atas1

Peserta Pawai Kerepotan Saat Melawan Angin

Minggu, 07 Okt 2018 | 23:38:59 WIB, Dilihat 1128 Kali
Penulis : Arie Giyarto
Redaktur

SHARE


Peserta Pawai Kerepotan Saat Melawan Angin Peserta pawai mengenakan busana bersayap lebar saat tampil di Jalan Malioboro. (arie giyarto/koranbernas.id)

Baca Juga : Ribuan Orang Serbu Kawasan Tugu


KORANBERNAS.ID -- Masyarakat Yogyakarta maupun wisatawan dari berbagai daerah yang berada di Malioboro, Sabtu (06/10/2018) sore hingga petang, beruntung bisa menyaksikan karnaval dalam rangka penutupan event Jogja International Batik Biennale (JIBB) 2018.

Jalan Malioboro yang dibebaskan dari kendaraan bermotor membuat masyarakat nyaman menyaksikannya. Apalagi peserta karnaval mulai melintas pukul 16:00, sehingga warga yang berada di jantung kota Yogyakarta ini benar-benar bisa menikmati gerak langkah gemulai para peserta karnaval.

Berbagai kreativitas muncul terutama penampilan busana yang sebagian besar penuh gemerlap. Peserta berjalan sambil diiringi musik ingar bingar, berupa gamelan yang ditabuh di atas kendaraan maupun musik hasil rekaman.

Mereka tidak hanya berasal dari Yogya tetapi juga dari luar kota. Di antaranya Komunitas Penari Borobudur yang tampil dengan peserta lumayan banyak.

Ada pula kesenian khas Bali dengan busana kotak-kotak hitam putih dan warna musiknya yang rancak dan khas. Tampil pula kesenian Jawa dengan aneka kreasinya.

Tatkala penonton nyaman menyaksikannya, peserta justru harus berjuang dan sempat kerepotan melawan angin yang kadang-kadang bertiup kencang.

Peserta terutama yang mengenakan busana berukuran besar dengan desain burung garuda bersayap lebar hampir separuh jalan sehingga kesulitan saat melawan angin.

Apalagi sebagian besar peserta mengenakan sepatu tinggi bahkan berhak runcing. Ada petugas yang harus  menempel di belakangnya untuk meringankan beban peserta melawan angin serta menjaga keseimbangan.

Tidak sedikit peserta terpaksa berjalan tertatih-tatih.  Bahkan karena tak kuasa melawan angin dengan sepatu berhak tinggi, ada peserta yang terpaksa diganti sepatu flat di dekat Toko Ramayana.

Ternyata dengan sepatu flat peserta berbusana besar penuh gebyar itu mampu berjalan lebih santai.

"Wah, selesai karnaval pasti kaki tidak hanya pegal. Tetapi juga sakit," kata Titi yang semasa muda masuk grup Garasi Cipta, sebuah komunitas penari dari Yogyakarta yang kerap pentas dan menggunakan sepatu hak tinggi.

Pawai sore itu juga memperoleh sambutan antusias dari wisatawan mancanegara (wisman) yang tampaknya sudah menunggu event tersebut selepas Ashar.

Mereka tidak henti-hentinya merekam aksi peserta dengan kameranya. Beberapa peserta rela menghentikan langkahnya demi melayani pengunjung yang ingin foto selfie. (sol)



Minggu, 07 Okt 2018, 23:38:59 WIB Oleh : W Asmani 865 View
Ribuan Orang Serbu Kawasan Tugu
Minggu, 07 Okt 2018, 23:38:59 WIB Oleh : Arie Giyarto 1888 View
Diam-diam Lurik Merebut Pasar
Minggu, 07 Okt 2018, 23:38:59 WIB Oleh : Nila Jalasutra 781 View
Stagen Terpanjang di Dunia Capai 1.016 Meter

Tuliskan Komentar