atas1

Perpustakaan DIY Miliki 30 Ribu Buku Langka, Paling Kuno Tahun 1810

Rabu, 15 Jan 2020 | 21:36:52 WIB, Dilihat 190 Kali
Penulis : Sholihul Hadi
Redaktur

SHARE


Perpustakaan DIY Miliki 30 Ribu Buku Langka, Paling Kuno Tahun 1810 Ketua Komisi D DPRD DIY, Koeswanto bersama Kepala DPAD DIY, Monika Nur Lastiyani. (sholihul hadi/koranbernas.id)

Baca Juga : KPU Sleman Jamin PPK Tanpa Pungutan


KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA–Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) DIY, hingga saat ini menyimpan lebih dari 30 ribu koleksi buku langka. Buku-buku bernilai sejarah tinggi tersebut, berada di perpustakaan milik Pemda DIY, Grahatama Pustaka.

Kepala DPAD DIY, Monika Nur Lastiyani, menyatakan, koleksi ini merupakan terbanyak di Indonesia.

“Koleksi buku langka merupakan andalan kami. Ini terbanyak di Indonesia,” ungkapnya, Rabu (15/1/2020), di kantornya.

Di sela-sela menerima kunjungan kerja Ketua Komisi D DPRD DIY, Koeswanto beserta anggotanya, Monica menyatakan 23 ribu judul buku langka tersebut, merupakan bagian dari total koleksi DPAD DIY sejumlah 280 ribu judul atau lebih dari 300 ribu eksemplar.

“Dikatakan langka, kalau diterbitkan 50 tahun ke belakang. Koleksi langka kami paling kuno tahun 1810. Kebanyakan berupa manuskrip, stanblat dan naskah yang lain yang memang masuk kategori langka,” terangnya.

Keunggulan itu, menjadikan perpustakaan yang berada tidak jauh dari Gedung Jogja Expo Center (JEC) tersebut diminati pengunjung. Setidaknya angka kunjungan per hari tercatat rata-rata 1.000 sampai 1.200 orang.

Artinya minat baca masyarakat DIY cukup tinggi.

“Mereka hadir di sini ingin mencari koleksi buku dan saat mereka mendapatkan, kembali lagi,” ujarnya.

Selain itu, Grahatama juga membuat jejaring dengan seluruh perguruan tinggi di DIY melalui program Jogja Library All.

Adapun kebutuhan mendesak saat ini, adalah maintenance. Alasan dia, dengan fasilitas gedung yang megah maka biaya perawatannya tinggi.

“Kami memiliki dua gedung di luar standar gedung pemerintah. Pemeliharaannya tidak sama dengan gedung perkantoran yang lain,” paparnya.

Sebuah perpustakaan, tidak mungkin berarti tanpa pengadaan koleksi buku yang masih terbatas, tidak sebanding dengan jumlah terbitan di Indonesia.

Tetapi, lanjut dia, tidak semua terbitan layak dijajarkan pada rak-rak buku. Artinya tetap diperlukan seleksi.

“Pengadaan koleksi sangat diperlukan terutama koleksi buku elektronik atau e-book,” kata Monika. Pada tahun anggaran 2020 dialokasikan kurang lebih Rp 250 juta, sedangkan buku fisik sekitar Rp 400 juta.

Koeswanto menyatakan, sebagai mitra kerja DPAD DIY, legislatif pada prinsipnya siap memberikan dukungan, termasuk mengatasi kendala dan kekurangannya.

“Tujuan kunjungan kami untuk menindaklanjuti jadwal Badan Musyawarah DPRD DIY, melakukan monitoring mitra kerja Komisi D,” ungkapnya.

Selain itu, juga untuk menjalin silaturahim terutama bagi anggota Komisi D yang baru sekaligus mengenalkan kantor baru DPAD DIY.

“Kami ingin tahu persis program dan kegiatan DPAD tahun 2020. Mau tak mau program dan kegiatan DPAD harus selalu berinteraksi dengan Komisi D, misalnya program bedah buku untuk masyarakat,” paparnya.

Alarm berbunyi

Mengingat koleksi buku-buku di perpustakaan itu berharga, maka pengamanan buku menjadi prioritas utama. Seperti di pusat perbelanjaan modern, Grahatama Pustaka dilengkapi perangkat pengaman sistem sensor.

Seorang anggota dewan mencoba peralatan tersebut, dengan cara membawa buku keluar dari ruangan. Alarm pun langsung berbunyi keras.

“Biaya pengamanan buku ini cukup tinggi meliputi sistem dan peralatan. Tiga tahun kami melengkapi alat-alat ini,” kata Monika.

“Pernah ada yang lolos?,” tanya Umarudin Masdar, anggota Komisi D.

“Sering,” jawab dia.

Tidak hanya buku yang menjadi daya tarik utama. Grahatama Pustaka juga memiliki Cinema 6 D. Anggota dewan dan sejumlah awak media diberikan kesempatan menyaksikan film dengan kaca mata khusus.

Koleksi film 6 D di antaranya Sky Car, Winter Pipeout, RackNarok, Shanghai Coaster, Arround The World, Pyton Master maupun Lost Dessert. “Ini kalau di mal bayarnya 40 ribu. Di sini tiketnya hanya 10 ribu dan masuk PAD,” kata Monika.

Seorang pengunjung Grahatama Pustaka, Anisa, mengakui, perpustakaan ini sangat nyaman. Apalagi ada fasilitas free wifi serta kantin. “Koleksinya lengkap. Ada ruang bermain,” kata mahasiswi UGM itu. (SM)



Rabu, 15 Jan 2020, 21:36:52 WIB Oleh : Nila Jalasutra 168 View
KPU Sleman Jamin PPK Tanpa Pungutan
Rabu, 15 Jan 2020, 21:36:52 WIB Oleh : B Maharani 214 View
Kerawanan Pilkada Jateng Terpetakan Bawaslu
Rabu, 15 Jan 2020, 21:36:52 WIB Oleh : Arie Giyarto 5470 View
Kadar Gula Tiba-tiba Drop, Segera Lakukan Ini

Tuliskan Komentar