabat Hadiri Pengajian Gus Miftah Gus Miftah bersama Muhammad Syarif Hidayat (kiri) dan Hartadinata Harianto di sela-sela acara Tasyakuran Milad ke-6 Ponpes Ora Aji, Sabtu (13/10/2018) malam. (sholihul hadi/koranbernas.id)

Baca Juga : Pemuda Sering Tak Punya Wadah


KORANBERNAS.ID – Ribuan orang memenuhi Pondok Pesantren (Ponpes) Ora Aji di Dusun Tundan Purwortani Kalasan Sleman, Sabtu (13/10/2018) malam.

Melubernya jamaah yang hadir pada pengajian rutin selapanan (35 hari) sekali itu menjadikan jalan-jalan di sekitar pesantren dipenuhi kendaraan roda dua, roda empat, bus bahkan kereta kelinci pengangkut jamaah.

Mereka tidak hanya berasal dari DIY dan sekitarnya tetapi juga datang dari Jawa Tengah, Jawa Timur serta Palembang. Kebetulan pengajian malam itu bertepatan dengan Milad ke-6 ponpes tersebut.

Tidak hanya karangan bunga dikirim oleh instansi pemerintah maupun swasta, tamu-tamu istimewa juga berdatangan, mulai dari PSK (Pekerja Seks Komersial) hingga para pejabat.

Tampak hadir antara lain Sekjen Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Helmy Faisal, Gus Hilmi Krapyak, anggota DPR RI Hanafi Rais, Wakil Bupati Sleman Sri Muslimatun, Wakil Walikota Yogyakarta Heroe Poerwadi, penyanyi Opick dan sejumlah tokoh lainnya.

Yang istimewa lagi, dua orang tamu spesial hadir yaitu owner Royal Dparagon Land Muhammad Syarif Hidayat serta Hartadinata Harianto dari Stern Resourches (SR) Group Amerika Serikat.

Sebagian tamu disambut dengan kirab bregada serta letupan kembang api. Usai tahlil disambung lagu selingan pengisi waktu jeda, Gus Miftah baru naik panggung selepas pukul 21:00.

Kepada wartawan Muhammad Syarif Hidayat atau biasa dipanggil Jhon Dayat yang selama ini membantu dakwah Gus Miftah menyatakan dirinya secara khusus datang di acara tasyakuran Milad ke-6 Ponpes Ora Aji karena mencari keridaan Allah SWT.

“Saya mendukung kegiatan dakwah untuk mencari keridaan Allah. Sesuai hadist Nabi Muhammad SAW riwayat Ahmad disebutkan, sebaik-baik manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi manusia yang lain. Prinsip manfaat ini sangat dipegang teguh oleh Gus Miftah maka dari itu kami selalu memberikan dukungan untuk kegiatan dakwah beliau,” tuturnya.

Jhon Dayat mengatakan, orang hidup cukup makan tiga kali sehari sudah bisa untuk hidup. Tapi sesungguhnya tujuan hidup bukan itu. Tujuan hidup yang sesungguhnya adalah untuk manfaat.

Sama seperti Muhammad Syarif Hidayat, ketertarikan Hartadinata Harianto dengan gaya dakwah Gus Miftah yang viral di medsos inilah yang mendorong dirinya memberikan dukungan.

Menyampaikan sambutannya di hadapan Keluarga Besar Ponpes Ora Aji serta jamaah Al-Kintiliyah yang terkenal loyalitasnya, Hartadinata yang tinggal di Australia itu menyatakan antara Dparagon dan SR mempunyai visi yang sama yaitu bermanfaat untuk sesama.

“Kami sangat senang dapat menjalin hubungan baik dengan Gus Miftah. Sebelumnya kami mengenal beliau hanya dari pengajian-pengajian beliau yang diunggah di media sosial. Dari video-video tersebut kami sangat tahu prinsip-prinsip sosial kebermanfaatan yang selalu dipegang oleh Gus Miftah," kata dia.

Hartadinata tertarik dan mengapresiasi cara, metode serta prinsip dakwah yang sangat toleran. Oleh karena itu, Stern Resources merasa sangat penting untuk terlibat mendukung kegiatan dakwah Gus Miftah dapat terus berjalan.

“Gus Miftah memberi kesempatan kepada kami berkenalan dengan bapak Jhon Dayat selaku owner dari Dparagon Group yang selama ini sudah mensuport kegiatan dakwah beliau," kata dia.

Dari sini akhirnya tercapai kesepakatan kerja sama investasi. Stern Resources Group dan Royal Dparagon Land akan mendirikan perusahaan bersama dengan nama Royal Dparagon International LLC.

Royal Dparagon International akan berkantor di New York dan akan menyalurkan dana investasi dari Amerika Serikat ke PT  Royal Dparagon Land.

