TNI-stipram

Pariwisata Banyuwangi Melesat, Bantul Belajar

Rabu, 10 Okt 2018 | 12:30:38 WIB, Dilihat 119 Kali - Oleh Sari Wijaya

SHARE


Pariwisata Banyuwangi Melesat, Bantul Belajar Kabid Pengembangan Kapasitas Dinas Pariwisata Bantul, Antoni Hutagaol ST MT, menyerahkan cenderamata saat studi banding di Desa Wisata Tamansari Kecamatan Licin Banyuwangi Jawa Timur, Rabu (10/10/2018). (sari wijaya/koranbernas.id)

Baca Juga : Saat Desa Terbalut Nuansa Jawa


KORANBERNAS.ID -- Perkembangan pariwisata di Kabupaten Banyuwangi Jawa Timur sejak dicanangkan sebagai sektor unggulan oleh pemerintah daerah setempat pada tahun 2010 terus menggeliat dan melesat. Kondisi inilah yang menarik minat Dinas Pariwisata Bantul untuk belajar pengembangan desa wisata.

Kabid Pengembangan Kapasitas Dinas Pariwisata Bantul, Antoni Hutagaol ST MT, mengatakan sangat perlu belajar ke daerah lain untuk menyerap ilmu dan strategi agar bisa diterapkan di Bantul.

"Apa yang diperoleh bisa diaplikasikan di Kabupaten Bantul sehingga meningkatkan kualitas desa wisata di tempat kami," kata Antoni saat mengunjungi Desa Wisata Tamansari Kecamatan Licin Banyuwangi Jawa Timur, Rabu (10/10/2018).

Mereka yang diajak sebagai peserta studi banding  adalah para pengelola dan juara home stay maupun  desa wisata. Mulai dari desa wisata di bentangan pantai, desa wisata kuliner dan kerajinan hingga desa wisata sejarah dan alam pegunungan di Bantul.

Rizal Syahputra Lurah Desa Tamansari mengatakan mereka serius mulai mengelola desa wisata sejak akhir 2015. "Kami dulu belajar ke Desa Wisata Pentingsari Sleman pada tahun 2014 kemudian kami aplikasikan di sini," katanya.

Apalagi pemerintah Kabupaten Banyuwangi juga memberi peluang  bagi  desa untuk berinovasi termasuk di sektor wisata maka mereka semakin bersemangat.

"Kami melihat potensi yang ada di sekitar kemudian meminimalisir potensi masalah dengan regulasi yang jelas. Kami rapikan semua, dan ego kami redam sehingga kami bisa berjalan seperti sekarang," katanya.

Tamansari, lanjut Lurah Rizal, merupakan desa paling barat di Banyuwangi dengan jarak tempuh satu jam dari kota.

Kekurangan itu harus diatasi dengan membuat desa digital sehingga segala kegiatan masyarakat bisa ada di sini, mulai dari administrasi maupun seni budaya dan lainnya, dikelola secara digital.

"Kami pasang wifi dengan kapasitas tinggi yang bisa memudahkan akses bagi masyarakat. Biasanya sore hari banyak yang memanfaatkan, termasuk dimanfaatkan untuk promosi potensi desa," katanya.

Kabid Pariwisata Kabupaten Banyuwangi Drs Marhen mengatakan saat ini mereka memiliki program aplikasi pariwisata yang bisa diakses hingga level desa.

"Semua desa dan pihak terkait bisa menggunakan aplikasi tersebut dan men-support pariwisata agar semakin maju dan berkembang," katanya.

Ini sekaligus mendukung target yang ditetapkan  bupati  atau istilahnya indikator kinerja utama.

"Kami ditarget tahun ini kunjungan domestik 5 juta orang. Tahun lalu target kami 4,5 juta dan terealisasi 4,8 juta," jelasnya.

Sedangkan untuk wisatawan asing tahun ini ditarget 100.000 orang dari realisasi tahun lalu 98.000 wisatawan.

