Sabtu, 16 Jan 2021,


pemda-diy-menata-belanja-daerah-untuk-memacu-roda-perekonomianWakil Gubernur Paku Alam X menghadiri pertemuan Tahunan Bank Indonesia Nasional 2020, di Hotel Royal Ambarrukmo Yogyakarta. (istimewa)


Yvesta Putu Ayu Palupi

Pemda DIY Menata Belanja Daerah untuk Memacu Roda Perekonomian


SHARE

KORANBERNAS.ID, YOGYAKARTA -- Pemda DIY telah menata dan bersiap mengoptimalisasi belanja daerah pada awal tahun 2021. Hal ini dilaksanakan untuk memicu dan memacu bergulirnya roda perekonomian daerah pada masa pandemi Covid-19.

“Pemda DIY selalu menekankan kerja sama lintas sektor dalam melaksanakan pembangunan, sebagai contoh implementasi pola Pentahelix. Konsep Pembangunan Berkelanjutan Pentahelix adalah strategi pembangunan dengan fondasi kerja sama lintas sektor,” papar Paku Alam X, Wakil Gubernur DIY, saat membacakan keynote speech Gubernur DIY, Kamis (3/12/2020), di Hotel Royal Ambarrukmo Yogyakarta.


Paku Alam mengatakan, kasus Covid-19 secara global masih terus meningkat, tidak terkecuali Indonesia. Turbulensi dalam berbagai sektor seperti pemerintahan, ekonomi, sosial-budaya dan kemasyarakatan masih akan melingkupi dunia global sampai tahun 2021.

Pandemi ini berdampak terhadap pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB) atau Sustainable Development Goals (SDGs) Indonesia. Angka kemiskinan akan sedikit meningkat dan tingkat pengangguran juga sedikit lebih tinggi.


Konsep pentahelix melibatkan unsur pemerintah sebagai pemilik political power, akademisi sebagai pemilik knowledge power dan dunia usaha sebagai pemilik economic power. Sedangkan masyarakat sebagai social control dan media sebagai pemilik information power.

“Perlu bagi kita untuk menyelaraskan kesehatan fiskal nasional, dengan cara menjaga optimisme pasar untuk menjaga marwah ekonomi negara, sekaligus meningkatkan consumer confidence, sebagai representasi optimisme masyarakat,” ungkapnya.

Kepala Bank Indonesia Perwakilan DIY, Hilman Tisnawan, mengatakan sinergi dan kolaborasi menjadi kunci utama dana upaya pemulihan ekonomi dalam kondisi pandemi Covid-19. Covid-19 menyebabkan berhentinya aktivitas pergerakan manusia sejak Maret 2020.

“Hal ini juga yang membuat geliat perekonomian di DIY, khususnya dunia pariwisata menurun drastis. Akibat pandemi ini belum ada lagi investasi masuk ke DIY yang dapat mendorong perekonomian, sehingga pertumbuhan ekonomi di  DIY mengalami penurunan,” jelasnya.

Menurut Hilman, di tengah pandemi, stabilitas sistem keuangan DIY masih terjaga, sehingga kemampuan transaksi di DIY dalam menghasilkan laba masih cukup baik.

Daya beli masyarakat memang tampak menurun, tetapi masih dalam tingkat yang wajar, berkat dukungan Pemda DIY dalam upaya pemulihan ekonomi.

“Kami tentu terus mendukung dan mengamati arah kebijakan perekonomian Pemda DIY. Berbagai kolaborasi dan program sinergi telah dilakukan BI dengan Pemda DIY, sebagai upaya kami mendukung Pemda DIY. Misalnya, program Bejo Talk  atau Berbagi Ekonomi Jogja Talk, Siwignyo atau Sinergi Wisata Ngayogyakarta dan Semar atau Smart Traditional Market,” kata dia. (*)



SHARE
'

BERITA TERKAIT

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Tulis Komentar disini