atas1

Pedagang Memprotes Kebiasaan Warga Membuang Sampah di TPS Pasar

Jumat, 28 Jun 2019 | 19:51:23 WIB, Dilihat 507 Kali - Oleh Masal Gurusinga

SHARE


Pedagang Memprotes Kebiasaan Warga Membuang Sampah di TPS Pasar Pedagang yang berjualan di samping TPS sampah Pasar Klaten. Meski terganggu karena bau, setiap hari mereka tetap berjualan. (Masal Gurusinga/koranbernas.id)

Baca Juga : Aliansi Dukung Kejari Usut Kasus di Desa Bantul


KORANBERNAS.ID--Keberadaan tempat penampungan sementara (TPS) sampah di sebuah pasar sangatlah penting. Sebab sampah dari para pedagang bisa dibuang di TPS itu. Namun akan memunculkan permasalahan baru, jika warga juga ikut membuang sampah di pasar. Ironisnya lagi sampah yang ada di TPS pasar sebagian besar justru dari warga sekitar pasar.

Di sinilah diperlukan kesadaran warga. Pengelola pasar juga harus tegas terhadap warga yang membuang sampah di pasar.

“Seringkali ada pohon pisang, kasur dan bantal dibuang di sini. Itu jelas dari warga dan bukan dari pedagang. Sampah dari pedagang umumnya sayur-sayuran dan buah-buahan yang sudah busuk,” kata para pedagang Pasar Wedi saat ditemui di sekitar TPS sampah pasar itu

Diceritakan, TPS Pasar Wedi berada di dalam pasar. Dan pasar mulai buka sekitar jam 06.00 hingga 18.00 WIB. Saat pasar tutup, otomatis seluruh pintu masuk pasar juga tutup. Tetapi kenyataannya tetap saja ada warga yang membuang sampah di pasar.

Para pedagang sempat protes karena warga yang membuang sampah di pasar tidak dikenai retribusi. Sedangkan pedagang rutin membayar retribusi sampah.

Begitu juga yang terjadi di Pasar Klaten. Para pedagang yang berjualan di sekitar TPS sampah di sebelah timur Matahari Plasa itu meminta petugas pasar bersikap tegas terhadap warga yang membuang sampah di pasar.

Kepada petugas DPU Penataan Ruang yang bertugas, agar rutin mengambil sampah pasar dan membuangnya ke TPA (Tempat Pembuangan Akhir) sampah di Desa Troketon Pedan.

“Beberapa waktu lalu pernah kejadian setiap libur sampahnya tidak diambil petugas DPU. Akibatnya sampah menumpuk dan sampai ke tempat kami berjualan. Kami sempat protes karena terganggu. Di sini sehari saja sampah tidak diambil pasti numpuk kemana-mana,” kata Tumiyem, pedagang daging ayam yang sehari-hari berjualan disebelah TPS Pasar Klaten.

Warga Desa Karang Pakel Kecamatan Trucuk itu menambahkan, dirinya dan pedagang lain sempat mengeluh kepada petugas pasar atas sikap warga yang dengan leluasa membuang sampah di pasar tanpa dipungut retribusi.

“Padahal sampah warga di pasar juga banyak dan mungkin lebih banyak bila dibandingkan sampah pedagang,” ujarnya.

Keberadaan TPS sampah Pasar Klaten yang terbuka dan tidak ada pagarnya itu, membuat warga leluasa membuang sampah di sana. Bahkan tidak tertutup kemungkinan warga dari jauhpun ikut membuang sampah di TPS Pasar Klaten.

Lebih memprihatinkan terjadi di Pasar Delanggu. Pasar yang terletak di pinggir Jalan Raya Solo-Jogja dan dibangun tahun 2007 itu, tidak memiliki TPS sampah. Akibatnya, sampah para pedagang dibuang dan dikumpulkan di bawah tangga di pinggir jalan Stasiun Delanggu.

Karena lokasinya di pinggir jalan dan tempat terbuka maka memberikan peluang kepada warga umum juga membuang sampah di tempat itu.

Kepala Pasar Delanggu Purwadi menjelaskan sampah yang ada di pinggir jalan stasiun juga ada dari warga sekitar dan tidak seluruhnya sampah pedagang. Namun pihaknya tidak bisa mengidentifikasi warga tersebut. (SM)



Jumat, 28 Jun 2019, 19:51:23 WIB Oleh : Sari Wijaya 871 View
Aliansi Dukung Kejari Usut Kasus di Desa Bantul
Kamis, 27 Jun 2019, 19:51:23 WIB Oleh : warjono 1103 View
Bagi Gibran, Enterpreneur Bukan Sekadar Ikut Tren
Kamis, 27 Jun 2019, 19:51:23 WIB Oleh : warjono 587 View
Bertahap, Warga Denokan Sempurnakan Saluran Irigasi

Tuliskan Komentar