atas

Pelestarian Cagar Budaya Tidak Mudah

Selasa, 18 Des 2018 | 10:14:39 WIB, Dilihat 708 Kali - Oleh Sholihul Hadi

SHARE


Pelestarian Cagar Budaya Tidak Mudah   FGD Warisan Budaya/Cagar Budaya Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta, Kamis (06/12/2018) di Hotel Tjokro Styles Yogyakarta. (sholihul hadi/koranbernas.id)

Baca Juga : Buku Geguritan Dialek Semarangan Diluncurkan di Bantul


KORANBERNAS.ID – Cagar budaya selain menginspirasi juga memberi nilai identitas diri bangsa, sejarah serta ilmu pengetahuan.  Itu sebabnya, cagar budaya  harus dilestarikan dan dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat Indonesia.

Namun demikian, pelestarian cagar budaya tidak mudah. “Ada tiga faktor utama problem pelestarian cagar budaya. Yakni, perusakan, jual beli dan  biaya pemeliharaan,” ungkap Fahmi  Prihantoro, anggota Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kota Yogyakarta.

Menyampaikan makalah tentang Melestarikan Cagar Budaya dan Warisan Budaya di Kota Yogyakarta pada acara Focus Group Discussion Warisan Budaya/Cagar Budaya Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta, Kamis (06/12/2018) di Hotel Tjokro Styles Yogyakarta, dia menyampaikan warisan budaya bisa berupa benda dan warisan tak benda.

Warisan budaya bersifat kebendaan berupa Benda Cagar Budaya, Bangunan Cagar Budaya, Struktur Cagar Budaya, Situs Cagar Budaya dan Kawasan Cagar Budaya di darat dan atau di air.

Semua itu perlu dilestarikan keberadaaanya karena memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama dan atau kebudayaan, melalui proses penetapan. Penjelasan tersebut berdasarkan  Undang Undang Nomor 11 Tahun 2010.

Adapun kriteria cagar budaya, lanjut Fahmi, berusia 50 tahun atau lebih, mewakili masa gaya paling singkat 50 tahun, memiliki arti khusus bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan/atau kebudayaan serta dan memiliki nilai budaya bagi penguatan kepribadian bangsa.

“Cagar budaya harus dilestarikan karena mempunyai arti penting bagi kebudayaan bangsa, khususnya untuk memupuk rasa kebanggaan nasional dan memperkokoh kesadaran jati diri bangsa,” tandasnya.

Setidaknya terdapat tiga komponen yang harus melestarikan cagar budaya yaitu pemerintah, masyarakat dan swasta. Pemerintah berperan membuat peraturan dan sosialisasi, melindungi, mengembangkan dan memanfaatkan.

Masyarakat berperan melindungi dan merawat, mengembangkan serta memanfaatkan. Sedangkan swasta berperan melindungi, mengembangkan,  dan memanfaatkan.

Fahmi mengingatkan, masa depan cagar budaya menjadi cerah bila memenuhi tiga hal. Pertama, identitas budaya yang kuat. Kedua, kesejahteraan yang lebih baik dan ketiga, kesinambungan masa lalu, masa kini dan masa depan.

Dalam kesempatan itu anggota Komisi D DPRD Kota Yogyakarta Samsul Hadi mendukung program Focus Group Discussion (FGD) Warisan Budaya dan Cagar Budaya.

Kegiatan ini selain untuk berbagi informasi, juga bisa menjadi sarana menyelesaikan persoalan tentang pelestarian warisan budaya.

Samsul mengatakan, kapasitasnya sebagai anggota dewan hanya mengawasi sekaligus men-support kegiatan Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta yang menjadi mitra kerja komisi.

Dia juga mengajak warga Kecamatan Umbulharjo ikut berperan aktif menjaga, melestarikan sekaligus memanfaatkan warisan budaya untuk mendukung kegiatan ekonomi.

Kepala Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta Ir Eko Suryo Maharsono meminta warga tidak perlu muluk-muluk membangun program tentang pelestarian warisan budaya dan cagar budaya.

“Yang dibutuhkan saat ini adalah masyarakat mengetahui mengenai perbedaan pengelolaan bangunan warisan budaya dan bangunan cagar budaya,” ujarnya. (sol)



Selasa, 18 Des 2018, 10:14:39 WIB Oleh : Arie Giyarto 778 View
Buku Geguritan Dialek Semarangan Diluncurkan di Bantul
Selasa, 18 Des 2018, 10:14:39 WIB Oleh : Sholihul Hadi 350 View
ACT DIY Targetkan Beri Beasiswa 200 Anak
Senin, 17 Des 2018, 10:14:39 WIB Oleh : Arie Giyarto 368 View
PWS Undang Bupati Tulangbawang Lampung

Tuliskan Komentar