atas1

Pergantian Tahun dan Keceriaan Hidup

Senin, 06 Jan 2020 | 10:48:00 WIB, Dilihat 413 Kali
Penulis : Prof. Sudjito Atmoredjo, S.H., M.Si.
Redaktur

SHARE


Pergantian Tahun dan Keceriaan Hidup Prof. Dr. Soedjito Atmoredjo, S.H., M.Si.

Baca Juga : Kepustakawanan dan Keistimewaan DIY


PERGANTIAN tahun dari 2019 ke 2020 hanya menjadi bermakna, ketika momentum itu dijadikan sebagai bahan renungan dalam menatap kehidupan secara utuh, dari masa lalu, masa kini, dan masa depan. Bagi saya, sungguh tidak ada niat ataupun rencana untuk merayakannya di Malioboro. Tetapi atas kehendakNya - walaupun sejenak -  suasana keceriaan pergantian tahun Malioboro dapat saya nikmati.

Usai memenuhi amanah sebagai penguji eksternal ujian terbuka dalam rangka promosi perolehan gelar doktor di salah satu universitas, saya pulang naik kereta api. Tak ada pilihan lain, turun di stasiun Tugu. Kala itu jam 18.47 WIB. Begitu keluar dari pintu gerbang, suasana berdesak-desak sudah terasakan. Melangkah berjalan kaki saja harus dengan tenaga ekstra agar mampu menembus padatnya manusia.

Kalau mau minta dijemput - mobil pribadi, Grab, Gojek atau lainnya - rasanya sia-sia saja. Kendaraan roda dua maupun mobil sudah tidak dimungkinkan masuk ke kawasan Malioboro dan stasiun Tugu. Jalan-jalan utama sudah ditutup. Arus kendaraan dialihkan ke ruas jalan lain. Akibatnya, jalan kaki mesti ditempuh. Sepanjang Malioboro hingga Buasasaran – tak kurang dari 5 KM - saya lalui dengan napas agak terengah-engah. Untung tidak hujan. Di sepanjang perjalanan itulah saya coba ubah keterpaksaan menjadi peluang penuh hikmah. Kali inilah, saya berkesempatan ikut-serta merayakan pergantian tahun baru di Malioboro, setelah sekitar 30 tahun berselang.

Saya sapa beberapa pengunjung. Saya sapa pula tukang-tukang parkir. Kuliner lesehan pun terlihat penuh sesak. Dapat dibilang, tidak ada sejengkal ruang kosong di Malioboro dan sekitarnya. Walau penuh sesak dan suasana dingin (karena habis diguyur hujan), semua entitas terlihat ceria. Rasa syukur dan doa pun saya panjatkan ke hadirat Illahi Robi. Suatu doa dan pengharapan, kalau saja, apa yang saya lihat itu merupakan cermin Yogyakarta atau Indonesia seluruhnya, alangkah cerianya kehidupan bangsaku.

Keceriaan pergantian tahun, memang bukan ekslusif milik golongan, kelompok, ataupun lapisan masyarakat tertentu saja. Semua komponen bangsa berhak merayakannya. Yogyakarta sebagai miniatur Indonesia, mampu menampakkan diri, menfasilitasi dan merepresentasikan miniatur yang demikian itu.

Pergantian tahun merupakan momentum terbaik untuk melihat ke dalam sekaligus ke luar. Itulah momentum pembaharuan semangat kemanusiaan, semangat sosial-kebangsaan, demi kemajuan peradaban dan kebudayaan lokal, nasional, maupun global. Bukan mengada-ada  - bahkan semestinya - pergantian tahun menjadi milik kita bersama, menjadi titik tolak menggapai keceriaan hidup.

Mengapa mesti ceria? Apa argumentasinya? Bukankah ada di antara kita justru sedang dirundung nestapa? Ambil contoh, pada saat Malioboro ceria, justru pada saat yang sama, Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi dan sekitar dilanda bencana banjir. Saudara-saudara kita di sana bukannya ceria melainkan menderita.

