pompanisasi-air-tanah-diharapkan-jadi-solusi-kelangkaan-air-irigasiRapat dengar pendapat rencana program pompanisasi air bawah tanah untuk pertanian. (Humas DPRD Kebumen)


nanang

Pompanisasi Air Tanah Diharapkan Jadi Solusi Kelangkaan Air Irigasi

SHARE

KORANBERNAS.ID, KEBUMEN--Makin berkurangnya cakupan pelayanan air irigasi dari Waduk Sempor dan Waduk Wasaslintang yang dipicu oleh kerusakan jaringan irigasi, menjadikan puluhan hektar sawah berpengairan tehnis di Kabupaten Kebumen tidak bisa memperoleh air irigasi murah.

Berdasarkan fakta itu, Komisi B DPRD Kebumen merekomendasikan kepada eksekutif program pompanisasi air bawah tanah guna mencukupi kebutuhan air untuk budidaya padi dan palawija.


Baca Lainnya :

Komisi B, Selasa (30/6/2020), telah melakukan rapat dengar pendapat (RDP) dengan sejumlah pihak terkait. Diantaranya Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan, Dinas Pekerjaan Umum Penataan Ruang, Badan Perencanaan Penelitian dan Pengembangan Daerah Kebumen. Rapat ini untuk mencari model pengembangan pompanisasi di sawah berpengairan tehnis di bagian hilir. Program ini menurut rencana akan dibiayai dengan APBD Kabupaten Kebumen.

Ketua Komisi B DPRD Kebumen Solatun mengungkapkan, di Kecamatan Puring ada saluran irigasi tehnis. Namun airnya tidak ada. Hal itu juga terjadi di beberapa tempat. Karena itu, perlu dipikirkan program pompanisasi, agar pemilik sawah berpengairan tehnis tetap bisa berbudidaya pertanian, meskipun air dari Sempor dan bendung sekitarnya tidak sampai ke lahan mereka.


Baca Lainnya :

Pemikiran sama diungkapkan Wakil Ketua Komisi B Fitria Handini. Menurut Fitria, RDP dengan pihak terkait untuk mencari model pengadaan sarana dan prasarana program pompanisasi dengn memanfaatkan air bawah tanah.

Diperlukan kajian legalitas untuk penganggaran dalam program yang hendak diusulkan Komisi B kepada eksekutif.

Pada RDP ini Komisi B mengundang Susman, warga Desa Blengor Kulon, Kecamatan Mirit, Kebumen. Tokoh petani ini telah behasil melaksanakan pompanisasi air bawah tanah untuk tanaman padi, dengan sumber dana dari Dana Desa Blengor Kulon.

“Pompa air hisap yang kami operasikan, menggunakan tenaga litrik PLN bukan bahan bakar minyak. Biaya operasionalnya lebih murah,“ kata Susman.

Untuk membangun 1 unit pompa dan rumah-rumah pompa diperlukan dana Rp 18, 5 juta. Sedangkan perawatan pompa dengan tenaga lisrik PLN, dibantu petugas PLN. (SM)

 

 

 

 

 


TAGS:

SHARE

BERITA TERKAIT

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Tulis Komentar disini