TNI-stipram

Pemilik Hotel Termahal Itu Orang Indonesia

Senin, 03 Sep 2018 | 17:16:18 WIB, Dilihat 16759 Kali - Oleh Arie Giyarto

SHARE


Pemilik Hotel Termahal Itu Orang Indonesia Gugusan pulau berbentuk gapura di Phuket Island. (arie giyarto/koranbernas.id)

Baca Juga : Cerita tentang Gajah Seharga Mobil Baru


KORANBERNAS.ID — Menikmati wisata di Phuket berbalut rasa syukur mengagumi kuasa Allah SWT. Sebagai pulau relatif kecil di tengah laut, sebagaimana di Indonesia bagian timur, Phuket juga dikelilingi ratusan pulau-pulau kecil seakan-akan tertancap di laut.

Bentuk pulau berbeda satu dengan yang lain. Ada dua pulau yang berbentuk seperti gapura. Ada yang mencuat ke atas seperti tabung serta berbagai bentuk lainnya.

Menurut Yamin, sang pemandu wisata, pulau-pulau itu hampir semua tanpa penghuni. Hanya ada satu dua yang ada penduduknya.

Meski merupakan batu karang, atas kuasa Allah pulau-pulau tersebut berwarna hijau segar. Ditumbuhi pohon secara rapat. Satu dua pulau itu sudah ada yang lepas batu-batunya teronggok di pinggir.

Untuk melindunginya, pemerintah menanaminya dengan hutan bakau di sekelilingnya agar tidak kena abrasi. Dari tampilan pohonnya, tampak ada hutan bakau baru.

Beberapa tampak pohonnya sudah besar-besar dan akarnya mencengkeram ke bawah air. Hutan bakau itu konon juga untuk mengendalikan agar ombak di perairan itu menjadi tenang sehingga wisatawan merasa aman.

Sebagai pulau dengan lebih dari 50 persen penduduknya memeluk agama Budha, ada beberapa tujuan wisata yang berkait dengan agama tersebut. Tempat kremasi, tempat pemujaan bagi pemeluk Budha, tempatnya indah dan bersih. Bangunannya juga khas.

 

Sambil melintas jalan kita juga bisa menyaksikan patung raksasa Sang Budha Gautama ada di atas bukit. Tingginya 50 meter. Di tempat lain, ada pula patung Sang Budha Gautama yang tengah tiduran.

Di Phuket terdapat Old Town. Jalan yang tidak begitu panjang itu dipenuhi toko-toko ukuran kecil. Sebagian mereka menurut Yamin dulu keturunan China Hainan sehingga di penggal jalan tersebut tulisan tak hanya huruf Thai tetapi juga huruf China.

Selain berbagai busana tradisional maupun busana kekinian, di Kota Lama juga terdapat berbagai toko menjual makanan dan pernik-pernik peninggalan zaman dulu. Atau paling tidak replika benda-benda kuno.

Juga ada beberapa kedai makan, namun bukan untuk muslim. Beberapa toko kecil mengibarkan bendera Thailand. Gambaran lokasinya seperti deretan kios Lor Pasar Beringharjo Yogyakarta era 1960-1970-an. Bangunannya berarsitektur kuno, khas permukiman China. Tetapi depannya merupakan jalan yang cukup ramai.

Di Phuket, menurut Farida selaku tour leader, ada kampung nelayan yang dihuni orang-orang asal Sumatera. Mereka hidup dalam komunitas terbatas meski sudah beranak pinak.

Yamin menambahkan, mereka tidak bisa keluar dari wilayahnya untuk membeli tanah dan membangun rumah karena mereka tidak bersertifikat penduduk Thailand.

 

Entah benar atau tidak, zaman dahulu nama Phuket itu berasal dari komunitas nelayan tersebut. Karena berbukit-bukit mereka menyebut Bukit.

Dan dalam lafal penduduk setempat diucapkan sebagai Phuket. Ini hanya cerita dari mulut ke mulut dan tidak ditopang dengan kepustakaan sebagai dasarnya.

Di kawasan Kemala, terdapat masjid yang lumayan besar. Setiap Ramadan, depan masjid tersebut penuh orang-orang berjualan makanan untuk berbuka puasa. Masjid pun menyediakan takjilan bagi yang ingin berbuka puasa. Suasananya ramai sekali.

Saat ini di Phuket terdapat ratusan hotel besar maupun kecil. Banyak juga penduduk yang menjadikan rumahnya menjadi home stay.

Menariknya, menurut Farida maupun Yamin, hotel termahal itu namanya Amanpuri. Pemiliknya orang Indonesia. Hotel di mana koranbernas.id menginap penuh tamu dari berbagai bangsa.

Pada saat makan pagi suasana riuh rendah. Banyak orang yang bicara dalam nada tinggi sebagai kebiasaannya dalam bahasa yang hanya dikenal komunitasnya.

Sebagai negara yang sangat terkenal dengan aneka anggrek, terdapat lorong dari front office menuju kamar-kamar tamu, kiri kanan dipenuhi ratusan pohon anggrek penuh bunga, tergantung membentuk semacam pagar.

Hampir semua tamu berhenti untuk mengaguminya. Menariknya tak seorang pun tamu yang memetik bunganya. (sol)

 

 



Senin, 03 Sep 2018, 17:16:18 WIB Oleh : Arie Giyarto 164 View
Cerita tentang Gajah Seharga Mobil Baru
Sabtu, 01 Sep 2018, 17:16:18 WIB Oleh : Yvesta Putu Sastrosoendjojo 48 View
Mantan Presiden Jomblo Ini Jualan Bakpia
Sabtu, 04 Agu 2018, 17:16:18 WIB Oleh : Nila Jalasutra 82 View
Vanda Tri Color Anggrek Liar dari Gunung Merapi

Tuliskan Komentar