Dalam skala nasional, korupsi di negeri ini masih marak, bahkan terus meningkat kualitas dan kuantitasnya. Kasus-kasus korupsi besar, seperti: BLBI, Bank Century, tak kunjung terungkap dan terselesaikan dengan tuntas. Kasus korupsi serupa justru muncul, yakni kasus Jiwasraya. Negara dan rakyat dirugikan karenanya. Rakyat menderita karena klaim asuransi Jiwasraya tak dibayar. Begitu banyak masalah dihadapi bangsa ini. Mengapa kita menari-nari, bernyanyi-nyayi, makan-minum dan senda-gurau dalam keceriaan?

Kiranya perlu disadari, bahwa antara keceriaan dan kenestapaan merupakan kesatuan, serupa dengan dua muka dari satu keping mata uang. Seutuhnya perlu dipahami secara holistik. Jangan dipahami secara parsialistik. Wawasan luas tanpa batas, sadar tentang sangkan paraning dumadi, sadar tentang kefanaan duniawi dan kebakaan alam akhirat, sadar bahwa hidup adalah perjalanan waktu, sadar bahwa roda kehidupan terus berputar, sadar ada cakra manggilingan,  itulah beberapa kunci pembuka mata hati untuk berceria hidup sepanjang tahun.

Secara sederhana dapat dinyatakan bahwa ceria adalah suasana kegembiraan lahir-batin yang tercermin dengan raut wajah berseri, seyum simpul, sikap sopan-santun, perilaku ramah, senantiasa khusnuzon terhadap siapapun. Di sanalah terdapat semangat hidup, optimisme, cita-cita dan harapan sebagai basis keceriaan hidup.

Seiring perjalanan waktu, sedemikian banyak hal-hal baru terwujud, menjadi kenyataan, bukan impian. Itu semua di luar nalar, logika dan ratio. Usaha keras disertai doa, dan ridha Allah SWT, menjadi perpaduan dari raihan cita-cita. Sejujurnya, banyak hal yang terwujud justru jauh lebih bermakna dari apa yang sering dikategorikan sebagai kegagalan. Nikmat kesehatan, kesempatan, rezeki, dan anugerah lainnya, sungguh tak terbilang. Bukankah segalanya layak disambut dengan ceria? Haruskah nikmat sedemian banyak, melimpah, tak terbatas itu diingkari hanya karena setitik kenestapaan?

Keceriaan ada hierarki atau tingkatannya. Segalanya terhubung dengan fitrah masing-masing. Dalam perspektif yuridis filosofis, teologis, dan religius, setidaknya, ada empat faktor yang mempengaruhi tingkat keceriaan, yakni: (1) sensitivitas qalbu, (2) kualitas ilmu, (3) ketajaman akal, dan (4) kecekatan bergerak.

Pertama, qalbu atau hati nurani. Sensitivitas unsur kejiwaan ini amat penting dan sangat menentukan kadar keceriaan hidup. Qalbu, merupakan rajanya semua unsur kemanusiaan dan anggota badan lainnya. Ketika kondisi qalbu bersih, murni, salim, maka nur Illahi dengan mudah masuk ke dalamnya. Nur keadilan, nur kejujuran, nur keindahan, nur kesalehan, dan lain-lainnya bersemayam di dalamnya. Qalbu yang sehat senantiasa menjadi sumber sinar, sumber gerak, sumber motivasi, dan pemberi arah segala bentuk pemikiran, sikap, dan perilaku. Qalbun salim senantiasa merasakan betapa nikmat-karuniaNya tak terbilang dan senantiasa menempatkan diri kita dalam kemuliaan. Manusia berqalbun salim terjauhkan dari pemikiran, sikap dan perilaku kotor, egois, tamak, rakus, liberal, sok kuasa. Justru pada manusia berqalbu salim akan ceria hidupnya.