Pengajian selapanan di Ponpes Ora Aji Dusun Tundan Kalasan Sleman dipenuhi jamaah dari berbagai daerah. (sholihul hadi/koranbernas.id)

Mengenai tamunya dari luar negeri, pengasuh Ponpes Ora Aji, Gus Miftah, kepada wartawan menyampaikan keluarga keduanya di Amerika Serikat sering menonton pengajian di channel youtube.

Ceramah-ceramah Gus Miftah menarik hati keluarga itu hingga memutuskan untuk memberikan dukungan.

“Padahal waktu itu kita beda agama, alhamdulillah dia sempatkan waktu datang ke Indonesia. Ini saudara saya,” kata Gus Miftah.

Jhon Dayat maupun Hartadinata Harianto juga mengakui dulu saat pertama kali bertemu bertemu Gus Miftah rasanya sudah seperti keluarga walaupun waktu itu berbeda keyakinan.

Gus Miftah menambahkan, dari kerja sama investasi ini hasilnya digunakan untuk membantu dakwah, bermanfaat bagi jamaah. Sekaligus ini membantah anggapan selama ini dirinya identik dengan kafe dan dunia hiburan malam.

“Tidak ada pembiayaan dari kafe. Ternyata jamaah yang harus diopeni jauh lebih banyak jumlahnya dari yang di kafe dan dunia malam. Jamaah kita bukan cebong dan kampret,” kata Gus Miftah.

Termasuk penghuni Sarkem, sebut Gus Miftah, yang datang ke pengajian malam itu sebanyak dua bus. “Alhamdulillah datang PSK dua bus dari Sarkem. Duduknya di mana? Saya rahasiakan,” ujarnya disambut tawa jamaah.

Jamaah yang tidak memperoleh tempat dekat panggung menyimak pengajian dari layar lebar. (sholihul hadi/koranbernas.id)

Gus Miftah, kiai yang satu ini memang nyeleneh, unik dan kontroversial. Masih muda. Rambutnya gondrong sebahu. Selalu tampil mengenakan blangkon. Suaranya menggelegar..

Yang pasti, gaya dakwahnya penuh humor sehingga materi pengajian mudah diterima, gampang dicerna serta mudah dipahami oleh jamaah dengan latar belakang profesi apapun.

Selain itu, dia juga ceplas-ceplos namun tidak membuat marah jamaah, sebaliknya justru mengundang tawa hingga membuat pikiran dan hati lebih lapang terbuka.

Jangan heran bila datang ke pengajian Gus Miftah di Pondok Pesantren Ora Aji mendapati orang-orang bertato mengenakan pecis duduk bersila menyimak ceramah. Sorot matanya teduh tidak memancarkan permusuhan.

Mereka merupakan mantan-mantan preman yang sudah insyaf kemudian memutuskan menjadi santri Gus Miftah demi meniti jalan kebenaran mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Praktis tidak ada sekat di antara jamaah. Walau mereka berasal dari Nahdlatul Ulama (NU) maupun Muhammadiyah namun tidak ada yang merasa dirinya paling benar. Di pengajian Gus Miftah, warga NU dan Muhammadiyah selalu bersatu.

“Omong soal bid’ah, tidak hanya NU, Muhammadiyah juga melakukan bid’ah. NU nambahi, Muhammadiyah ngurangi. Mbah min dan mbah plus,” kata Gus Miftah disambut derai tawa jamaah.

Korelasinya dengan masalah itu, di dalam kitab Al Hikam yang ditulis Ibnu Athailah As-Sakandari disebutkan, manusia sebenarnya tidak memiliki hak untuk mengatur. “Manusia itu tidak usah banyak ngatur, sing penting ikuti aturan Allah SWT,” kata Gus Miftah.

Gus Miftah memperoleh ijazah dari Gus Miek. Sedangkan Gus Miek memperolehnya dari Mbah Dalhar Watu Congol. Artinya, nasab maupun sanad keilmuannya bisa dipertanggungjawabkan. “Nasab keilmuan Dzikrul Ghofilin insyaAllah terjaga,” kata Gus Miftah.

Satu lagi yang menarik dari pengajian selapanan adalah tidak pernah ada kotak infak beredar. Namun khusus malam itu, Gus Miftah meminta kerelaan dan keikhlasan jamaah menyisihkan sebagian uangnya untuk membantu korban bencana.

“Di sini tidak pernah ada kotak infak. Khusus malam ini saya minta kerelaan jamaah untuk membantu korban bencana di Lombok dan Palu sekaligus kita berdoa untuk bangsa Indonesia,” tandasnya. (sol)



Sabtu, 13 Okt 2018, 03:25:00 WIB Oleh : Nila Jalasutra 363 View
Pemuda Sering Tak Punya Wadah
Sabtu, 13 Okt 2018, 03:25:00 WIB Oleh : Sholihul Hadi 412 View
Sebenarnya, APBN Bisa Capai Rp 5 Ribu Triliun
Sabtu, 13 Okt 2018, 03:25:00 WIB Oleh : Nila Jalasutra 378 View
Sleman Paling Rajin Belajar

Tuliskan Komentar