peluncuran-buku-paku-alam-v-maju-sehariAbdi Dalem Pura Pakualaman, Mas Riya Sestrodirjo, menunjukkan buku PA V. (w asmani/koranbernas.id)


asmani

Peluncuran Buku Paku Alam V Maju Sehari

SHARE

KORANBERNAS.ID – Jadwal peluncuran buku berjudul Paku Alam (PA) V, Aristo-Modernis Dari Timur, Paku Alam V, Westernisasi, dan Paradoks Kebudayaan, diluncurkan Jumat (15/2/2019). Acara ini maju sehari dari jadwal semula.

Abdi Dalem Pura Pakualaman, Mas Riya Sestrodirjo, kepada wartawan, Sabtu (16/2/2019), mengatakan panitia memohon maaf tidak memberitahu media.


Baca Lainnya :

Pada saat peluncuran hadir sebagai pembedah buku Sudibyo (penulis), Sri Ratna Sakti Mulya (penulis), Peter Carey, serta dipandu KRMT Projo Noto Hadi Suryo (Kimpling).

Peter Carey, merupakan seorang berkebangsaan Inggris yang konsen dengan kebudayaan jawa. Dia pernah tinggal di rumah RA. Kusumo Broto selama dua tahun.


Baca Lainnya :

Dalam kesempatan tersebut, Peter merasa berutang kepada keluarga Kusumo Broto. "Saya akan membayar utang, dengan melakukan sharing pada peluncuran Buku PA V," katanya.

Peter memaparkan membaca buku tentang PA V memang sangat menarik. Sebagai seorang putra bangsawan, PA V dengan alasan tertentu harus keluar dari istana, dan diasingkan di desa Bugel dekat Pantai Glagah Kulonprogo. "Di desa tersebut, PA V memiliki guru kebatinan," ujar dia.

Lanjut Peter, guru inilah yang mengasah kemampuan PA V menjadi pemimpin ulung. Pada pemerintahan PA V (1878-1900), lima tahun pertama mampu melunasi utang yang jumlahnya tidak sedikit.

PA V juga menyadari arti penting pendidikan. "PA V mempersilakan anak dan cucu serta kerabatnya sekolah di dalam ataupun luar negeri," tambah Peter.

Karenanya, di lingkungan Pakualaman muncul teknokrat, birokrat dan sastrawan.

Wakil Gubernur DIY Paku Alam X dalam sambutan tertulis di buku tersebut mengatakan PA V pada zamannya dikenal memiliki pemikiran maju.

Keterbukaannya terhadap pendidikan modern dan keteguhannya pada tradisi menjadi inspirasi bagi seluruh kerabat Pakualaman dalam mengembangkan diri dan membina kehidupan yang lebih baik.

“Dalam konteks masa kini yakni pada era disrupsi yang menuntut segala sesuatu tersaji dengan cepat dan berorientasi pada masa depan, PA V mengingatkan kita untuk tidak mengabaikan akar tradisi darimana kita tumbuh," terang Paku Alam X.

Menurut dia, hanya dengan tradisi sebagai ruh dari pembentukan jati diri, generasi baru akan tumbuh dan berkembang tanpa harus kehilangan arah. Mereka akan dapat berdiri sejajar dengan mitra antarbangsa sebagai manusia yang bermartabat. (sol)



SHARE

BERITA TERKAIT

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Tulis Komentar disini