"Untuk pelaksanaan program pariwisata, kami menghitung dan ada lembaga survai. Misalnya mana obyek yang yang diminati domestik, mana yang diminati mancanegara. Berapa uang yang berputar. Ini penting untuk kami melakukan perbaikan sekiranya ada hal yang harus dilakukan," katanya.

Berdasarkan hasil survai itu pula diketahui rata-rata uang yang dibelanjakan wisatawan domestik Rp 1,5 juta per orang termasuk untuk menginap, makan dan oleh-oleh. Sedangkan wisatawan asing rata-rata Rp 2,7 juta.

Dengan jumlah wisatawan yang ada diketahui  uang berputar di sektor wisata mencapai Rp 7,7 triliun dan banyak manfaat yang dirasakan masyarakat.

"Kami diberi modal oleh pemerintah daerah hanya Rp 17 miliar, Alhamdulillah bisa menghasilkan uang berputar Rp 7,7 triliun dan memberi dampak langsung ke masyarakat karena mereka terlibat langsung di sektor wisata," kata Marhen.

Selain peran masyarakat dimaksimalkan, stakeholder juga mendukung penuh pengembangan wisata.

"Misalnya saja mengadakan rapat atau pertemuan di Banyuwangi untuk kegiatan-kegiatan di bidang pendidikan, pertanian dan lainnya. Jadi tidak ada ego sektoral, semua satu suara mendukung pariwisata," katanya.

Dengan demikian semua pihak saling bersatu padu untuk mengembangkan wisata di Kabupaten Banyuwangi.

Pemerintah daerah juga terus meningkatkan infrastruktur pendukung yaitu akses dengan dibukanya bandara sehingga lebih cepat jangkauan ke Banyuwangi. Ada juga dukungan hotel dan restoran maupun home stay serta atraksi.

"Setiap malam di alun-alun ada atraksi pada pukul 19:00 hingga 21:00 yang dilaksanakan oleh masyarakat," terang Marhen.

Ada juga kalender event wisata yang hampir seminggu sekali bisa dinikmati, dan sudah ada aplikasi di android yang bisa diunduh siapa pun.

Marhen berkisah, Banyuwangi sendiri awalnya di tahun 1771 merupakan kerajaan wilayah Blambangan. Rajanya bernama Dolah Dikromo dengan Patih Sidopekso beristrikan Dewi Sritanjung.

Karena cantiknya Dewi Sritanjung maka raja memerintah patih berperang dengan harapan patih gugur dan bisa menikahi Sritanjung. Selama ditinggal berperang raja berusaha merayu Sritanjung,namun Sritanjung orangnya setia.

Sebulan kemudian patih kembali dari peperangan dengan gagah berani. Raja kaget dan kemudian menebar fitnah. Kepada patih,raja bercerita Sritanjung merayu dirinya terus selama patih berperang.

Patih yang terbakar amarah  mencari istrinya dan menemukan di sungai. Langsung patih membunuh istrinya dengan keris. Sebelum meninggal  Sritanjung mengatakan apabila tetesan darah  ke sungai menjadikan air keruh maka dirinya bersala.

Jika wangi maka dirinya tidak salah. Ternyata sungai berubah jadi harum (wangi) dan patih berteriak "Banyune Wangi". Sejak itulah nama Blambangan berganti jadi Banyuwangi. (sol)



Selasa, 09 Okt 2018, 12:30:38 WIB Oleh : Sari Wijaya 630 View
Saat Desa Terbalut Nuansa Jawa
Senin, 08 Okt 2018, 12:30:38 WIB Oleh : Nila Jalasutra 193 View
Tombak Kiai Turun Sih Pemberian HB X Dijamas
Minggu, 07 Okt 2018, 12:30:38 WIB Oleh : Arie Giyarto 137 View
Peserta Pawai Kerepotan Saat Melawan Angin

Tuliskan Komentar