atas1

Pertama di Indonesia, Festival Purbakala Digelar

Rabu, 12 Jun 2019 | 23:50:20 WIB, Dilihat 758 Kali - Oleh Muhammad Zukhronnee Ms

SHARE


Pertama di Indonesia, Festival Purbakala Digelar Panitia penyelenggara festival purbakala 2019 saat memberi penjelasan kepada media di pendapaDinas Kebudayaan Kota Yogyakarta, Selasa (12/6/2019). (Muhammad Zukhronnee Ms/koranbernas.id)

Baca Juga : Diprotes Emak-emak, Jogja Ubah Zonasi


KORANBERNAS.ID -- Memperingati Hari Purbakala ke 106 yang jatuh pada tanggal 14 Juni 2019 Dinas Kebudayaan dan Balai Penyelamatan Cagar Budaya (BPCB) Daerah Istimewa Yogyakarta menggelar Festival Purbakala 2019 (14-19/6/2019) di Museum Sonobudoyo, Jalan Pangurakan, Alun-alun Utara, Yogyakarta.

Festival Purbakala 2019 akan dihadiri oleh Direktorat Jenderal Kebudayaan dan dibuka Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X, Jumat, 14 Juni 2019 pukul 15.00, diawali penampilan Livy Laurens dan dipandu MC Mas Bekel Joyo Suprianto. Selain itu juga ada pemberian kompensasi pelindungan cagar budaya oleh Dra.Zaemul Azza.M.Hum. Kepala BPCB DIY.

Festival yang baru pertama kali digelar di Indonesia ini merupakan suatu ikhtiar bersama untuk mengingatkan kembali, serta memberi rasa kepercayaan diri pada generasi-generasi penerus, bahwa sesungguhnya negeri ini dibangun dengan sistem kebudayaan yang melingkupi berbagai hal.

Ketua penyelenggara Sigit Sugito menekankan bahwa Hasil kebudayaan masa lalu, merupakan jalinan yang mempunyai benang merah dengan hasil kebudayaan saat ini, dan yang akan datang. Salah satu bukti sistem kebudayaan yang dalam hal ini adalah sistem pengetahuan, bisa kita lihat dari bangunan masa lalu yang sering disebut dengan benda “purbakala”.

"Hal tersebut merupakan bukti betapa pada masa itu masyarakat telah mempunyai sistem pengetahuan teknologi yang tinggi," imbuhnya kepada media di pendapa Dinas Kebudayaan Kota, Jalan Kemasan, Kota Gede, Yogyakarta, Selasa (12/6/2019).

"Sebagai kota budaya, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) memiliki ribuan benda kuno, baik yang berupa bangunan ataupun naskah yang tercetak. Yang tercetak, ditulis oleh para pujangga dan menjadi rujukan pada masanya. Sementara yang tidak, terdapat berbagai kearifan lokal yang dapat menjadi penyeimbang kehidupan sosial masyarakat," pungkas Sigit.

Daerah Istimewa Yogyakarta, telah memiliki peradaban yang sangat tinggi, baik dalam tata kelola pemerintahan maupun dalam kehidupan sosial. Bangunan kuno serta ribuan naskah yang tersimpan, menjadi penanda terjadinya transformasi kehidupan dari waktu ke waktu.

Dengan berbagai peninggalan yang ada, lacakan masa lalu terlihat dengan jelas, untuk mempertimbangkan masa kini dan merancang masa depan. Sesuai dengan tagline yang diangkat pada Festival Purbakala 2019, yaitu “Heritage Festival Purba Mileniakala, Membaca Masa Lalu, Melakoni Masa Kini, Menata Masa Depan”.

Selain pematung Yusman yang akan memajang karyanya di pedestrian depan Museum Sono Budoyo. Selama enam hari, banyak kegiatan dihelat dan dikemas dalam tema Diskusi Purba, Sastra Purba, Pertunjukan Festival Purbakala, dan Malam Purba Mileniakala.

Diskusi Purba dilangsungkan tanggal 15-18 Juni 2019. Tanggal 15 Juni, dengan topik "Kopi & Kuliner" Purba dengan pembicara Wisnu Birowo (Komunitas Kopi Nusantara). Tanggal 16 Juni bersama narasumber Dr.Haryadi Baskoro dan Dr.Ami1uhur Soeroso (Yayasan Indonesia Rumah Kebhinekaan) mengangkat topik "Sumbu Filosofis".

Lalu tanggal 17 Juni, menampilkan topik “ Sosialisiasi Purbakala DIY Aset & Potensi” bersama YosesTanzaq (Staf Seksi Penyelamatan Benda Cagar Budaya BPCB DIY) dan Ki Priyo Mustiko ( Jaringan Masyarakat Budaya Nusantara).

Terakhir, 18 Juni diskusi mengangkat topik “Mencari Telur Garuda”, bersama narasumber Nanang R. Hidayat (Dosen Jurusan Televisi Fakultas Seni Media Rekam ISI Yogyakarta, penulis buku Mencari Telur Garuda).

Selanjutnya Sastra Purba menampilkan Iman Budi Santosa dan Umi Kulsum. Pada 16 Juni menampilkan sastrawan dan wartawan senior Mustofa W. Hasyim dan penampilan musikalisasi puisi Kelompok IBU JARI (UAD). 17 Juni menampilkan penyair Sitok Srengene, dan terakhir  18 Juni menampilkan Komunitas Penyair Kampung, Jimmy Mahardika, Gatot Suwarsidi, Bambang Nugroho serta Sigit Sugito.

Menutup rangkaian Festival tanggal 19 Juni 2019, digelar Malam Purba Mileniakala. Acara yang dirancang mulai pukul 19.00 sampai 22.00 itu diawali penampilan duta-duta keistimewaan, dilanjut malam pengukuhan dan penghargaan duta purbakala, dan dipungkasi pertunjukan wayang kulit oleh Ki Ir Eko Suryo Maharsono (Kepala Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta).(yve)



Rabu, 12 Jun 2019, 23:50:20 WIB Oleh : Yvesta Putu Sastrosoendjojo 2452 View
Diprotes Emak-emak, Jogja Ubah Zonasi
Rabu, 12 Jun 2019, 23:50:20 WIB Oleh : Yvesta Putu Sastrosoendjojo 465 View
Umat Perlu Jaga Marwah Ramadan
Rabu, 12 Jun 2019, 23:50:20 WIB Oleh : Prasetiyo 895 View
Banser dan Santri Jaga Perayaan Pentakosta GKJ Pengalusan

Tuliskan Komentar