atas1

Penyalahgunaan Obat, Tantangan Kita Semua

Sabtu, 22 Des 2018 | 01:41:12 WIB, Dilihat 601 Kali - Oleh Awan Pratama, SIP

SHARE


Penyalahgunaan Obat, Tantangan Kita Semua Arwan Pratama, SIP

Baca Juga : Dualisme tanpa Dasar


MENDASARKAN pada hasil Survei Nasional Penyalahgunaan Narkoba di 34 provinsi di Indonesia Tahun 2017, yang telah dilaksanakan oleh Pusat Penelitian Data dan Informasi (Puslitdatin) Badan Narkotika Nasional Republik Indonesia (BNNRI)-- meskipun sasaran survei ini adalah kalangan pekerja--,namun ada beberapa hal yang patut menjadi perhatian kita semua.

Bahwa obat-obat daftar G, golongan psikotropika, maupun obat legal lainnya, yang dapat dengan mudah diperoleh seperti obat sakit kepala, obat flu dan obat anti mabuk perjalanan, atau obat-obatan lainnya yang memiliki efek sedative, masih menjadi “primadona” untuk disalahgunakan. Bentuk penyalahgunaannya, di antaranya berupa diminum dalam jumlah banyak (melebihi dosis atau anjuran medis). Bisa juga dicampur dengan minuman beralkohol atau zat lainnya untuk mendapat efek samping secara berlebihan.

Keadaan menjadi lebih memprihatinkan, apabila kita mendapati fakta bahwa penyalahgunaan obat-obatan dimaksud, justru marak terjadi di kalangan pelajar. Ya, tentu kita semua tak boleh menutup mata, tak boleh berdiam diri terhadap kondisi ini.

Perlu diketahui, bahwa pada Agustus 2017, BNN Kabupaten Purbalingga bersama dengan Satnarkoba Polres Purbalingga telah berhasil meringkus jaringan sindikat peredaran gelap obat-obatan di kalangan pelajar.

Lantas bagaimanakah tren penyalahgunaan obat-obatan di kalangan pelajar di tahun 2018 ini?

Mari kita simak, mendasarkan pada hasil gelaran kegiatan deteksi dini yang telah dilaksanakan oleh Badan Narkotika Nasional Kabupaten Purbalingga, khususnya di lingkungan pendidikan menengah pada tanggal 26 – 28 September 2018 di sembilan lokasi.

Kegiatan deteksi dini tersebut dilaksanakan di antaranya melalui pemeriksaan pupil mata dan cek urine dengan rapid test narcotics terhadap para siswa terpilih (dipilih oleh guru BK atau kesiswaan) yang rentan terindikasi menyalahgunakan narkoba atau obat-obatan.

Kemudian, beberapa sekolah menindaklanjuti dengan kegiatan mengundang kembali BNN (kegiatan inisiasi dari sekolah) dalam acara “sosialisasi bahaya narkoba dan penanganannya” yang melibatkan orang tua/wali murid dan siswa.

Hasil dari kegiatan “sosialisasi bahaya narkoba dan penanganannya“ itu, beberapa siswa dilakukan pemeriksaan lanjutan berupa asesmen di kantor BNN Kabupaten Purbalingga dengan didampingi oleh orang tua/wali dan pihak sekolah.

Siswa yang dilakukan pemeriksaan di kantor BNN adalah siswa yang menurut pengakuannya sendiri; atau berdasarkan hasil pemeriksaan pupil mata/cek urine pada saat kegiatan deteksi dini; atau berdasarkan hasil pemantauan yang dilakukan oleh pihak sekolah melalui guru BK (kesiswaan) patut diduga terindikasi sebagai penyalah guna obat-obatan atau psikotropika.

Dari hasil asesmen yang dilakukan oleh BNN Kabupaten Purbalingga, kemudian direkomendasikan ada sepuluh siswa harus mengikuti layanan terapi rehabilitasi medis rawat jalan, yang terbagi di dua lembaga rehabilitasi, yakni di RSUD dr. R. Goetheng Taroenadibrata (sebagai Lembaga Rehabilitasi Instansi Pemerintah/LRIP) dan Klinik Siloam (sebagai Lembaga Rehabilitasi Komponen Masyarakat/LRKM).

Layanan terapi rehabilitasi medis dilakukan dengan metode terapi simptomatik, yakni delapan kali pertemuan konseling. Selama menjalani layanan terapi rehabilitasi medis rawat jalan inilah, klien membutuhkan dukungan semua pihak. Hal ini agar klien dapat melalui tahapan layanan terapi dengan baik, sehingga klien kemudian dapat kembali berpola hidup secara sehat, mandiri dan produktif. Serta yang paling utama adalah tidak mengalami relaps (kambuh menggunakan kembali).

Jika masih ada pelajar yang terindikasi sebagai penyalah guna dan atau pecandu narkoba/psikotropika atau obat-obatan, dan belum terjamah layanan terapi rehabilitasi BNN, dipersilakan kepada pihak sekolah untuk dapat memfasilitasi yang bersangkutan untuk mendapatkan haknya. Yakni hak rehabilitasi, hak untuk pulih kembali menjalani kehidupannya secara sehat, mandiri dan produktif, dengan datang melapor diri ke kantor BNN Kabupaten Purbalingga di Jalan Soekarno-Hatta Nomor 20-B Kalikabong Purbalingga.

Karenanya, kami mengajak kepada stakeholders, kepada semua pihak, untuk makin merapatkan barisan melakukan tindakan-tindakan nyata untuk menanggulangi permasalahan penyalahgunaan psikotropika atau obat-obatan di kalangan pelajar. Utamanya adalah Komunikasi, Informasi, Edukasi (KIE) tentang bahaya narkoba, yang di dalamnya termasuk gawatnya penyalahgunaan obat-obatan, secara lebih masif, lebih intens untuk semua kalangan.

Terlebih sudah ada payung hukumnya, yakni Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2018 tentang Rencana Aksi Nasional Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika dan Prekursor Narkotika Tahun 2018 – 2019, yang telah resmi diundangkan pada tanggal 28 Agustus 2018. Maka, tak ada lagi alasan bagi kita untuk tidak bergerak bersama, menanggulangi bersama permasalahan darurat penyalahgunaan obat ini. ***

 

Awan Pratama, S.IP

Humas BNN Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah

(Artikel ini juga dimuat di Koran Bernas versi cetak edisi 30 November 2018).



Jumat, 21 Des 2018, 01:41:12 WIB Oleh : Despan Heryansyah 601 View
Dualisme tanpa Dasar
Jumat, 21 Des 2018, 01:41:12 WIB Oleh : Nila Jalasutra 471 View
Ratusan PNS Pemkab Sleman Pensiun
Jumat, 21 Des 2018, 01:41:12 WIB Oleh : Sholihul Hadi 493 View
ACT Siap Kirim Tim Kemanusiaan ke Uighur

Tuliskan Komentar