atas

Polres Purbalingga Bongkar Peredaran Kosmetik Ilegal

Jumat, 04 Jan 2019 | 16:42:16 WIB, Dilihat 815 Kali - Oleh Prasetiyo

SHARE


Polres Purbalingga Bongkar Peredaran Kosmetik Ilegal Kapolres Purbalingga AKBP Kholilur Rochman menujukkan botol obat suntik saat menggelar konferensi pers tentang kasus praktik perawatan kulit dan kecantikan ilegal di Purbalingga, Jumat (4/1/2019). (istimewa)

Baca Juga : Komas Memilih Cara Bergerilya


KORANBERNAS.ID -- Ini peringatan bagi para wanita agar lebih hati-hati memilih kosmetik. Petugas Kepolisian Resor (Polres) Purbalingga Jawa Tengah (Jateng) berhasil membongkar kasus peredaran kosmetik ilegal dengan kedok tempat perawatan kulit dan kecantikan.

Bahkan praktik yang dilakukan pasangan suami istri , DRA (23) dan Pur (29) di Perumahan Griya Perwira Asri 2 Blok A2 Desa Babakan Kecamatan Kalimanah Purbalingga itu, sudah berlangsung lebih dari setahun. Jumlah pasien setiap minggu lebih dari tiga orang.

"Jika setiap minggu saja pasiennya dirata-rata tiga orang, berarti dalam satu bulan ada 12 orang. Dalam setahun sudah 100 orang lebih korbannya. Dan kasus ini terbongkar berkat laporan sejumlah warga yang curiga terhadap kegiatan yang dilakukan tersangka DRA," ujar Kapolres Purbalingga Ajun Komisaris Besar Polisi Kholilur Rochman, Jumat (4/1/2019).

Atas laporan warga, petugas Polres Purbalingga segera mendatangi rumah DRA  pada Kamis (3/1) sore. Setelah dilakukan penyelidikan, diketahui DRA tidak memiliki izin praktik kesehatan termasuk di dalamnya menyuntikkan alat-alat medis kepada pasiennya.

DRA beserta suaminya, P (29), kini ditahan di Mapolres Purbalingga, karena memperdagangkan barang-barang kesehatan yang tidak mempunyai regulasi maupun tidak memenuhi standar.

"Mereka meracik barang-barang untuk pemutih kulit berupa hand and body dan obat pemutih yang disuntikkan ke pembuluh darah pasiennya. Ini semua mereka dapatkan secara online, yang menurut mereka adalah obat untuk pemutih kulit," katanya.

Kapolres mengatakan kedua tersangka telah melakukan praktik perawatan kulit ilegal itu selama satu tahun dengan jumlah pasien setiap minggu lebih dari tiga orang.

Hal itu menunjukkan kegiatan yang dilakukan pasangan DRA dan P sudah cukup dikenal masyarakat Purbalingga namun tidak mengetahui praktik perawatan kulit dan kecantikan tersebut tidak berizin.

"Bisa jadi, obat-obatan yang tidak ada regulasinya ini menimbulkan kanker dan sebagainya. Kami sudah berkomunikasi dengan Dinas Kesehatan," katanya.

Kedua tersangka dijerat Pasal 197 Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan dengan ancaman pidana penjara paling lama 15 tahun dan denda maksimal Rp 1,5 miliar.

Perawat yang membantu kedua tersangka menyuntikkan obat ke pasien, untuk sementara ini masih diperiksa sebagai saksi.

Adapun barang bukti yang diamankan berupa delapan botol hand and body lotion merek Placenta ukuran 500 mililiter, empat botol lotion kemasan 250 mililiter berlabel "Suntik Putih Purbalingga", 10 botol lotion kemasan 100 mililiter berlabel "Suntik Putih Purbalingga", 18 botol kosong kemasan 100 mililiter, dan seperangkat alat infus whitening (pemutih).

Selain melayani pasien di rumah, kata Kapolres, kedua tersangka juga menjual pemutih kulit dengan label "Suntik Putih Purbalingga" secara daring (dalam jaringan online) kepada pemesan di sejumlah kota.

Saat ditanya, tersangka DRA mengatakan setiap pasien dipungut biaya berkisar Rp 300.000 hingga Rp 500.000 untuk satu kali perawatan. "Untuk penyuntikan (infus), saya tidak melakukannya sendiri, namun dibantu perawat," katanya. (sol)



Jumat, 04 Jan 2019, 16:42:16 WIB Oleh : Sholihul Hadi 396 View
Komas Memilih Cara Bergerilya
Kamis, 03 Jan 2019, 16:42:16 WIB Oleh : Arie Giyarto 778 View
Gambar Wajah-wajah Wartawan Dipamerkan di Tembi
Rabu, 02 Jan 2019, 16:42:16 WIB Oleh : Endri Yarsana 488 View
Bupati Temanggung Ingatkan Rencana Pembangunan Harus Realistis

Tuliskan Komentar