atas1

Perempuan-perempuan Pembebas Tampil Gratis di TBY

Rabu, 24 Jul 2019 | 00:34:50 WIB, Dilihat 261 Kali - Oleh Muhammad Zukhronnee Ms

SHARE


Perempuan-perempuan Pembebas Tampil Gratis di TBY Potongan poster Perempuan-perempuan pembebas (istimewa)

Baca Juga : Bank Sampah Sabrang Memprihatinkan


KORANBERNAS.ID -- Lakon “Perempuan-Perempuan Pembebas” karya Indra Tranggono akan dipentaskan Komunitas STEJA (Sinergi Teater Jogja) di Societet Taman Budaya Yogyakarta, Jumlat (26/7/2019) pukul 20.00. Pementasan ini hasil kerjasama Dinas Kebudayaan DIY, Taman Budaya Yogyakarta dan Sanggar Putri Sigrak.

Disutradarai Luwi Darto Ssn, repertoar ini didukung para teaterawan DIY lintas generasi, era 1980-an - 2000-an. Mereka adalah Khocil Birawa, Seteng Agus Yuniawan, Nunung Rieta, Luwi Darto, Sukaptiran, Joanna Dyah, Elyandra Widharta, Chandra Nilasari, Estri Mega dan Gea Mitha. Musik digarap Y Arief Susilo, Guntur Nur Puspito, dan Daniel Soka. Tata cahaya (Lintang Radittya). Koreografer (Gita Gilang). Supervisor (Indra Tranggono).

“Mengambil gaya monolog dan dialog, lakon ini digarap secara teaterikal, dengan basis realisme. pementasan ini memadukan bentuk realis dan non realis, demi menciptakan peristiwa dramatik," ujar Luwi Darto sang Sutradara.

“Setiap adegan memiliki pucak dramatik. puncak-pucak itu dianyam oleh persoalan dan alur hingga membentuk struktur dramatik,” tambah Luwi.

Sementara itu Indra Tranggono mengatakan pementasan ini bisa dimaknai dalam tiga perspektif. Pertama, secara tematik bicara tentang posisi perempuan yang menjadi korban dari praktik nilai-nilai  yang didominasi laki-laki (yang mewujud dalam sistem, struktur dan kekuasaan).

Kedua, dorongan untuk semakin eksis-nya para perempuan teaterawan baik sebagai sutradara, aktor maupun peran-peran lainnya di bidang artistik dan produksi. 

“Seperti kita tahu teater Indonesia adalah teater yang didominasi laki-laki," tutur Indra.

Ketiga, meletakkan kekuatan daya kreatif di atas dominasi kuasa modal. Seiring menguatnya ekonomi neo-liberal, kehidupan berbeaya tinggi berdampak serius pada budaya, termasuk teater.

"Pertimbangan ongkos produksi tinggi, cenderung menjadikan masyarakat   gagap berteater. Ini bisa di atasi antara lain dengan kekuatan ide dan kreativitas yang mampu menekan dana," pungkasnya.(yve)

 


Rabu, 24 Jul 2019, 00:34:50 WIB Oleh : Masal Gurusinga 265 View
Bank Sampah Sabrang Memprihatinkan
Rabu, 24 Jul 2019, 00:34:50 WIB Oleh : W Asmani 389 View
Purworejo Lestarikan Tradisi Bupati Saba Desa
Selasa, 23 Jul 2019, 00:34:50 WIB Oleh : Nanang WH 293 View
Ngantor Siang Pulang Awal, Kades Bukan Pekerjaan Sambilan

Tuliskan Komentar