Kedua, ilmu adalah lentera kehidupan. Dengan ilmu hidup menjadi cerah dan terarah. Dengan ilmu tergaransi kehidupan bahagia dunia-akhirat. Itulah, maka perjalanan kehidupan mesti diisi dan sarat dengan perburuan ilmu, pesebaran ilmu, dan pemajuan ilmu serta pengamalan ilmu. Kata Bung Karno, antara ilmu dan amal mesti saling wahyu-mewahyui. Semua amal harus berbasis ilmu. Tiadalah berguna apabila ilmu tidak diamalkan. Karenanya, ilmu mesti terus didorong agar bergerak secara dinamis. Garis depan ilmu perlu terus digeser agar setapak demi setapak bergerak mendekati hakikat ilmu yakni kebenaran absolut. Kebenaran absolut hanya ada pada Allah SWT. Oleh karenanya, ilmuwan mesti terus memperbarui komitmen spiritualnya agar sampai pada kebenaran absolut tersebut. Jangan sekali-kali menjadi imuwan sekuler. Jadilah ilmuwan berwawasan luas, ilmuwan profetik, ilmuwan religius. Pastilah ceria hidupnya.

Ketiga, akal. Diinsyafi bahwa manusia memang diistimewakan oleh Sang Pencipta di atas makhluk-makhluk lainnya, yakni diberikan akal. Keistimewaan sekaligus keunggulannya membawa konsekuensi terhadap tugas dan tanggung jawabnya sebagai kalifatullah di muka bumi. Dengan akal manusia berpikir.  Berpikir merupakan ciri dan bukti adanya kreativitas. Melalui aktivitas berpikir, akan diraih berbagai inovasi, kreativitas, progresivitas, dan berbagai kemajuan lain. Rene Des Cartes bilang Cogito Ergo Sum, artinya: karena berpikir maka aku ada. Di muka bumi ini, banyak manusia ceria hidupnya, ketika mampu berpikir, berinovasi sekaligus membuktikan dirinya ada dan bermanfaat dalam kehidupan bersama.

Keempat, kecekatan bergerak. Era revolusi industri 4.0 sudah hadir. Kehadirannya menguncang dunia. Segala aktivitas, dinamika, gerak, menjadi sangat cepat dan mudah karena didukung perangkat-perangkat digital serba canggih dan online. Banyak manusia hidupnya ceria, karena kemudahan-kemudahan diperolehnya. Walau demikian, tidak bisa dipungkiri, ada sebagian manusia justu terkorbankan oleh perkembangan baru ini. Eksistensi dan fungsinya tergantikan oleh robot. Mesin-mesin bayar gaji, bayar pulsa, bayar tagihan, dan lain-lain, semuanya sudah digunakan sebagai cara/metode bekerja baru, dan dengan itu kehadirannya menggeser pekerjanya ke luar wilayah/kantor. Begitulah perkembangan zaman. Supaya tidak tergilas roda kehidupan, maka kepada mereka yang telah dan akan menjadi korban-korban perkembangan zaman, perlu diingatkan agar cepat-cepat sadar dan berusaha mengubah pola hidup. Manusia - siapapun dia - mestinya tetap mampu menjadi subjek kehidupan. Tabu mendegradasikan dirinya atau orang lain menjadi sekedar objek kehidupan. Subjek-subjek kehidupan itulah yang mampu bergerak cepat dan tepat. Pantaslah mereka ceria.

Pergantian tahun sebagai hal biasa layak dirayakan dan dijadikan hal yang luar biasa. Kiranya, rona kehidupan bangsa Indonesia ke depan akan ceria bila segenap komponen bangsa teguh pendiriannya pada empat faktor di atas. Salam Pancasila. ***

 

Prof. Dr. Sudjito Atmoredjo, SH, M.Si.

Guru besar Ilmu Hukum UGM.



Senin, 06 Jan 2020, 10:48:00 WIB Oleh : Sarwono, MA 296 View
Kepustakawanan dan Keistimewaan DIY
Minggu, 05 Jan 2020, 10:48:00 WIB Oleh : Arie Giyarto 212 View
Antologi Kepak Sayap Waktu Karya 49 Penyair Diluncurkan
Minggu, 05 Jan 2020, 10:48:00 WIB Oleh : Sari Wijaya 367 View
Beragam Kegiatan Tandai Satu Dekade JKM

Tuliskan Komentar